Jumat, 22 Juli 2011

Sedekah,sedekah dan lagi-lagi sedekah

Sedekah,sedekah dan lagi-lagi sedekah
Mohon maaf kalau judulnya agak gimana tetapi memang ini kisah nyata yang dialami keajaiban bersumber dari sedekah.Begini kisahnya :
hari itu aku sedih bukan kepalang,air mataku mengalir tak terbendung,sesekali aku harus berenti di dalam perjalannku pulang menuju asrama karena menghapus air mataku,beberapa orang memndang aneh kepadaku, aku tak perduli.. hati ku pilu.. bagaimana tidak aku mendengar kabar dari indonesia bahwa ibu ku baru saja keluar dari UGD karena sakit maag kronis yang di idap nya kembali kambuh,,

memang ibu ku mengidap sakit maag akut,tapi tak pernah separah ini hingga beliau masuk ke ruang UGD ssampai 2 kali, ayah ku sampai menangis karena ketakutan melihat ibu ku seperti orang yang sedang di jemput maut..sakit tak tertahan kan..

hati ku pilu karena aku tak bisa melakukan apapun disini.. jarak puluhan ribu kilometer memisahkan ku dengan ibu..

“ya Allah.. Engkau maha dekat… serta aku sedang jauh.. Ya Allah.. aku tak bisa melakukan apapun untuk ibu ku karena jauh nya jarak kami.. hanya doa lah yang bisa aku panjatkan kepadamu.. “

hanya doa yang mampu aku panjatkan sepanjang jalan menuju pergantian bis di pasar sentarl tempat dimana aku melewati nya setiap hari, entahlah.. di pojok lorong penyebarangan jalan aku melihat dua orang pengemis yang tidak biasa nya mangkal di pasar sentral.

2 orang kakek kakek, yang 1 nya tanpa kaki dan yang satu nya berdiri di samping nya sambil memberikannya 1 gelas teh panas.. maklum udara sedang dingin, 2 orang pengemis sedang kedinginan meskipun air mata ku terus menggenang di pelupuk mataku karena kesedihan ku yang mendalam,tetapi pemandangan 2 orang pengemis tersebut tak luput dari sorotan ku..

seakan-akan kaki ku ada yang mengarahkan ke arah 2 orang pengemis tadi.. semua logika ku lumpuh melihat kesengsaraan hidup mereka berdua..

1 lembar uang jatahku bulan ini kuberikan kepada seorang pengemis yang tak berkaki,tapi sayang.. karena aku tak tepat memberinya maka uang tersebut jatuh,pengemis yang satu nya lagi yang sedang berdiri di samping nya membantunya mengambilkannya.
subbhanallah..

seakan akan allah memberiku pelajaran baru, pemandangan ini membuat ku tersadar.. betapa seorang pengemispun yang hidup nya susah seperti beliau ini tidak merasa iri ketika aku memberi hanya seorang di antara mereka,dan tidak berusaha pergi dengan membawa uang yang bukan hak nya tersebut, melihat hal itu tidak adil rasa nya jika aku hanya memberi seorang sedang yang seorang lagi memiliki sifat yang sangat lapang itu.

kurogoh kembali kantong ku dengan cepat.. ku ambil sisa 1 lembar terakhir uang saku ku untuk bulan ini untuk pengemis yang 1 nya lagi.

dengan terheran mereka berdua tersenyum serta mendoakan ku

“semoga Tuhan memberimu keselamatan dan kesehatan”

doa yang terdengar lantang dan tulus.. dalam hati aku berdoa kepada Allah “Ya Rabb.. sedekah ini aku berikan untuk kesembuhan ibu ku! jagalah kesehatan nya.. demi kasih sayang Mu Ya Rabb.. ampuni aku dengan segala keterbatasan ku.. aku tau Engkau maha dekat.. penggenggam seluruh alam semesta..Engkau yang memberikan penyakit maka kepadaMu lah aku memohon kesembuhan untuk iBuku..amin”

air mata ku terus berlinang sepanjang perjalanan.. aku berharap ibu akan segera sembuh.. aku tak perduli jika 2 minggu kedepan aku lalui tanpa sepeser uang pun.. karena kesembuhan ibu ku lah yang terutama.

** kejadian ini telah berlalu 4 bulan,alhamdullillah sampai detik ini.. ibu sudah segar kembali.. meskipun tetap menjalankan ikhtiar.. untuk tidak melanggar pantangan yang di beri dokter. dan sakitnya beralih kesembuhan.

*** cerita ini di maksud kan untuk memberikan sebuah hikmah dari keajaiban sedekah yang insyallah di niatkan tulus.. aku tak bermaksud pamer atau riya,tetapi mudah-mudahan kita semua bisa memetik hikmah nya..
amin

( Oleh : Dinda Hidayanti )

Tukang Bubur Naik Haji

Tukang Bubur Naik Haji
Ini kisah nyata Sulam, seorang penjual bubur, yang ingin memberangkatkan emaknya pergi haji. Orang lain, termasuk istrinya, mengingatkan Sulam, haji itu bagi yang mampu. Sementara penghasilan tukang bubur itu
paling buat makan sehari-hari. Jadi, dari mana uang untuk berangkat haji. ”Insya Allah, Mak. Sulam mohon doa Emak. Kalau doa Emak makbul, Emak pasti naik haji,” janji Sulam.

Didorong keinginan yang kuat untuk memberangkatkan haji Emaknya, Sulam bekerja keras. Tidak lupa, ia menyisihkan sebagian penghasilan di bank. Melihat keinginannya pergi haji, seorang temannya menempel nama Bubur Ayam H. Sulam di gerobaknya. Sulam pun bersedekah, termasuk memberi makan bubur kepada anak-anak yang tinggal di rumah yatim. Kepada pengurus yayasan rumah yatim, Sulam dan keluarganya minta didoakan pergi haji.


Seperti biasa, Sulam menyetor uang ke bank. Ketika sampai di bank, petugas memberitahukan bahwa Sulam menjadi pemenang sedan mewah. Karena Sulam bengong, si petugas mengatakan sedannya bisa dijual dan dapat digunakan untuk pergi haji. ”Berapa orang?” tanya Sulam. ”Satu RT”.


Pulang ke rumah, Emak dan istri Sulam bingung dan khawatir karena Sulam seperti orang linglung. ”Maafin Emak kalau keinginan Emak membuat Sulam jadi tidak waras.” Ketika sadar, Sulam mengatakan ia bersama emak, istri, teman, dan pengurus rumah yatim diajak pergi haji. Kali ini, gantian si Emak yang pingsan.


Kalau kita punya masalah, kalau kita punya keinginan, maka tidak ada satu pun yang bisa menolong kita, kecuali Allah. Termasuk keinginan Emak si tukang bubur dan keinginan tukang bubur. Tidak ada yang bisa menolak, kecuali Allah. Dan apa yang terjadi kalau Allah sudah berkenan menolong seseorang? Allah akan mengatur dari langit, sehingga sesuatu yang menurut orang tidak mungkin terjadi, malah terjadi.

Tentu si tukang bubur dan ibunya mendapat keberkahan dari Allah. Sebenarnya bukan tanpa sebab, tapi ada amal-amal yang mereka lakukan, yang kemudian membuat Allah mengeluarkan putusan terbaik buat mereka. Si Ibu punya niat yang sangat kuat, rindu untuk berkunjung ke Baitullah, mencium Hajar Aswad, dan menyempurnakan rukun Islam. Kemudian si anak mahabah kepada orang tua, ingin menyenangkan orang tuanya, lalu dia berusaha dan menabung sebisa dia.


Si tukang bubur percaya seseorang yang berniat baik, Allah akan menyempurnakannya. Kedua, dia berniat menabung untuk ibunya yang ber¬niat haji dan Allah kemudian menyempurnakannya. Ketiga, ia bersedekah karena sedekah bisa menghantarkan seseorang mencapai keinginannya.

Sedekah Motor Naik Haji

Sedekah Motor Naik Haji
Seorang kyai, guru sedekah saya, bercerita ada guru agama yang tahu Allah itu maha membalas. Dia datang, lalu mengatakan
ia berniat sekali naik haji. Ia memakai teori siapa yang memberi satu dibalas Allah sepuluh kali lipat. Ada uang Rp 2 juta yang disiapkan di atas meja. ”Kyai ini sedekah saya, mudah-mudahan saya bisa naik haji,” kata si guru agama.

Kyai tahu guru agama yang gajinya tidak seberapa, kemudian mengem¬balikan uang itu. ”Tidak usah Ustad, pergi haji kan bagi yang mampu.” Apa kata Ustad? ”Jangan Kyai. Kalau pergi haji menunggu mampu, kapan pergi hajinya?” Ini menarik karena yang sudah mampu pun belum tentu berniat haji.

Demi mendengar itu, Kyai mendoakan semoga Allah akan menepati janjinya, siapa yang memberi satu akan dibalas sepuluh kali lipat. Saat itu biaya haji sekitar Rp 17,5 juta. Tidak lama, sang guru membawa uang lagi. Kalau kemarin Rp 2 juta, sekarang bawa Rp 4 juta dan diberikan lagi kepada Kyai tersebut untuk kepentingan umat. Kali ini tergelitik Si Kyai untuk bertanya, ”Dari mana uang dua juta rupiah yang dulu dan empat juta rupiah yang sekarang?”. Berceritalah guru agama bahwa dia menjual motor satu-satunya agar dia bisa bersedekah.

Masya Allah, motor dijual seharga Rp 6 juta dan Rp 6 juta itu di-hadiahkan semua kepada Allah lewat Kyai tersebut. Guru agama berharap Allah bermurah hati tidak sekadar memberangkatkan haji dia, tapi juga memberangkatkan ibu dan istrinya.

Tiga minggu kemudian, Allah kasih guru kepalanya sakit, sehingga tidak bisa mengajar. Setelah ijin tidak mengajar, sakit kepalanya sembuh. Ketika sembuh, ia ingin diajak orang bicara. Keluarlah ia dari rumah menuju ke depan gang. Ia bertemu dengan pemilik warung dan berharap menjadi teman ngobrol. Alih-alih bicara dengan temannya yang punya warung, ia malah disuruh jaga warung. Kalau bukan karena kehendak Allah, bukan begini kejadiannya. Ada rahasia apa di balik semua peristiwa yang sebenarnya Allah mengatur.

Jadi ketika si guru agama dibuat sakit, Allah ingin mengatakan kepada dia, jangan ke mana-mana karena akan ada rezeki yang datang. Allah bikin dia keluar karena rezeki bukan datang dari rumah dia, melainkan datang di warung tersebut. Allah Maha Tahu kalau si pemilik warung tidak dibuat pergi, maka rezeki yang datang itu milik si pemilik warung. Karena melihat si guru agama bisa dipercaya jaga warungnya, ia pergi sebentar.

Pada saat si guru sakit, itulah the golden moment-nya hadir. Ada seorang pengendara mobil berhenti, turun, lalu bertanya. ”Pak, tanah yang di depan warung ini milik siapa, Bapak tahu?” Si guru agama pun memberi tahu pak haji pemilik tanah itu dan alamat rumahnya. Orang itu berterima kasih. Ternyata, itulah sumber uang si guru agama untuk berangkat haji.

Beberapa hari setelah itu, si pengendara mobil datang lagi. Ia melihat yang jaga warung bukan yang kemarin. Lalu, ia bertanya penjaga warung yang kemarin. Rupanya si pemilik warung sudah lupa karena silih berganti yang menjaga. Namun, ia ingat dan menunjukkan rumah si guru yang pernah menjaga warungnya.

Ketika sampai di rumah guru, si pengendara mobil tanpa basa-basi mengucapkan terima kasih dan mengatakan. ”Terima kasih tanah itu sudah saya beli dan sesuai dengan harga saya. Saya sudah janji kepada Tuhan, kalau tanah itu terbeli dengan harga saya, maka orang yang saya tanya akan saya jadikan calonya. Pak, ini mohon diterima dari saya.” Cek tunai, tipis, tapi nilainya Rp 67 juta. Enam juta kali 10 lipat dan motor kembali seharga Rp 7 juta!

Baju Bola Seharga 6 Juta

Baju Bola Seharga 6 Juta
awal ceritanya saya liat One Stop Football. Di akhir acaranya ada sebuah info mengenai sebuah kompetisi video bola yang berhadiahkan latihan bola di West Ham selama satu minggu dan menyaksikan langsung Chelsea vs Liverpool di Inggris. Tanpa pikir panjang
saya pun tertarik buat ikut kompetisi video bola itu, selang beberapa hari saya telpon temen aku Faisal buat bantuin bikin videonya. Niat awal saya adalah target kita itu Juara 1 atau minimal juara 2 yang penting bisa ke Inggris. Pemenang hadiah 1 & 2 berhak membawa 1 orang pendamping untuk kesana, makanya saya minta bantuan si Faisal untuk bantuin bikin videonya. Jadi kalo menang saya bisa ajak dia ikut ke Inggris.

Dengan susah payah dan kreatifitas tingkat tinggi :P akhirnya gw bisa juga selesain video bola itu. Setelah video saya upload dan aku mulailah minta temen-temen di facebook untuk bantu vote video saya supaya kita bisa juara 2 minimal.

Selang beberapa hari, tiba-tiba Ipod nano 16Gb yang gw tunggu-tunggu dari BIA sampe juga di rumah. Sambil belajar gunain Ipod proses voting video saya pun masih berjalan dengan lancar, malah baru belasan orang yang vote, video saya udah mulai masuk TOP Rank. Kebetulan saya ngikutin lomba ini cukup telat, sisa waktu buat voting Cuma tinggal 1 minggu setelah gw upload video itu. Setelah dapet ipod saya pun cukup bingung, 10% dari hadiah ini saya mau sedekahin, tapi saya gak ada uang sama sekali. Taksiran harga Ipod nano 16Gb ini pun bermacem-macem mulai dari Rp.1.400.000 – Rp.2.200.000 karena saya pusing gak punya uangnya, makanya saya sempet berfikir buat jual Ipod ini, selain 10% nya buat sedekah,

sisanya bisa buat modal saya ngebangun sepedah Fixie :) tiba-tiba 2 / 3 hari sebelum voting di tutup video gw keluar dari 11 besar TOP Rank. saya mulai panik, temen-temen saya udah suruh vote ulang semua, tapi posisi belum berubah.

Saya di rumah mulai panik sendiri, gimana caranya nih kaga ke kejar-kejar masuk 11 besar. Akhirnya saya mulai putus asa, aku pun telpon Faisal “wah gimana nih sal, kita gak di 11 besar? Tapi tetep saya usahain deh.. minimal juara 3 dah yak”
Dulu saya sempet ngobrol-ngobrol sama temen saya namanya Arhan, dia kolektor Jersey Original. Kita sering cerita bareng masalah Jersey bola, mulai dari jenisnya sampe harganya. Dia pernah kasih tau kalo Jersey yang Player Spec (standard yang di pake pemian bola) itu hargnya bisa kisaran 2Juta. Nah dari situlah saya punya bayangan paling pahit jika saya juara 3, berarti saya harus sedekah minimal Rp.200.000 karena juara 3 dalam bayangan saya harga bajunya adalah 2 jutaan.

Karena saya inget kemarin saya abis dapet rejeki berupa Ipod nano 16Gb dan dari hasil hadiah itu belom sempet saya sedekahkan 10% nya, maka niatnya saya mao sedekahin aja Mp3 player saya yang 2Gb "saking gak ada duitnya" hehe ke sepupu saya lagi saya pake penghitungan bahwa Ipod nano 16Gb adalah Rp 2.200.000 dan harga beli Mp3 gw itu sekitar Rp.240.000 maka sah-sah aja kalo saya sedekahin Mp3 Player saya, karena saya juga tau dia pengen banget punya Mp3 Player.

Awalnya bingung juga, Mp3 Player saya udah rusak het setnya dan saya juga gak punya kabel data buat kamera. Akhirnya semuanya saya kasih aja deh, Mp3 Player saya beserta kabel datanya. Biar saya aja yang beli kabel data baru. Selang sekitar 2 minggu setelah voting di tutup saya pun nunggu pengumuman apakah saya dapet juara 1,2,3 atau malah tidak juara sama sekali.

Secara kebetulan sekali saya lagi buka web kompetisinya, eh ternyata pengumuman pemenangnya lebih awal 1 hari, seharusnya besok baru diumumin eh ternyata udah keluar sekarang. Dan gw pun terkejut ternyata Alhamdulillah gw juara ke 3 walaupun posisi gw ada di ranking 5.

saya berhak mendapatkan Jersey Original TIMNAS Inggris + Sertifikat + Tanda Tangan Rio Ferdinand asli, dan kalau di total-total harga baju tersebut tembus sampai Rp.6.000.000 Subhanallah,

sekali lagi hadiah ini benar-benar di luar bayangan saya. Dan mulai saat ini saya harus semakin bersyukur dan tambah sering sedekahnya lagi.

Bersedekah di Pagi hari

Bersedekah di Pagi hari
Hari ini Allah mempertemukan keluarga saya dengan seseorang yang sama sekali belum pernah kami temui. Tadi pagi kurang lebih pukul 07.00 WIB rumah kami kedatangan
seorang nenek2 berpakaian kurang layak, memakai kerudung/jilbab, nggak beralaskan kaki, dan membawa semacam tas. Orang yang pertama menemui nenek tersebut adalah ibu saya, kebetulan tadi ibu saya sedang berada di depan rumah dan saya sedang siap2 dikamar untuk berangkat kerja.

“Nyari siapa nek...?”, tanya ibu saya.

Lalu si nenek menjawab dengan tutur kata yang sopan dan suara lemas “Maaf bu, saya cuma mau minta sedekah...”.

“Oh silahkan duduk dulu, saya ambilkan nasi dulu ya nek? Biar nenek istirahat & makan dulu”, balas ibu saya. Sepertinya ibu saya merasa sangat kasihan melihat nenek itu.

Mendengar percakapan tersebut saya langsung keluar dari kamar, saya penasaran sebenernya siapa orang yang ada di depan rumah. “Bu, siapa nenek itu? Beliau nyariin siapa?”, tanya saya kepada ibu saat ibu sedang mengambilkan makan.

“Beliau nggak mencari siapa2 koq... Tadi cuma minta sedekah aja. Ini ibu mau beri makan dulu wong kasian kayaknya tu nenek lemes banget...”, jawab ibu.

“Astagaaa.... kasian sekali nenek itu...”, batin saya.

Akhirnya saya dan adik saya cepat2 mengikuti ibu untuk menemui nenek itu, percakapan antara ibu saya dan si nenek pun dimulai lagi, kurang lebih seperti ini :

Ibu saya : “Ini nek nasinya dimakan dulu, maaf cuma sama telur soalnya saya belum selesai masaknya”.

Si nenek : “Alhamdulillah... Terimakasih bu... Terimakasih... Saya do'akan ibu dan keluarga mendapat balasan yang setimpal”.

Kami : “Amien....”

Setelah si nenek selesai makan masih sempet ngobrol2 juga tuh sama ibu. Tapi tiba2 si nenek mengalihkan pandangannya ke arah dimana saya berdiri, “Dia siapa bu...?”, tanya si Nenek.

Lalu ibu saya menjawab “oh dia anak saya yang pertama nek...”.

Si nenek pun memberi senyum kepada saya... Seketika saya merasa melihat senyuman penuh rasa syukur dari muka si nenek... :)

Ibu saya : “Maaf nek kalo boleh tau nama nenek siapa dan nenek berasal dari mana...?”,

Si nenek : “Nama saya Rianti, saya dulu tinggal di Wonosobo... Tetapi sekarang saya hidupnya dijalan karena saya udah nggak punya siapa2 lagi”,

Ibu saya : “Loch emang keluarga nenek atau anak2 nenek dimana?terus selama dijalan gimana cara nenek untuk bertahan menjalani hidup?”,

Si nenek : “Dulu saya 3 bersaudara, tetapi kedua saudara2 saya udah meninggal karena sakit2an dan juga faktor usia. Semenjak itu saya dirawat oleh tetangga saya. Tetapi saya memutuskan untuk pergi karena saya merasa udah tua dan takut selalu merepotkan. Saya nggak mempunyai seorang anak bu, karena saya sampai saat ini belum pernah menikah sama sekali, Selama ini saya menjalani hidup dengan mengharap sedekah dari orang lain”.

Kami pun langsung terdiam mendengar cerita si nenek, kami merasa kasihan sekali. Lalu kami memberi sedekah untuk nenek itu, memang sih jumlahnya tidak banyak, tapi kami memberinya dengan ikhlas lahir dan batin...

Nggak lama kemudian si nenek berpamitan untuk pergi lagi,

Si nenek : “Saya pamitan dulu ya bu, terimakasih atas semua sedekahnya...”,

Ibu saya : “Oh iya nek sama2, tapi tunggu sebentar ya nek”,
ibu saya buru2 masuk kekamar, lalu keluar lagi dan ternyata ibu saya juga memberi beberapa pakean2 yg masih pantas pakai dan sepasang sandal jepit punya ibu buat si nenek itu.
Muka si nenek terlihat kaget ketika ibu saya memberikannya barang2 tersebut, mungkin karena si nenek nggak mengira bakal dikasih pakean dan sandal oleh ibu saya.

Si Nenek : “Sekali lagi terimakasih bu... Semoga keluarga ibu selalu diberi kemudahan dalam menjalani hidup, semoga rejekinya juga berkelimpahan, dan selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT. Pesan saya, taatlah beribadah dan banyak2lah bersedekah kepada siapapun bu, karena orang yang banyak bersedekah pasti akan mendapatkan balasan yang berlipat-lipat. Allah itu Adil. Assalamu'alaikum....”,

Kami : “Amien... Terimakasih juga atas do'a2nya nek, hati2 dijalan.. Wa'alaikumsalam...”.

Melihat keadaan si nenek sekaligus mendengarkan cerita kisah hidupnya membuat hati saya benar2 merasa harus lebih BERSYUKUR atas semua yang saya miliki selama ini... Bersyukur juga masih diberi kesempatan untuk BERBAGI... Karena BERBAGI adalah salah satu cara untuk menciptakan Kebahagiaan dalam hidup saya...


Seperti itulah kurang lebih kejadian yang saya alami di rumah tadi pagi, sungguh kejadian di luar dugaan yang luar biasa bagi saya. Karena lewat(perantara) nenek itu keluarga saya diingatkan kembali untuk banyak2 BERSEDEKAH kepada siapapun. Benar2 nggak menyangka seorang nenek yang keadaanya kurang beruntung berbicara seperti itu. Ya Allah... Mulia sekali hati nenek itu... Terimakasih karena Engkau telah mempertemukannya dengan keluarga saya...

Dengan kejadian tersebut saya kembali mendapatkan sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga dari seorang nenek yang sama sekali belum pernah saya kenal. Saya juga merasa mendapatkan “Bonus” dari nenek itu, “Bonus” tersebut berupa Do'a.

Saya anggap pelajaran yang saya dapatkan dan “Bonus” itu adalah baru sebagian balasan dari Allah, balasan atas sedekah yang udah keluarga saya berikan untuk nenek itu. Walaupun balasan tersebut nggak terlihat oleh mata/nggak berwujud sebuah barang, tetapi bagi saya nilainya malah lebih berharga dari barang apapun karena semua itu pasti bermanfaat seumur hidup.

( Oleh : Yogie Meinarsih )

Membeli Kebahagiaan Dengan Sepiring Makanan

Membeli Kebahagiaan Dengan Sepiring Makanan
Sore itu disebuah tempat makan.

Seorang pemuda asyik melahap makanan yang terhidang di hadapannya. Sengaja dia memesan masakan
kegemarannya. Bau masakan memenuhi seluruh ruangan restoran, menitikkan air liur siapapun yang ada disana.

Selesai makan, pemuda itu tidak langsung pergi, dia memesan segelas minuman dingin. Mungkin berniat lebih lama duduk disana menghabiskan waktu sore. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang kakek tua yang berdagang asongan yang duduk di samping luar restoran itu.

Sesekali pandangan kakek itu menyapu pengunjung restoran, entah apa yang dipikirkannya, yang jelas terlihat berkali – kali si kakek menelan ludah, tidak tahan dengan bau masakan yang menggugah selera.

Pemuda itu sejenak tercenung dan berpikir “Kira-kira berapa lama ya kakek itu sudah berjualan disana? Apa dia pernah mencicipi nikmatnya makanan di resotan ini ya?” gumamnya.

Sewaktu membayar tagihannya di kasir, pemuda itu berbisik kepada pegawai restoran. “Mas, ini saya bayar seporsi makanan, nanti kalau saya sudah pergi, tolong berikan kepada kakek tua pedagang asongan itu ya”..

Pegawai itu tersenyum dan menganggukkan kepala kemudian pemuda itupun menaiki kendaraannya dan pulang ke rumah.

Pemuda itu tidak tau pasti apa yang kemudian terjadi ketika pegawai restoran membawakan makanan untuk kakek tua pedagang asongan itu. Entahlah, dia tidak ingin memikirkannya. Yang jelas saat ini dia sangat bahagia. Sebuah rasa indah yang memenuhi rongga dadanya, kebahagiaan sejati yang hanya dibelinya dengan seporsi makanan.

Kecanduan Sedekah

Kecanduan Sedekah
Saya tertegun dan manggut-manggut ketika membaca sebuah artikel yang bunyinya begini : Untuk bersedekah sebenarnya gak usah nunggu ikhlas dulu, lakukan aja sesering mungkin. Bisa saja dalam 10 kali
kita bersedekah yang 6 tidak ikhlas awalnya tapi masih lumayan ada 4 yang ikhlas. Dan kalo sering bersedekah lama-lama akan jadi kebiasaan sehingga nilai ikhlasnya sudah lebih banyak lagi yang pada akhirnya nanti bersedekah itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Kalo bersedekah ada unsur riya juga lakukan aja, toh yang rugi diri kita sendiri kalo yang menerima sih masih bisa merasakan kebahagian. Lumayan masih bisa tidak merugikan orang lain. Semua kegiatan yang baik memang awalnya harus dipaksa dulu sambil jalan diharapkan kesadaran mulai muncul.

Coba simak;
Sholat itu harus khusyu, memang kalo gak khusyu trus gak usah sholat?
Puasa itu harus bisa menjaga hawa nafsu, memang kalo gak bisa menjaga hawa nafsu boleh gak puasa?

Bukannya lebih baik;
Sholat aja dulu nanti juga lama-lama Insya Allah bisa khusyu
Puasa aja dulu nanti juga lama-lama bisa terlatih menahan hawa nafsu
Sedekah aja dulu nanti juga lama-lama bakalan bisa ikhlas…..

Jadi untuk bersedekah ternyata gak usah nunggu ikhlas dulu yang penting lakukan saja jangan dipikir jangan dihitung….
..Just Action !!! Karena Bisa itu hadir setelah Terbiasa.

Menilik pada pengalaman pribadi saya ungkapan tersebut tanpa saya sadari telah saya alami. Sebagai seorang pedagang ketemu orang yang meminta-minta merupakan aktivitas harian yang saya temui. Dulu saya amat antipati sekali melihat orang yang meminta-minta itu sebut saja seperi pengemis, pengamen dsb, pikir saya waktu itu “apa bener saya mendapatkan pahala dengan memberi kepada mereka, mereka saja terlihat masih muda, sehat dan kuat untuk bekerja bukankah secara tidak langsung saya mendidik mereka untuk malas belum lagi seperti pengamen-pengamen itu jangan-jangan uangnya untuk dibelikan minuman keras, bukan pahala yang kan diperoleh bisa-bisa saya turut menanggung dosanya karena ikut membantu, selain itu saya juga berfikir masa sih ada orang yang mau miskin selamanya dengan terus-terusan meminta setiap hari pula ataupun Tuhan membiarkan hambaNya terus menjadi peminta-minta, I dont think so”.

Pada umumnya orang berujar; “Sedekah itu seikhlasnya” kalimat itu juga yang biasanya saya gunakan kalo diminta sumbangan. “Maksudnya seikhlasnya apa sih pak” tanya seseorang, “kalo ada uang ya ngasih kalo gak ada uang ya jangan dipaksakan”, jawab saya. ” sering sedekah?” tanya temen saya, ” ya karena jarang punya uang ya jarang”, jawab saya. ” Lagian juga kalo punya uang kalo ngasihnya gak ikhlas percuma aja gak ada pahalanya”, saya nambahin. Kata “ikhlas” menjadi senjata pamungkas saya sebagai tameng untuk tidak memberi, dan sialnya ikhlas itu lama banget datangnya ke diri saya sehingga bertahun-tahun saya menjadi orang yang jarang memberi.

Nasehat simpel datang dari teman saya untuk menyadarkan; “kalau kamu mau jualanmu laris kasihkan saja receh-recehanmu itu buat mereka yang minta-minta itu, jangan kasihkan yang besar tapi cuma kepada satu orang saja karena menurutmu layak diberi tapi bagikan secara menyeluruh walaupun nominalnya kecil, terserahlah mau diapakan mereka dan apapun latarbelakang mereka itu urusan mereka dengan Tuhannya, kita cuma berusaha untuk membiasakan diri memberi karena hak orang yang telah memberi adalah menerima percaya deh’.

Dengan motivasi agar bisnis saya semakin meningkat saya ikutin saran teman itu. Emang sih efeknya tidak langsung terlihat tapi saya merasakan perubahan signifikan didalam diri saya pribadi diluar motivasi dagang tadi. Saya merasakan “kecanduan” untuk memberi kepada siapapun, ada seperti perasaan bahagia atau entah apapun itu namanya untuk terus berbagi dan memberi kalau sehari saja tidak ada pengamen atau pengemis yang datang meminta-minta atau ketika saya tidak ada uang untuk diberikan saya seperti merasa sedih atau seperti ada yang hilang . Ya, akhirnya saya turut merasakan apa yang sudah mereka-mereka lakukan untuk memperoleh kebahagiaan walaupu mungkin saya belum seektrim dan seikhlas mereka dalam memberi tetapi setidaknya saya berharap ‘kecanduan’ ini tidak luntur dan terus meningkat dan pada akhirnya mampu ikhlas lillahita’ala Amien.

Sedekah Menolong Menyelamatkanku

Sedekah Menolong Menyelamatkanku
 Suatu kejadian hidup saya yang berhubungan dengan sedekah dapat memberikan pelajaran berharga bagi yang mengalaminya, walaupun kejadian ini tidak terjadi di bulan ramadhan. Berikut petikan kisahnya :
Jika kita kehilangan sesuatu, baik barang-barang, dokumen-dokumen berharga ataupun sesuatu yang penting, tentunya membuat kita dongkol maupun jengkel. Hidup memang serangkaian masalah yang tentunya diperlukan kearifan sikap kita menyelesaikan masalah tersebut.

Sayapun jadi teringat film anak-anak dari Iran, yaitu Children of Heaven, (film Iran karya Majid Majidi yang mendapatkan berbagai penghargaan film internasional ) bercerita tentang seorang kakak yang telah menghilangkan sepatu adiknya dan berusaha mencarikan gantinya. Terinspirasi dari film itu, saya pun jadi teringat kisah saya ketika kehilangan sesuatu yang berharga dan digunakan dalam aktifitas keseharian.

Setahun yang lalu waktu istirahat siang, setelah melakukan sholat dzuhur di masjid, tiba-tiba handphone (hp) saya berdering, rekan kerja memberitahukan bahwa motor saya dicuri orang. Sepontan saya terkejut, sambil berlari kecil saya pun ke tempat kejadian di kantor. Suasana tempat kantor saya tiba-tiba menjadi ramai karena rekan-rekan kerja berkumpul membincangkan motor saya yang akan dicuri orang dan berkumpul di lokasi kejadian. Setelah sampai di lokasi, terlihat kendaraan motor saya siap meluncur ke jalan, kebetulan sebelum kejadian, motor diparkir dekat pintu gerbang kantor.

Wajah saya pun pucat pasi, seingat saya motor tadi sudah dikunci, baik kunci biasa maupun kunci ganda di ban depan maupun ban belakang. Astaghfirullah motor mau dicuri, ucap saya dalam hati. Akibat ulah pencuri, semua pengaman motor berupa kunci telah hilang juga dirusak pencuri, yang tinggal hanya kunci pengaman bagian belakang. Setelah tenang, teman-teman menyarankan agar motor segera di bawa ke bengkel motor, agar kunci dapat diperbaiki kembali dan motor dapat digunakan sebagaimana mestinya. Dengan diantar rekan kerja, saya pun berangkat ke bengkel. Sepanjang perjalanan, saya pun bersyukur, mengucapkan Alhamdullilah. Pertolongan Allah masih menaungi hambamu ini, ucapku dalam hati, sembari mengenang keutamaan sedekah dapat menolak bala.

Musibah motor mau hilang ini, mengingatkan saya bahwa sebelum musibah ini terjadi pada saya, ada satu episode hidup yang memberikan pelajaran bagi saya, agar hati-hati dalam menjaga sesuatu. Kisahnya berupa dompet saya dicopet di angkotan kota. Waktu itu kejadiannya berlangsung di pagi hari jam kerja, dengan kebiasaan saya sebelum mempunyai sepeda motor berangkat kerja memakai angkotan kota (angkot), di Bandung angkot jumlah penumpang ada yang harus tujuh-lima, dalam artian berpenumpang tujuh di tempat duduk sebelah kanan, dan kiri berjumlah lima sampai penuh, saya sendiri tak sadar ketika dompet hilang di angkot itu, tersadar waktu turun dari angkot, Astaghfirullah dalam hati. Dengan berusaha ikhtiar untuk mendapatkan kembali, dengan jalan melaporkan kejadian ke kantor polisi. Tentu dibarengi dengan evaluasi diri, mengapa kejadian ini terjadi? Setelah ikhtiar di lakukan tentunya dibarengi dengan dzikir- maupun doa kepada Allah Swt, agar dompet bisa kembali dan tentunya hikmah kejadian tersebut dapat merupakan ujian hidup ataupun kecerobohan saya pribadi.

Satu keajaiaban pun kembali saya alami, dompet yang hilang ternyata ditemukan kembali, kabar itu disampaikan oleh rekan kerja lewat telepon, yang memberitahukan bahwa dompet beserta uang memang sudah hilang akan tetapi surat-surat dan dokumen-dokumen masih ada dan ditemukan di jok kursi depan angkot yang berbeda dengan angkot yang biasa saya pakai. Yang lebih membuat saya takjub, angkot tersebut sedang berada di bengkel karena terkena musibah kecelakaan dan yang menemukan dokumen di dompet yang hilang itu, pekerja yang memperbaiki angkot, seorang bapak-bapak, usianya empat puluh tahunan ke atas. Subhanallah, ternyata beliau menceritakan kronologis kejadian ditemukannya dokumen-dokumen yang hilang. Dengan kejujuran dan kepolosan bapak ini, saya pun tak lupa memberikan sedekah, beliau pun menerima sembari mengucapkan terima kasih, saya pun tersenyum sambil berjabat tangan.

(Oleh : sandimuda )

Susahnya Bersedekah

Susahnya Bersedekah
Saat ulang tahun ke 37th , pada saat 27 April 2011. Bertepatan saya barusaja belajar tentang kekuatan bersedekah. Dari sahabat saya Ippho Santosa. Pengarang buku mega BestSeller 7 Keajaiban Rejeki dan
Seabrek karya lainnya. Sedekah sudah merupakan makanan sehari-hari saya. Tidak ada lewat satupun. Cuman ini cara pandang beda. Jadi pas hari kelahiran saya, saya coba praktekan sekali lagi dengan kaca mata berniaga dengan Tuhan.

Tepat, jam 18 sore. Saya baru saja pulang dari sebuah minimarket. Memasukan mobil, dan masuk kerumah. Dikagetkan oleh sebuah suara dari luar pagar. Nada jawa barat. Serombongan keluarga, bapak,ibu dan 3 anak-anak yang masih kecil. Mereka dengan nada sopan, bahkan takut-takut mengatakan.

“Pak, maaf menggangu sebentar. Pagar tidak usah dibuka, tidak apa-apa. Saya hanya ingin minta nasi sedikit untuk istri saya.”

Seperti tersambar geledek, bagaimana orang serombongan itu tidak membawa uang sama sekali dan tidak meminta makanan utuh atau minta uang untuk bisa dimakan satu keluarga. Hanya meminta sedekah nasi untuk istrinya saja. Anaknya ? Dia sendiri?

Langsung saya jawab iya. Dan saya masuk kedalam dan mempersiapkan apa yang ada. Semua nasi saya masukan kedalam kotak nasi, telor yang baru saja di goreng untuk makan malam tanpa pikir 2x kali langsung saya masukan. Kebetulan ada beberapa aqua gelas. Langsung saya masukan kedalam 1 tas plastik dan bergegas keluar untuk memberikan itu kepada mereka. Dan masih sempat-sempatnya saya sisipkan uang Rp.50.000,- didalam tas itu

Tapi ternyata , sekeluarga itu telah menghilang entah kemana. Saya dan keluarga memutuskan untuk mengambil mobil dan mengejar satu keluarga malang itu. Niat baik saya, kebetulan di hari jadi saya, saya diingatkan Tuhan untuk berbagi kepada sesama. Maka itulah saat yang tepat untuk saya melakukan itu semua. Dan saya putari desa,kompleks perumahan dan daerah sekitarnya, untuk mencari mereka. Tapi ternyata tetap tidak menemukan dan berjumpa dengan mereka. 30 menit aku mencari mereka tetapi nasib berkehendak lain. Mereka tetap tidak bisa aku temukan.

Tuhan , maafkan aku. Aku kurang cepat bertindak, aku terlalu banyak berpikir, aku terlalu banyak pertimbangan. Tuhan, aku belajar satu hal. Bahwa bersedekat itu tidak perlu pakai lama, tidak perlu pakai mikir, tidak perlu pakai pertimbangan. Langsung kasih, maka berkatMu akan semakin mencerahkan aku.

Ah…susahnya bersedekah bagi orang pemula.

(Oleh : Ridwan )

Keajaiban Sedekah Pak Husni

Keajaiban Sedekah Pak Husni

Keajaiban Sedekah Pak Husni

Pasangan Pak Husni dan Ibu Juriyah tinggal di satu desa di kawasan perkebunan teh milik PT..Nusantara. di Cianjur. Mereka adalah pasangan suami istri dimana Pak Husni bekerja sebagai buruh tani sedangkan Ibu Juriyah bekerja sebagai guru swasta di Sekolah Dasar.
Di sekeliling tempat tinggal mereka, berdiri beberapa rumah yang rata-rata sebagai karyawan perusahaan perkebunan, sebagian ada yang berprofesi sebagai pedagang roti, bekerja di toko bangunan bahkan ada yang sebagai karyawan serta pejabat di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Keluarga Husni adalah keluarga harmonis, dia termasuk keluarga terpandang yang semua kebutuhan mereka dapat terpenuhi dengan baik. Mereka tidak pernah kekurangan sama sekali dalam hal sandang, pangan dan papan. Bahkan mereka juga tidak pernah terlambat dalam hal menyumbang kegiatan sosial, baik berupa kerja bakti maupun iuran sosial yang harus merogoh kantong saku sendiri.

Dalam hal semua jenis iuran sosial, keluarga Husni termasuk yang paling mendahulukan. Kondisi ini berbeda dengan para tetangga mereka yang notebane adalah orang kaya dengan aktivitas dan keuangan yang tergolong lancar dan berlebih. Tapi itulah anehnya, yang mampu-mampu justru kebanyakan absen dan tidak pernah mengisi iuran kegiatan sosial seperti pembangunan Masjid, perbaikan jalan maupun sarana umum yang lain.

Hal ini juga sama dengan tetangga lainnya yang bekerja sebagai salah satu pimpinan unit pada salah satu kantor Badan Usaha Milik Negara dengan tunjangan gaji yang bisa mencapai di atas 10 juta rupiah. Ya mungkin dalam hal pengelolaan keuangan rumah tangga tidak bisa melihat dari sisi luarnya saja. Bisa saja dengan gaji seperti itu mungkin tetap belum cukup.

Suatu saat Ibu Juriyah sedang sibuk membersihkan halaman rumahnya sedangkan Pak Husni sibuk menyiangi pohon mangganya yang sangat rimbun. Seorang nenek tua tiba-tiba datang sembari berkata pada Ibu Juriyah. "Penghuni rumah ini tidak akan kekurangan harta selama hidupnya". Nenek tua itu secara spontan mengucapkan kata-kata tersebut di depan Ibu Juriyah dan lantas ia pergi begitu saja tanpa penjelasan. Sebaliknya Ibu Juriyah sama sekali tidak mengerti maksud dan ucapan Nenek tua yang tidak dikenalnya itu.
Cerita itu bukan dongeng atau legenda, tetapi ini adalah kenyataan yang dialami keluarga Pak Husni. Bahkan Ibu Juriyah juga telah meyakinkan hal itu kepada saudaranya bahwa keluarganya selalu diberi kemudahan harta dan ketentraman berkeluarga sejak menempati rumah miliknya selam puluhah tahun. Keluarga Pak Husni memang selalu diberi keberkahan rejeki karena kebaikan-kebaikan yang selalu diberikan kepada orang lain.

Pak Husni dan Ibu Juriyah selalu menyisihkan setiap hasil panennya untuk zakat dan sedekah. Bahkan mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk sedekah. Siapapapun yang datang apalagi ia sampai menyampaikan kehendak hatinya untuk meminta uang, ia langsung memberikan apapun yang mereka miliki di rumah itu tanpa banyak komentar. Tidak heran jika Pak Husni tidak pernah mengalami kesulitan keuangan, makanan dan sebagainya. Hal yang sering dilakukan yang menurut tetangganya adalah menengok tetangganya yang sakit baik sakit ringan maupun sakit berat. Bahkan mereka tidak canggung untuk membawa keluarga si sakit ke rumah sakit dengan membiayai semua biaya perawatan dan pengobatannnya.

Suatu ketika Pak Husni sedang dalam perjalanan menjenguk sanak keluarganya yang berada di Wonosobo dan di Jogjakarta, tiba-tiba dia ditelpon oleh seorang tetanggannya yang bernama Mang Daim. Pada saat yang sama laki-laki itu memerlukan uang tebusan untuk menolong nyawa istrinya yang hampir tidak tertolong sehabis melahirkan. Karena Mang Daim memerlukan biaya besar untuk keperluan medis di rumah sakit swasta. Biaya yang diperlukan kurang lebhih 30 juta untuk bisa mengambil istri dan buah hatinya karena operasi cesar yang telah dilakukan oleh istri Mang Daim itu.
Akhirnya Pak Husni langsung pulang, sesampainya di rumah Pak Husni langsung menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit dia sempat kebingungan karena tidak membawa uang yang cukup untuk menebus obat dan membayar biaya perawatan istri Mang Daim. Kemudian Pak Husni bergegas pulang. Selama perjalanan dia berpikir " Dari mana uang sebesar itu ya Alloh? Gumamnya dalam hati.

Atas saran istrinya Pak Husni langsung menuju ke rumah saudara iparnya." Saya perlu uang sekarang minimal 30 juta". saudara ipatnya menyetujuinya tetapi dengan tenggang waktu yang tidak masuk akal. "Tidak boleh lebih dari 3 hari. Jika lebih dari 3 hari maka tanahmu menjadi milik saya." Kata saudara iparnya itu.

Ketika semua biaya perawatan dan pengobatan sudah terbayar, maka istri Mang Daim bisa dibawa pulang. Betapa bahagianya Mang Daim beserta keluarganya karena bisa membawa pulang istri dan buah hati mereka.
Suasana yang dirasakan Mang Daim berbeda denga suasana hati Pak Husni, "30 juta?, dari mana saya dapat mengembalikan itu dalam waktu 3 hari?, dari mana saya bisa mendapat uanh sebanyak itu? kalau tidak bisa mengembalikan berarti tanah dan sawah saya akan hilang?" Hati Pak Husni demikian gelisah.
Bi-idznillah atas kekuasaan Alloh SWT, ternyata kegelisahannya terjawab dalan waktu yang sangat cepat. Saat bangun tidur di pagi hari, dia mulai dibayangi berbagai kecemasan. Demikian juga saat siang dan sore.

Bahkan saat adzan maghrib berkumandang hatinya semakin gelisah karena waktunya untuk mengembalikan pinjaman akan segera berakhir. Dihari ketiga setelah menunaikan shalat maghrib dia berdoa "Ya Alloh, mudahkanlah segala urusan yang menyempitkan hati dan kehidupan saya. "Ya Alloh, berilah jalan yang mudah, baik dan cepat untuk menyelesaikan seluruh hutang saya" Demikian doa Pak Husni sambil menangis, dia sudah tidak ada jalan keluar lagi kecuali dicurahkannya isi hatinya kepada yang maha Hidup, uang 30 juta tidaklah mungkin datang begitu saja tanpa pertolongan Alloh SWT.

Diluar perkiraan, Alloh SWT ternyata mengabulkan doa Pak Husni dengan melapangkan berbagai kesulitan yang sedang dihadapinya. Malam itu selepas shalat isya Pak Husni Kedatangan tamu seorang saudagar kaya. Pak Husni sendiri tidak mengenali tamunya, yang dia tahu bahwa tamunya berkendaraan mobil mewah yang sangat mencolok kalau masuk kampung Pak Husni. "Kedatangan saya ini pertama silaturahmi, yang kedua saya mempunyai kelebihan uang dan silahkan bapak pakai dengan tidak usah memikirkan pengembalianya.

Saya dulu itu sebeltulnya pernah ditolong Bapak, saat itu saya tidak mempunyai tiket dalam perjalanan dari Jakarta ke jogjakarta dan berkat pertolongan Bapak saya tidak jadi diturunkan di tengah perjalanan." cerita saudagar itu. "Subhanalloh,, saya sendiri sudah lupa peristiwa itu lhoPak?" Timpal Pak Husni. "Justru saya teringat terus dengan Bapak, saya juga tidak tahu alamat bapak, tapi dengan niat tulus ingin silaturahmi ya saya cari-cari alamat bapak di Cianjur ini, berkat Alloh SWT-lah saya bisa berjumpa kembali dengan Bapak." Muka Pak Husni agak berkaca-kaca, Allloh sangatlah dekat, terutama dekat dengan orang-orang yang dekat dengan-Nya.

Setelah tamunya pulang Pak Husni langsung bergegas ke rumah saudara iparnya itu. Alangkah kagetnya setelah membuka amplop besar dari tamunya, rupanya isi amplop tidak hanya 30 juta rupiah tapi malahan 50 juta rupiah. Jumlah itu diketahui setelah Pak Husni menghitung sejumlah 30 juta untuk membayar hutang, tidak tahunya kok uangnya masih sisa begitu banyak.
Pak Husni hanya berdoa agar dapat membayar hutang sejumlah 30 juta, tapi Alloh SWT memberinya 50 juta.