Selasa, 14 Juni 2011

Bisa Berbagi dengan Anak Yatim, Akibat Sedekah


Bisa Berbagi dengan Anak Yatim, Akibat Sedekah

Minggu sore itu sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Suasana mulai terasa adem, menggantikan teriknya matahari yang memancar sesiang tadi. Nampaklah segerombolan remaja tengah bersenda gurau di sebuah rumah, di kawasan Depok.

Seorang di antaranya terlihat sedang mencuci mobilnya. Beberapa lainnya duduk-duduk di lantai sambil ngobrol dan berkelakar. Tiba-tiba senda gurau mereka terhenti. Sesosok anak kecil, dengan pakaian kumel dan lusuh sudah memasuki perkarangan rumah itu.
“Minta... Kak... saya minta uang...” sapanya dengan wajah memelas. Pemuda yang sedang mengelap mobil mengalihkan pandangan ke arah teman-temannya.

“Eh, ada yang bawa seribuan, nggak?” tanyanya mendesak.
Semua temannya merogoh kantong dan dompet.
“Nggak ada gue,” jawab seseorang.
“Iya.... gue juga nggak ada, Cek!”
Pemuda yang kerap dipanggil Bucek itu ganti memandang pengemis kecil dan berkata,”Maaf, Dek... lain kali aja, ya...”
Tapi omongannya terhenti ketika Leka, temannya mendadak beranjak dari tempatnya duduk dan memanggil Bucek.

“Apaan?”
“Ini.... kasih ini aja...” kata gadis itu seraya menyerahkan selembar uang lima ribuan.”
Bucek menggeleng, “Nggak usah, eh Man, cari gih di dalam uang seribuan...” serunya pada Arman, temannya yang lain.
“Nggak usah, ini aja lagi....” desak Leka kemudian.
“Kegedean, lagi....” tolak Bucek.
“Nggak apa-apa... gue cuma ada lima ribu uang kecilnya. Gue ikhlas, kok. Kasihan lagi...”

Sementara pengemis kecil itu belum beranjak, ia masih berada di perkarangan, memperhatikan perdebatan sepasang remaja itu.
“Iya gue ngerti, tapi takut kebiasaan dia, nanti ke sini melulu. Belum tentu buat dia, kan ada yang koordinir...” Bucek masih berusaha membujuk Leka.
“Ah, udahlah, Cek. Gue lagi pingin beramal, nih. Biarin deh.”
Tapi karena Bucek tak juga mengambil uang itu dari lengannya. Leka lalu meminjam sendal pemilik rumah dan bergegas ke halaman.
“Ngapain, loh Ka... becek lagi....” tanya teman-temannya. Gadis itu tak menghiraukan panggilan mereka. Segera ia mengejar pengemis kecil yang telah meninggalkan perkerangan itu.
“Dek... sini.... nih, buat kamu...” ia menyerahkan selembar lima ribuan padanya. Pengemis kecil itu menerima dengan senyum ceria.
“Jadi ngasih?” tanya temannya begitu Leka kembali. Gadis itu hanya mengangguk singkat.
“Biarin, kasihan...”

Tak ada hal lain dalam pikirannya selain ingin membantu gadis pengemis itu. Beberapa hari kemudian, Leka berpikir kalau sweet seventeennya semakin dekat. Sesampainya di rumah, ia bertanya pada tentenya.
“Tante... tabungan Leka ada berapa?”
“Emang kenapa?” tantenya balik bertanya.
“Gue cuma ingin tahu. Kan dikit lagi ulang tahun 17. Rencananya gue mau ngerayain sama anak yatim di Jambi nanti.” Jelasnya. Ulang tahunnya memang bertepatan dengan masa kenaikan kelas. Rencananya liburan nanti ia akan pulang kampung.

“Di sini kamu juga ngadain pesta nanti?”
“Pengennya sih... kalau duitnya cukup. Makanya gue mau itung-itungan. Tabungan gue di Tante berapa?”
Akhirnya mereka berhitung,”Ka... tabungan kamu kan 400 ribu. Nah, selain itu kamu dapat sangu 500 ribu dari Mbak Ven di Batam.” Jelas tantenya, menyebutkan nama tante yang lain, yang tinggal di Batam dan termasuk orang kaya.

Mata Leka bersinar, “Beneran? Berarti uang gue ada...” ia berhitung lagi.
“Tapi masih kurang kalau mau ngadain pesta di sini juga.” Keluhnya.
“Ka... sekarang kamu prioritaskan aja deh, kamu ngejar pahala atau duniawi aja. 17 tahun nggak selalu harus pesta kan?”
Leka masih menerawang. “Kalau gue minta tambahan lagi sama Tante Ven di Batam gimana, ya? Kan untuk merayakan sama anak yatim. Niat gue ada empat nih...” ia lalu menjabarkan keempat niat baiknya.
“Coba, aja....” kata tantenya lagi.

Takut-takut Leka mencoba mengirim sms pada tantenya di Batam. Alhamdulillah sang tante bersedia menambahi lagi satu juta.
“Alhamdulillah.... ah gue pesta di Jambi aja ama anak yatim, di Depok nggak usah,” putusnya kemudian.

Dua minggu kemudian, sekembalinya dari Jambi, gadis remaja itu berbagi cerita kalau ulang tahunnya sukses. Mengundang sekitar 50 anak yatim dan juga teman dan kerabat dekatnya.

“Alhamdulillah sukses, sampe rumah nggak muat.” Jelasnya ceria. Kemudian ia berkisah lagi. Akibat menyenangkan anak yatim itu, ia mendapat uang 500 ribu dari seorang kaya di kampungnya, yang merupakan teman dekat ayahnya.
“Ka nggak nyangka, padahal baru ketemu. Eh dapat 500 ribu.”

Gara-gara sedekah 5000, remaja itu mendapat ganti sebesar satu setengah juta rupiah dalam beberapa hari. Uang itu dipergunakannya untuk merayakan ulang tahun bersama anak yatim. Selanjutnya ia mendapatkan bonus sebesar 500 ribu lagi. Leka meyakini sedekah memang mampu memancing rezekinya.

Ketika Tsunami Datang...


Ketika Tsunami Datang...
Pagi itu, Fahmi tengah duduk santai di rumahnya. Menikmati udara pagi yang sejuk dan menikmati secangkir teh dan roti yang telah disediakan istrinya. Maklum saja ia sedang menganggur sehabis keluar dari tempatnya kerja dulu. Jadi ia bisa menikmati hari-hari di rumahnya, meski pusing juga memikirkan nafkah bagi istri dan dua anaknya yang masih kecil-kecil.
“Belum ada order motret lagi, Pa? Atau kerjaan?” istrinya bertanya hati-hati.

Fahmi hanya menggeleng. Tabungannya mulai menipis. Ia harus mencari kerjaan kalau asap dapurnya mau ngebul, apalagi... ia masih tinggal di rumah mertuanya.... malu rasanya.

Istrinya kembali ke dalam dan menyalakan televisi, saat itulah berita yang menyentak terpampang.

“Pa... lihat deh, sini!” panggil istrinya. Malas-malasan Fahmi bangkit dan menghampiri istrinya.

“Apaan, sih?”

“Tuh, lihat aja.” Istrinya menunjuk televisi. Pandangan Fahmi beralih ke teve dan...

“Astaghfirullah....” desisnya berkali-kali. Bencana tsunami telah menghadang Aceh dan sekitarnya, bahkan menjadi bencana dunia.

“Ya ampun, bukan cuma Indonesia, ya...” istrinya menggeleng-gelengkan kepala.

“Lihat tuh, ya Allah... ombaknya tinggi banget, ya Allah...” masih kata istrinya. Fahmi tak bersuara. Tatapan matanya nanar dan mulai berkaca-kaca.

Lihatlah para manusia tak berdaya itu, mereka berupaya menyelamatkan diri dari terjangan tsunami, memanjat pohon, bertengger di atap, tergulung ombak. Lihatlah ribuan mayat yang hancur dan tak dikenal itu. Benar-benar Maha Besar Allah yang bisa melakukan semua ini. Benar-benar manusia tak bisa menolak kuasaNya.

Aceh hancur, hanya masjid yang maish berdiri tegak. Lihatlah Serambi Mekkah itu, lihatlah kota yang dikenal religius itu. Kini porak-poranda. Mengapa Aceh ya Allah, mengapa? Kasihan mereka. Fahmi tak habis pikir.

Namun, sejurus kemudian ia beristighfar... pasti ada skenario tertentu yang dibuat Allah dibalik bencana ini. Allah menjadikan sesuatu bukan tanpa sebab.

Fahmi mengusap perlahan titik air mata yang mulai menganak sungai di pipinya.

“Kita beri bantuan yuk buat mereka,” katanya kemudian pada istrinya.

“Iya, berapa?”

“Sekarang kita kumpulin aja dulu pakaian layak pakai, yuk!” mereka berdua beraksi. Kemudian Fahmi mengambil sejumlah uang simpanannya.

“Pa... nggak kebanyakan? Nanti kita gimana?” istrinya mengingatkan.

“Udahlah, Ma, mereka lebih butuh dari kita. Cobaan yang kita hadapi sekarang nggak ada artinya dibandingkan kesusahan mereka, nanti pasti ada rezeki buat kita. Yakin aja, deh,” hibur Fahmi.

Istrinya mengalah. Memang jumlah uang yang mereka sumbangkan tak sampai 500 ribu rupiah, namun terasa juga karena Fahmi masih menganggur. Tapi mereka ikhlas membantu saudara mereka yang kesusahan di tanah rencong sana.

Melalui sebuah yayasan, mereka menyalurkan bantuan itu. Kemudian Fahmi dan keluarganya setia mantengi televisi untuk melihat perkembangan situasi di Aceh.

Suatu hari, saat Fahmi sedang di depan tv, telepon rumahnya berbunyi.

“Assalamu’alaikum...” sapanya ramah.

“Wa’alaikum salam, Fahmi, ya?” sahut suara di ujung sana.

“Fah, selamat ya.... foto ente menang juara harapan.”

“Alhamdulillah... yang bener, lo?” Fahmi tidak percaya.

“Bener. Hadiahnya dua juta!”

Mendengar berita itu tak urung Fahmi langsung sujud syukur. Kemudian ia mengabarkan berita gembira itu pada istrinya.

“Ma, Alhamdulillah, foto yang Papa ikutin lomba jadi juara harapan. Hadiahnya dua juta...”

Ia memeluk erat istrinya, “Betul kan Papa bilang. Kalau udah rezeki nggak bakalan ke mana, deh...”

Rupanya, Allah masih menyimpan kejutan lain buat mereka. Beberapa hari kemudian, kembali telepon rumahnya berdering, “Ya hallo... Assalamu’alaikum?” sapa Fahmi lagi.

“Fah... masih nganggur lo?” tanya temannya di ujung sana.

“Ya... gitu deh, kenapa? Ada gawean?” Fahmi bertanya penuh harap.

“Bukan gawean sih, ada order motret kawinan, buat kita berdua, lumayan 7 juta, bo! Mau nggak?”

“Pake nanya lagi, ya mau dong!” Fahmi tertawa senang. Kembali ia sujud syukur dan mengabarkan berita itu pada istrinya.

“Alhamdulillah....ya Pa... Allah baik banget.”

“Makanya... Papa bilang juga apa, nggak usah takut nyumbang agak banyak buat Aceh kemarin...”

Mereka berdua bertatapan penuh makna.

Sedekah tanpa menunggu diri ini ikhlas terlebih dahulu.


Sedekah tanpa menunggu diri ini ikhlas terlebih dahulu...kalau blm ikhlas juga...sedekah saja lagi..
Sedekah tanpa menunggu diri ini ikhlas terlebih dahulu.

Pagi itu, setelah kembali dari shalat Subuh di Mushalla dekat rumahnya, Pak Shannif ingin sekali bersilaturrahim ke kantor sahabatnya yang lama tak ditemuinya. Setelah mandi dan berpakaian, dia pun memanaskan mobilnya sambil menikmati secangkir kopi yang telah disiapkan oleh istrinya.

Ketika semuanya telah siap, Pak Shannif yang kala itu sehari-hari bekerja di sebuah bank swasta, meraih tas kerjanya lalu melangkah menuju mobilnya. Sebelum naik mobil, tak lupa ia menyiapkan uang pecahan Rp. 5.000, untuk diinfakkan pagi itu kepada siapa saja yang ditemuinya di jalan atau di lampu merah, mengingat di Jakarta ini tak susah untuk mencari orang miskin yang butuh bantuan.

Mobil Pak Shannif terus melaju dari arah Cipayung, di mana ia tinggal bersama istri dan kedua orang anaknya. Saat tiba di lampu merah perempatan Taman Mini – Pondok Gede (sekarang dikenal dengan lampu merah Tamini Square), Pak Shannif melihat sosok seorang ibu tua dengan penampilan yang tak ubahnya seperti pengemis. Saat ibu tua itu mendekat, Pak Shannif langsung membuka kaca mobilnya sembari mengeluarkan dari kantong bajunya uang pecahan Rp 5.000 lalu menyerahkannya kepada ibu tua tadi.

Ibu tua yang telah menerima uang itu berdiri sejenak dengan mulut yang komat-kamit, entah apa yang dikatakannya, bisa jadi ia sedang mendoakannya. Apalagi bila dilihat dari jumlah uang yang barusan diterimanya, uang Rp 5.000 pada tahun 1995, tergolong besar.

”Saya ikhlas melakukannya benar-benar kerena Allah SWT, tanpa berharap apa-apa darinya,” ucap Pak Shannif. ”Karena saya yakin, jika kita melakukan kebaikan, pasti Allah akan balas, Dia tidak akan pernah ingkar janji,” imbuhnya saat menceritakan hal ini kepada saya.

Lampu hijau menyala. Pak Shannif pun melanjutkan perjalanannya dengan melalui jalan tol arah Cawang, menuju Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Sepanjang perjalanan Pak Shannif merasakan kedamaian yang luar biasa. Rasa itu bahkan berlangsung hingga berhari-hari.

Beberapa puluh menit kemudian, Pak Shannif pun tiba di kantor sahabatnya yang terletak di bilangan Jalan Thamrin. Ia tiba lebih dulu dibanding sahabat yang akan ditemuinya.

Pak Shannif duduk di ruang tunggu. Selang beberapa menit kemudian, sahabat yang ditunggunya datang. ”Hei, apa kabar?” sapa sahabatnya penuh hangat. ”Baik, alhamdulillah,” jawab Pak Shannif.

Obrolan antara dua sahabat yang lama tak bertemu berlangsung penuh akrab dan hangat. Canda dan tawa sesekali mengiringi obrolan mereka berdua. ”Oke Mas, saya udak kelamaan nih, saya pamit dulu ya,” ujar Pak Shannif saat sadar bahwa ia telah lama menyita waktu sahabatnya. Apalagi ia juga harus masuk kantor.

Suatu hal yang tak pernah diduga sebelumnya, saat Pak Shannif beranjak meninggalkan ruangan, sahabatnya itu menyodorkan sebuah amlop yang kelihatannya cukup tebal. ”Apa ini?” tanya Pak Shannif? ”Ini mas, ada sedikit rezeki, mohon diterima,” jawab sahabatnya singkat.

Pagi itu, Pak Shannif benar-benar tak menduga dirinya bakal mendapat amplop, tebal lagi. Niat kedatangannya benar-benar hanya karena ingin silaturrahim dengan sahabat lamanya itu. Terima kasih, Mas...,” ucap Pak Shannif atas pemberian tersebut. ”Salam buat keluarga,” imbuhnya.

Setelah sampai di mobilnya, Pak Shannif yang masih dalam keadaan “shock” setelah menerima rezeki nomplok, membuka amplop tersebut. Ternyata isinya cukup besar, satu juta rupiah! Sebuah angka yang cukup besar kala itu. ”Jumlah itu setara dengan jumlah beasiswa saya selama dua tahun, Pak, saat kuliah,” ujarku menanggapi jumlah rezeki nomplok tersebut.

Demikianlah Allah SWT memberikan balasan bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beramal. Dia berjanji akan membalas setiap kebaikan hamba-Nya, bahkan hingga ratusan kali lipat, tanpa menzhaliminya sedikit pun. ”Berinfaklah, niscaya Aku pun berinfak kepadamu,” firman Allah SWT dalam hadits qudsi. Pak Shannif telah membuktikannya; dalam dua jam, ia mendapatkan balasan 200 kali lipat atas keikhlasannya.

Rasulullah saw juga mengungkapkan bahwa, ”Apabila seorang hamba memasuki waktu pagi, ia disertai oleh dua malaikat yang mendoakannya. Malaikat pertama berdoa, ’Ya Allah, berikanlah balasan bagi orang yang berinfak’, sedang malaikat yang kedua berdoa, ’Ya Allah, berikanlah kehilangan (kahancuran) pada orang yang tak berinfak.’” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra)

Pada hadist lain Rasulullah saw bersabda, ”Siapa yang senang rezekinya dilapangkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menjalin silaturrahim.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik ra.)

Raihlah doa baik malaikat dengan membiasakan diri mengawali aktifitas harian kita dengan berinfak di pagi hari dan jalinlah silaturrahim Lakukanlah kebaikan sebanyak mungkin, ikhlas karena Allah SWT, lalu tawakkallah, dan rasakan manfaatnya.

Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba yang gemar melakukan kebaikan dan menebarkan manfaat. Amin... allahumma amin.***

Sedekahmu Pasti Berbalas!


Sedekahmu Pasti Berbalas!

Pantai Nusa Dua Bali, pada suatu sore.

Kami sedang bokek berat. Ups, nggak bokek banget sebenarnya! Hanya saja, uang yang ada telah kami alokasikan untuk membayar sejumlah tagihan dan kebutuhan lain. Jadi, terpaksa bekal piknik kami sore itu hanyalah sehelai tikar dan beberapa botol air putih.
Padahal, mestinya bekal utama keluarga yang sedang piknik adalah setumpuk makanan kecil. Karena saat bersenang-senang tak lengkap rasanya tanpa camilan. Tapi, ya itu tadi. Keadaanlah yang mengharuskan kami lebih menahan diri.

Setelah menemukan tempat yang nyaman, kami menggelar tikar dan duduk santai. Tak berapa lama, seorang bapak, kira-kira tak jauh usianya dari suamiku, muncul dari kejauhan tepi pantai. Tersenyum ramah ia mengucap salam, hangat dan akrab menyalami tangan suamiku. Ia menenteng sesuatu terbungkus kresek putih, yang langsung diletakkannya di atas tikar kami. “Silahkan Pak, Bu,” ujarnya ramah. Sudah pasti itu isinya makanan. Tapi aku dan suami hanya senyum-senyum, mengira ia cuma basa-basi.

Setelah bercakap-cakap sebentar dengan suamiku, bapak itu lantas pamit hendak kembali ke tempat keluarganya duduk-duduk bersama.

“Lho, Pak, itu kok nggak dibawa?” tanya suamiku sambil menunjuk tas kresek beserta isinya yang teronggok di atas tikar.

“Nggak, Pak. Silahkan dinikmati …” katanya santai sambil melenggang pergi.

Aku dan suamiku saling berpandangan, sampai nyaris lupa mengucapkan terima kasih pada bapak yang baru pertama kali kami jumpa itu.

Kubuka tas kresek itu dan melongo melihat isinya. Serenteng kacang atom, sebungkus kacang rebus, beberapa biji apel dan belimbing, dua buah teh kotak ukuran jumbo, biskuit, wafer, dan entah apa lagi! Rasanya, belum pernah kami piknik membawa bekal sebanyak ini!

Sungguh rezeki tak terduga, karena baru beberapa menit sebelumnya aku memandang ombak di kejauhan dengan sedih (lebay mode on :-)) sambil membayangkan alangkah nikmatnya jika ada sedikit makanan kecil yang memeriahkan piknik kami sore itu.

Aku menoleh terharu ke arah bapak yang baik hati itu, yang kini tengah asyik bercengkrama di kejauhan dengan istri dan anaknya. Dari obrolan sekilas tadi dengan suamiku, kuketahui pekerjaannya adalah berdagang. Ia membuka warung di Pasar Kuta. Kubayangkan, tentu hidupnya sangat sederhana. Apa yang mendorongnya memberi makanan begini banyak pada orang yang sama sekali tak dikenalnya?

Aku yakin, semua ini tak mungkin terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Aku teringat pada buku yang pernah kubaca. Karya Yusuf Mansur, “The Miracle of Giving” judulnya. Pada salah satu bagiannya, sang ustadz sedekah mencontohkan sesuatu terkait sedekah dan hikmahnya.

Seseorang, saat Jumatan, mengeluarkan uang seribu rupiah untuk dimasukkan ke kotak infak. Sepulang dari jumatan, orang tersebut makan di warung dan “kebetulan” bertemu dengan temannya. Tanpa diduga, si teman membayarinya makan siang seharga Rp 10.000.

Andai orang itu “kurang berilmu”, tentu ia menganggap pertemuan dengan si teman hanyalah kebetulan belaka. Sebaliknya, jika ia jeli dan “cukup berilmu”, maka ia kontan menyadari bahwa rezekinya siang itu (dibayari makan siang) tentu disebabkan sedekah Rp 1000-nya. Bukankah Allah membalas kebaikan kita 10-700 kali lipat (ada dalam Al Quran). Maka, menyadari hal itu, ia akan semakin bersyukur dan bertekad menambah kembali sedekahnya.

Dan kisah yang dituturkan Yusuf Mansur di atas sebenarnya masih memiliki celah untuk dibantah. Apanya yang aneh? Bukankah wajar seorang teman mentraktir temannya makan? Tapi apa yang saya alami, sebenarnya lebih “nggak masuk akal”. Karena kami sama sekali tak kenal dengan bapak yang memberi kami makanan itu. Teman bukan, saudara bukan. Jadi, mau beralasan apa lagi jika rezeki yang kami dapat sore itu hanyalah sebuah kebetulan?

Ini tentu buah dari sedekah kami, entah yang mana. Seperti pernah ditulis seorang sahabat dalam note Facebooknya, “Mana mungkin Tuhan lupa membalas?” Mungkin ini balasan atas kengototan suamiku menyajikan hidangan terbaik saat rumah kami mendapat giliran tempat taklim, padahal keuangan kami saat itu tengah pas-pasan. Atau kebaikan kecil lain yang pernah kami lakukan, dan telah kami lupakan saking kecilnya, entahlah!

( Oleh: Bunda Raihan )

Sedekah Meringankan takdir

 Sedekah Meringankan takdir

Sedekah Meringankan takdir
 “Good morning, Pak Gland, what’d happened with your neck?” sapaku pada Bosku yang pagi itu datang dengan kondisi berbalut penyangga leher; yang disambut Bosku dengan cerita panjang lebar penyebab balutan dilehernya, bagaimana saat liburan akhir minggu disuatu daerah pariwisata, ternyata motor yang ditumpangi bersama rekannya, terpelanting ditikungan dan terseret di jalanan berpasir dan akibat peristiwa itu, salah urat pada leher membuatnya sulit untuk digerakkan dan harus dirawat dua hari dirumah sakit tempatnya berlibur.

Saat ia bercerita, aku teringat anak kami yang sedang melanjutkan kuliahnya didaerah yang sama, yang juga mengendarai motor sebagai alat transportasinya; yah, hanya do’a kami sebagai orang tua yang selalu kami panjatkan kepada Alloh SWT agar anak kami selalu selamat dalam lindunganNya dan dijauhi dari segala musibah.

Jam-jam sibuk hari itupun berlalu, sambil beranjak pulang aku lantunkan dalam hati do’a-do’a kepada Alloh, mohon perlindunganNya; do’a itu berlanjut saat bus yang kutumpangi dari arah belakang bergerak lambat, beriringan dengan kendaraan lainnya, karena jam yang sama, semua orang berpacu menuju ketempat tinggal masing-masing.

Walau bus penuh penumpang, Alhamdulillah, Alloh berikan aku rizki tempat duduk untuk melepas lelah; saat itu posisi dudukku berada di deretan belakang, maka dengan leluasa aku dapat melihat apa yang terjadi di depanku; Diantara penumpang yang kuperhatikan, ada dua anak yang terlihat seperti kakak-beradik berdiri tidak jauh dari tempatku duduk; si adik dengan posisi jongkok sepertinya sedang menahan rasa sakit diperutnya, sedangkan sang kakak berdiri disebelahnya seolah tidak begitu peduli dengan kondisi si adik.

Sekian menit bus berjalan, aku perhatikan kondisi si adik semakin meringis,pucat, menahan sakit; membuat hati ini tergugah, maka dengan tidak mempedulikan reaksi penumpang lain, aku bertanya “Adik sakit perut ya?”.. ternyata menjawab si kakak “iya tuh Bu, mules, masuk angin barangkali”..

Tanpa berfikir panjang, dengan cepat aku cari uang duapuluh ribuan yang sudah aku bayangkan dan niatkan untuk aku berikan pada mereka sejak tadi, lantas aku ulurkan pada si kakak “kalau nanti sampai, bisa tolong belikan obat masuk angin dan makanan untuk adikmu”, sang kakak dengan sigap mengiyakan.

Setibanya bus diterminal, dengan tergesa-gesa semua penumpang berhamburan keluar, begitu juga dengan kedua kakak-beradik tersebut; kuperhatikan dari jauh bagaimana si adik langsung menuju ke wc umum, sedang si kakak ke arah pedagang; sedangkan aku, melanjutkan langkahku mencari kendaraan umum yang akan membawaku menuju rumah; saat itu jam menunjukkan pukul 16.30, dan entah mengapa, saat berada dalam kendaraan tersebut, tiba-tiba airmata ini bercucuran tanpa bisa dicegah, saat itu, terbayang anak-anak kami –yang sepertinya- usianya tidak jauh berbeda dengan kakak beradik yang aku temui tadi; bedanya anak bungsuku dirumah, sedang sang kakak jauh di daerah.

Akhirnya, alhamdulillah, sampailah aku dirumah, dengan mengucap salam, aku masuki rumah, kupeluk si bungsu, kemudian kulanjutkan dengan aktifitasku sebagai ibu rumah tangga. Selang beberapa menit sebelum adzan maghrib, telpon rumahku berdering, aku fikir, mungkin dari suamiku yang akan minta izin akan pulang setelah sholat maghrib di kantornya; ternyata dari seberang sana terdengar suara tersendat-sendat “Bunda,…a..a.. aku.. ba..ru..ja..tuh..dari motor…ta..pi..ga’..papa..koq’..” wah!...itu suara si sulung,anak kami, merintih seperti menahan sakit; dengan paniknya aku menjawab..”Mas, bagaimana kondisinya, dimana jatuhnya.., apa yang sakit, nak”…dg perlahan anakku menjawab “Bunda.. ga’ usah panik, aku sudah ditolong temanku dibawa ke dokter, alhamdulillah ..Cuma mata kakiku yang lecet, motorku terpeleset ditikungan jalan yang banyak pasirnya”…
Subhanalloh…
Silih berganti terbayang dibenakku, bagaimana peristiwa yang menimpa bosku dengan kondisi yang sama dan terbayang juga kondisi kakak beradik di bus sore ini..

Airmata ini berurai tak terbendung…cepat-cepat aku tanyakan “jam berapa kejadiannya, anakku?”…”kira2 jam 17.30-an tadi, Bun” ujar anakku..

MasyaAlloh, dengan selisih perbedaan waktu setempat, ternyata takdir anakku jatuh dari motor berlaku di jam yang sama dengan linangan airmata ibunya dikendaraan umum tadi.
Subhanalloh..

Dengan penuh kasih sayang seorang ibu, aku besarkan hatinya untuk selalu tegar dan menyuruhnya istirahat, minum obat, sambil mengingatkannya untuk selalu dekat dan berkomunikasi kepada Alloh dengan menjalankan segala perintahNya, do’a orang tua akan selalu mengiringi..”

Malam itu, setelah semua kejadian dan hubungannya dengan sedekah yang diberikan dengan ketulusan hati membuahkan lebih ringannya akibat dari musibah yang Alloh takdirkan pada anak kami, aku ceritakan kepada suami dan si bungsu; dengan bersama-sama kami panjatkan do’a syukur kepada Alloh karena hanya dengan rahmat Alloh SWT anak kami Alhamdulillah sehat, selamat.

Matematika Gaji dan Logika Sedekah


Matematika Gaji dan Logika Sedekah
Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.

Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi,saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.
Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."

"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"

"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."

"Kenyataannya memang begitu kan Mas?" kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.
"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"

"Tidak ada. Habis." jawab saya spontan.

"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

"Mas, bagaimana bisa? Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis." saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran do’a keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

"Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?".

"Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona'ah, ridha dan syukur".

Saya semakin tertegun Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

Sedekah Doa Adik Pada Kakaknya

Sedekah Doa Adik Pada Kakaknya
Dua laki-laki bersaudara bekerja di sebuah pabrik kecap dan sama-sama belajar agama islam untuk sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka berjalan kaki mengaji kerumah gurunya yang jaraknya sekitar 10 KM dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo'a memohon rezeki untuk membeli sebuah Mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja.

Lalu sang kakak berdo'a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik perangai.

Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo'a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do'anya itu.

Sementara itu sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya seringkali sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, dan sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya, dan dia teringat adiknya selalu membaca selembar kertas apabila dia berdo'a menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo'a. lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo'a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do'a-do'anya tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.

Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do'anya tak pernah terkabul.

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do'a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do'a untuk guru mereka, do'a selamat dan ada kalimah di akhir do'anya:

"Yaa, Allah… tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu… Ampunilah aku dan kakakku… Kabulkanlah segala do'a kakakku… Bersihkanlah hatiku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku didunia dan akhirat."

Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyana ternyata adiknya tak pernah satu kali pun berdo'a untuk memenuhi nafsu duniawinya.a

Sedekah Nenek Pemungut Daun


Sedekah Nenek Pemungut Daun

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid
.Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapu sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.” Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat:

Pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; Kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.“

Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura yang bernama Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah SAW?

( Oleh : Syrief Nur )