Selasa, 14 Juni 2011

Ketika Tsunami Datang...


Ketika Tsunami Datang...
Pagi itu, Fahmi tengah duduk santai di rumahnya. Menikmati udara pagi yang sejuk dan menikmati secangkir teh dan roti yang telah disediakan istrinya. Maklum saja ia sedang menganggur sehabis keluar dari tempatnya kerja dulu. Jadi ia bisa menikmati hari-hari di rumahnya, meski pusing juga memikirkan nafkah bagi istri dan dua anaknya yang masih kecil-kecil.
“Belum ada order motret lagi, Pa? Atau kerjaan?” istrinya bertanya hati-hati.

Fahmi hanya menggeleng. Tabungannya mulai menipis. Ia harus mencari kerjaan kalau asap dapurnya mau ngebul, apalagi... ia masih tinggal di rumah mertuanya.... malu rasanya.

Istrinya kembali ke dalam dan menyalakan televisi, saat itulah berita yang menyentak terpampang.

“Pa... lihat deh, sini!” panggil istrinya. Malas-malasan Fahmi bangkit dan menghampiri istrinya.

“Apaan, sih?”

“Tuh, lihat aja.” Istrinya menunjuk televisi. Pandangan Fahmi beralih ke teve dan...

“Astaghfirullah....” desisnya berkali-kali. Bencana tsunami telah menghadang Aceh dan sekitarnya, bahkan menjadi bencana dunia.

“Ya ampun, bukan cuma Indonesia, ya...” istrinya menggeleng-gelengkan kepala.

“Lihat tuh, ya Allah... ombaknya tinggi banget, ya Allah...” masih kata istrinya. Fahmi tak bersuara. Tatapan matanya nanar dan mulai berkaca-kaca.

Lihatlah para manusia tak berdaya itu, mereka berupaya menyelamatkan diri dari terjangan tsunami, memanjat pohon, bertengger di atap, tergulung ombak. Lihatlah ribuan mayat yang hancur dan tak dikenal itu. Benar-benar Maha Besar Allah yang bisa melakukan semua ini. Benar-benar manusia tak bisa menolak kuasaNya.

Aceh hancur, hanya masjid yang maish berdiri tegak. Lihatlah Serambi Mekkah itu, lihatlah kota yang dikenal religius itu. Kini porak-poranda. Mengapa Aceh ya Allah, mengapa? Kasihan mereka. Fahmi tak habis pikir.

Namun, sejurus kemudian ia beristighfar... pasti ada skenario tertentu yang dibuat Allah dibalik bencana ini. Allah menjadikan sesuatu bukan tanpa sebab.

Fahmi mengusap perlahan titik air mata yang mulai menganak sungai di pipinya.

“Kita beri bantuan yuk buat mereka,” katanya kemudian pada istrinya.

“Iya, berapa?”

“Sekarang kita kumpulin aja dulu pakaian layak pakai, yuk!” mereka berdua beraksi. Kemudian Fahmi mengambil sejumlah uang simpanannya.

“Pa... nggak kebanyakan? Nanti kita gimana?” istrinya mengingatkan.

“Udahlah, Ma, mereka lebih butuh dari kita. Cobaan yang kita hadapi sekarang nggak ada artinya dibandingkan kesusahan mereka, nanti pasti ada rezeki buat kita. Yakin aja, deh,” hibur Fahmi.

Istrinya mengalah. Memang jumlah uang yang mereka sumbangkan tak sampai 500 ribu rupiah, namun terasa juga karena Fahmi masih menganggur. Tapi mereka ikhlas membantu saudara mereka yang kesusahan di tanah rencong sana.

Melalui sebuah yayasan, mereka menyalurkan bantuan itu. Kemudian Fahmi dan keluarganya setia mantengi televisi untuk melihat perkembangan situasi di Aceh.

Suatu hari, saat Fahmi sedang di depan tv, telepon rumahnya berbunyi.

“Assalamu’alaikum...” sapanya ramah.

“Wa’alaikum salam, Fahmi, ya?” sahut suara di ujung sana.

“Fah, selamat ya.... foto ente menang juara harapan.”

“Alhamdulillah... yang bener, lo?” Fahmi tidak percaya.

“Bener. Hadiahnya dua juta!”

Mendengar berita itu tak urung Fahmi langsung sujud syukur. Kemudian ia mengabarkan berita gembira itu pada istrinya.

“Ma, Alhamdulillah, foto yang Papa ikutin lomba jadi juara harapan. Hadiahnya dua juta...”

Ia memeluk erat istrinya, “Betul kan Papa bilang. Kalau udah rezeki nggak bakalan ke mana, deh...”

Rupanya, Allah masih menyimpan kejutan lain buat mereka. Beberapa hari kemudian, kembali telepon rumahnya berdering, “Ya hallo... Assalamu’alaikum?” sapa Fahmi lagi.

“Fah... masih nganggur lo?” tanya temannya di ujung sana.

“Ya... gitu deh, kenapa? Ada gawean?” Fahmi bertanya penuh harap.

“Bukan gawean sih, ada order motret kawinan, buat kita berdua, lumayan 7 juta, bo! Mau nggak?”

“Pake nanya lagi, ya mau dong!” Fahmi tertawa senang. Kembali ia sujud syukur dan mengabarkan berita itu pada istrinya.

“Alhamdulillah....ya Pa... Allah baik banget.”

“Makanya... Papa bilang juga apa, nggak usah takut nyumbang agak banyak buat Aceh kemarin...”

Mereka berdua bertatapan penuh makna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar