Jumat, 13 Juli 2012

Menanamlah Meskipun Tanamanmu Dirusak..tapi Itu Sedekah



Tentunya ketika kita menanam sesuatu tanaman, maka kita mengharapkan tanaman tersebut bisa kita panen..

Tapi bagaimana bila tanaman yang kita tebar dan semai benihnya, rawat dan siram pohonnya,

Ternyata dirusak oleh pihak-pihak yang tidak kita kehendaki seperti daunnya di makan ulat atau dimakan ayam, buahnya digerogotin lalat buah,ulat buah, belatung ataupun kelelawar. Juga Bijinya dimakan burung . Bahkan tanaman yang sebentar lagi dipanen ternyata di curi orang…

Jangan lah anda murka dan bersedih hati, bersabarlah dan bergemberilah karena usaha anda tidaklah sia-sia..

Karena telah berkata Orang yang benar sekaligus dibenarkan perkataannya, dia shallallahu alaihi wa sallam berkata:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا, أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَة ٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian hasil tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan (tanaman tersebut) menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Bukhari hadits no.2321)

(oleh :sugeng priyadi )

Nyawa Dibayar Nyawa, Lewat Sedekah

Nyawa Dibayar Nyawa, Lewat Sedekah

Sepasang suami istri sesenggukan di hadapan saya, tepat dibibir loket kasir Rumah Sakit Bhakti Yudha. Saya yang tengah menanti penghitungan obat untuk kedua anak kembar yang kala itu berusia dua tahun, hanya terpana melihat bagaimana dua sosok itu lunglai dibawah tatapan nanar dari petugas kasir.

“ Saya cuma kasir bapak , ibu… jadi nggak bisa kasih kebijakan apa-apa!” si kasir pria tampak empatii namun tak bisa berbuat banyak. Dua orang lelaki dan perempuan itu menuju deretan kursi panjang untuk sedikit menopang tubuh mereka yang bagai tak bertenaga.

Ketika saya bertanya pada kasir, ia menceritakan bahwa anak dari ibu dan bapak muda itu sedang dirawat karena diare dan boleh keluar hari itu. Mereka hanya punya uang seratus ribu rupiah sedang biaya untuk perawatan sisanya adalah tiga ratus dua puluh ribu rupiah. Karena telah berusaha mengurus surat miskin di hari minggu itu namun tidak membuahkan hasil karena kantor kelurahan tutup maka mereka terpaksa harus meminta kebijakan untuk bisa membawa sang anak segera keluar agar biaya perawatan tidak bertambah sehari.

“ Jumlah tagihan tiga ratus dua puluh ribu rupiah itu sudah di kurangi oleh pimpinan rumah sakit pak, tapi mereka tetap nggak bisa bayar, jadi terpaksa tunggu besok!” ujar si kasir.

“Jadi kalau tunggu besok, biaya kamar tambah lagi dong mas?” Tanya saya.

“ Ya sudah pasti, itu yang bikin mereka bingung.” Jawab kasir.

Saya melongok saku kemeja dan menggenggam uang tiga ratus ribu rupiah yang sedianya untuk membeli obat. Kala itu matahari kehidupan kami sekeluarga sedang surut, karena saya nekat jadi pengusaha dan menemui kegagalan dalam mengelolanya hingga jaminan kesehatan dan kenikmatan ketika jadi pegawai saya lepaskan demi meraih cita-cita jadi pengusaha. Tiga ratus ribu rupiah itu uang terakhir kami, untuk membeli obat, sementara kebutuhan untuk menggaji pegawai dua hari kedepan belum tahu dapat dari mana.

Saya hampiri kursi panjang depan loket dan mencoba menyapa keduanya. Saya menawarkan untuk memberi uang sejumlah dua ratus ribu dari tiga ratus ribu rupiah yang saya punya.

“Jangan pak..itu pasti untuk buat beli obat, nanti bapak nggak bisa bayar obat!” sang suami menggeleng menolak. Saya meyakinkan mereka bahwa saya hanya perlu menebus satu resep saja karena anak saya seusia dan bisa berbagi obat untuk sementara.

Dengan tambahan uang itu mereka menuju kasir dan membayar jumlah tagihan yang harus mereka setorkan sore itu. Uang masih kurang dua puluh ribu rupiah namun kasir memberi kebijakan yang datang dari dirinya sendiri.

“Kalau cuma dua puluh ribu rupiah, saya bisa bantu kasih keringanan dengan uang saya sendiri !” ujar kasir yang baik budi itu. Transaksi selesai dan suami istri itu mendapatkan surat lunas untuk membawa pulang si buah hati dari kamar perawatan segera.

Sang suami mencium tangan saya yang segera saya tepis. Berkali kali ucapan Terima kasih meluncur dari mulutnya.

“ Bapak kerja dimana?” Tanya saya.

“ Kerja sama tukang jahit pak, di jagakarsa!” jawabnya.

“ Kasihan yang punya kios jahit pak, jahitannya mulai nggak laku. Saya juga beberapa hari ini bingung nggak dapat pemasukan, anak sakit diare ..untung ada bapak, terima kasih pak semoga Allah membalasnya!” Rupanya ia seorang penjahit yang bekerja pada tukang jahit. Bisa dibayangkan bagaimana beratnya tukang jahit jaman sekarang ditengah banjirnya produk tekstil jadi dari mana mana. Jangankan ia yang cuma pekerja di kios jahit, sedang majikannyapun juga terhempas dalam kondisi yang sama. Saya hanya sedikit mengingat wajahnya hingga ia dan istrinya pamit meninggalkan saya untuk mengambil anak mereka.

Sampai dirumah saya menceritakan pada istri tercinta bahwa obat hanya bisa dibeli separuh saja, karena ada orang lain yang lebih membutuhkannnya. Meski itu adalah uang terakhir yang dipegang namun dengan kebesaran hati ia mau menerimanya. Penderitaan mereka masih lebih buruk tak sebandng dengan kondisi bisnis kami yang masih bisa menghasilkan sedikit rejeki.

–

Lima tahun setelahnya, ketika saya membelokan kendaraan di jalan yang sepi pukul setengah Sembilan malam. Tiba-tiba tiba sebuah palu godam seperti menghantam tengkuk saya. mobil yang tengah saya kendarai membanting ke kiri masuk keselokan kecil dan saya tak sadarkan diri. Kelelahan yang amat sangat seharian membuat saya tak sadarkan diri ketika menyetir dan membawa saya dalam ketidak sadaran di pinggir jalan selama dua jam lebih tanpa ada yang menolong karena mereka mengira saya sedang parkir. Lamat-lamat ketika sedikit sadar saya paksa melajukan mobil menuju satu titik terang dan kembali tak sadar diri di depan sebuah wartel.

Bau alcohol menyengat ketika seseorang berbaju putih mengoles sesuatu kehidung saya dengan selang infus yang siap ditancapkan ke lengan. Saya tergolek dan berusaha bangkit dari ruang UGD rumah sakit cilandak, entah siapa yang membawa saya kesana. Seorang ibu setengah baya mengusap-usap kening saya dan membacakan beberapa doa dan di sampingnya berdiri dua lelaki yang tampak khawatir.

“ Alhamduilillah bapak sudah sadar, tadi pingsan di depan wartel , saya ibu hajjah Homsah yang punya wartel, tadi kita bertiga bawa kesini naik taksi. Sebetulnya bisa bawa pakai mobil bapak, tapi nggak ada yang bisa bawa mobil matik!” Ibu hajjah homsah adalah penolong saya malam itu bersama dua lelaki disampingnya.

Dokter datang dan mereka menyingkir sementara, saya diberi beberapa obat untuk mengembalikan kondisi. Usai itu ketiga orang ini menghampiri saya kembali dan memastikan kondisi diri saya lalu memberikan kembali dompet saya berisi uang dua juta rupiah, hand phone beserta kunci mobil yang mereka amankan ketika saya tak sadarkan diri di kampung mereka.

“ Ini dompetnya, tadi dipakai untuk bayar taksi seratus ribu dan bayar administrasi rumah sakit seratus ribu , jadi habisnya dua ratus ribu. Mobil masih aman di depan wartel ibu, jadi nggak usah khawatir. Yang penting istri di rumah sudah dihubungi dan akan menuju kesini!” ujar bu Hajjah Homsah.

“ Masya Allah, sebegitu baik ibu hajjah juga bapak-bapak bawa saya kesini, untung masih ada orang baik di Jakarta ini, kalau nggak , habislah semua uang dan mobil saya, dan mungkin nyawa saya juga nggak akan tertolong” saya mengucapkan beribu terima kasih pada mereka.

“ Ini Bang Udin dan Edi yang nolong bu haji bawa bapak kesini!” kata bu haji, saya menggengam erat tangan Bang udin.

“ Bang Udin ini montir yamaha di bengkel depan wartel bu haji!” seru bu hajjah Homsah menambahkan.

Lalu saya menjulurkan tangan pada Pak Edi untuk mengucapkan terima kasih dalam kondisi yang lemah.

“ Terima kasih pak, sudah menyelamatkan saya, juga sudah bikin repot bapak sama bang Udin!” tukas saya.

“Pak Edi ini Tukang Jahit disamping wartel, tadi dia masih njahit baju dan dia yang duluan nolong dan teriak ke bu haji sama bang udin!” ujar bu hajjah.

“ Ah..kebetulan aja. Saya kalau lihat orang sakit jadi ingat saya juga pernah di tolong orang dulu, di rumah sakit bhakti yudha, tapi saya nggak pernah ingat orang itu karena sibuk ngurusin anak saya yang di tahan rumah sakit!” Pak edi tersenyum.

Entah mengapa. Saya menitikkan air mata. Lamat-lamat saya mengingat sedikit wajah Pak Edi ketika dulu wajah kurusnya yang kini berubah gemuk menangis di bibir loket kasir. Saya menarik tangannya dan memeluknya erat mendekat ke tempat tidur saya.

“ Allah mengirim bapak untuk saya, terima kasih!” seru saya lirih. Ia tak mengerti apa arti seruan saya.

Pagi itu pukul tiga dini hari , Pak Edi menjadi sebuah Episode ‘Rahasia Ilahi’ yang menghampiri hidup saya.

Lima tahun lalu uang dua ratus ribu menyelamatkan urusannya di Rumah sakit Bhakti Yudha dan kini ia membalasnya dengan membawa saya ke rumah sakit cilandak untuk menyelamatkan nyawa .

Ibu Hajjah homsah, Bang Udin dan Pak Edi kini rutin saya kunjungi di jagakarsa, karena disana persaudaraan tercipta dari sebuah sedekah yang balasannya hanya ada pada hak Tuhan untuk menentukan kapan mengembalikannya.

Hingga kami saling kunjung sampai kini, tak pernah saya ungkapkan bahwa sayalah orang di Rumah Sakit Bhakti Yudha dulu. Ini untuk melenyapkan sikap “Ria” dan membiarkan persaudaraan berjalan tanpa masing masing membanggakan amal yang sudah diperbuatnya.

Cerita ini bukan bermaksud menyombongkan sedekah saya, namun bisa menjadi pelajaran bahwa sebuah sedekah dalam sebuah kesempitan akan berubah menjadi sebuah balasan kebaikan yang dahsyat pada suatu saat episode hidup kita.

Masya Allah!
(Oleh : Twins Father )

Celengan Sedekah

Celengan Sedekah
Punya celengan sedekah seru juga ternyata. Soalnya ga tiap ari kan kitanya keluar rumah? Kalo yang kerja ya senin-jum’at, bisa jadi sabtu-minggu di rumah aja. Yang entrepreneur lebih lowong lagi kan waktunya. Nah, akhir-akhir ini saya menyiasati untuk membikin celengan sedekah pribadi.

Hal ini juga bertujuan untuk membiasakan diri agar terlatih berbagi kepada sesama. Kalo sehari aja ga ngasih/memberi, rasanya gimanaaaa gitu :) Berapa pun duit di dompet. Lagi seret ato lagi banyak duit, tetep usahain isi celengannya. Ya kalo lagi banyak, sedekahnya juga dibanyakin..

Terus kalo udah kekumpul, gimana? Kalo udah kekumpul rada banyak, komporin orang se-rumah buat ikut serta ngisi celengannya. Habis itu bisa dikasi ke yang bantu-bantu di rumah. Bisa juga ke tempat-tempat yang jelas penyalurannya, seperti rumah zakat, pkpu, dompet dhuafa dan sebagainya. Tapi bukan berarti pas keluar rumah, mentang-mentang udah ada celengan sedekah di rumah, lalu ga sedekah. Selama ada peluang untuk berbagi, laksanakan! Toh, semuanya bakal kembali lagi ke kita, ga usah pake ragu, tul? Ayo, SEMANGAT SEDEKAH!!!
(oleh : Shona Ve )

Pengemis Tua dan Sepasang Mutiaranya

Pengemis Tua dan Sepasang Mutiaranya
“Minta sedekahnya den, seikhlasnya saja buat makan den…”, lirih suara itu terdengar diantara lalulalang jama’ah Masjid Kampus yang baru saja usai menunaikan sholat Jum’at.


Dua anak kecil kembar siam bertubuh kurus kering menatapku dengan pandangan sayup. Dengan ekspresi memelas keduanya kompak menyodorkan sebuah gelas air mineral bekas kepadaku. “Minta sedekahnya buat makan den…”, dengan kompak mereka ulangi kata-kata sakti itu.

Atas dasar kemanusiaan hatiku tergugah dan memberi mereka beberapa rupiah uang sepantasnya. Walau kutahu sebenarnya Perda setempat dengan tegas melarang masyarakat memberi uang kepada pengemis ataupun kaum gelandangan jalanan. Namun hati kecilku seperti berbisik, “Bukankah sebagai sesama makhluk Tuhan kita memang harus saling tolong-menolong dan menyayangi?”.

Setelah kukasih sedekah sepantasnya nampak kebahagiaan terpancar dari wajah polos mereka. Dengan wajah berseri-seri sepasang anak kembar siam itu berlari menghampiri seorang nenek tua yang juga sedang mengemis di sudut tangga luar masjid. Perlahan diam-diam kubuntuti langkah mereka.

“Nenek…nenek…. dik Safira sama dik Sahira dapet uang banyak nek…”, cerita mereka kepada sang nenek renta itu.

“Alhamdulillah ya nak, jangan lupa syukur sama Gusti Allah. Karena Dia-lah yang menggerakkan hati orang-orang agar bersedekah kepada kita”.

“Gusti Allah itu siapa nek?”, Tanya sepasang anak kembar siam itu dengan polosnya.

“Gusti Allah itu zat yang telah menciptakan kita semua. Zat yang mengatur hidup mati kita. Termasuk rejeki untuk nenek, dik Safira juga dik Sahira. Nenek yakin suatu saat nanti kalian pasti akan mengerti…”, dengan penuh kasih sayang nenek tua itu menjelaskan.


Diam-diam di salah satu anak tangga itu aku duduk termenung mendengarkan percakapan mereka bertiga yang nampak begitu hangat. Agar mereka tidak tersinggung aku pura-pura saja memainkan Handphone jadul kesayanganku.


Seminggu berlalu begitu cepat. Lagi-lagi aku berjumpa kembali dengan tiga pengemis itu. Begitu seterusnya, setiap hari Jumat aku selalu berjumpa dengan nenek tua dan sepasang pengemis kecil itu.

Rasa penasaran terus menghantui pikiranku. “Siapa nenek tua renta yang rutin mengemis di Masjid Kampus itu? Lalu siapa pula kedua anak kecil kembar siam yang sering menemaninya?”, pikiranku terus melayang.

Akhirnya kuputuskan untuk mengenal lebih dekat ketiga pengemis itu. Bagaimana keluarganya dan apa alasan mereka mengemis.

#Suatu hari Jumat masih di masjid yang sama

Usai sholat Jumat seperti biasa lagi-lagi aku berjumpa dengan nenek tua dan kedua anak kecil itu sedang mengemis. Momen yang tepat untuk memperoleh jawaban atas rasa penasaranku.

“Maaf sebelumnya nek…, saya lancang mengganggu sebentar. Kalau berkenan saya ingin ngobrol-ngobrol santai dengan nenek”.

“Oh ya silahkan saja mas, dengan senang hati…”

“Bisakah nenek ceritakan kepada saya apa alasan nenek memilih profesi sebagai pengemis?”

Lalu nenek tua itupun mencurahkan kisah hidupnya,

“Dari dalam hati nenek paling dalam sebenarnya nenek malu ngemis gini mas, tapi ya mau gimana lagi mas. Nggak ada pekerjaan lain yang bisa nenek lakuin. Nenek sudah lama ditinggal suami. Sekarang cuma sepasang mutiara itu yang nenek punyai.”, tutur nenek tua itu mengisahkan hidupnya.


“Wow sepasang mutiara?, itu mahal sekali kan nek”, cetusku.


“Ya, sepasang mutiara itu adalah dua anak kecil kembar ini. Safira dan Sahira namanya”, tutur sang nenek sambil mengelus rambut kedua putri kecil itu.

Aku agak bingung bercampur penasaran. Nenek tua itu melanjutkan kisahnya.

“Jadi begini ceritanya mas… kira-kira enam tahun yang lalu nenek menolong persalinan seorang mahasiswi yang hamil di luar nikah. Ia mahasiswi perantau dari Pulau sebrang yang terjebak dalam pergaulan bebas. Lelaki yang telah menghamilinya kabur entah kemana. Karena takut diketahui orangtuanya, ia berikan bayinya kepada nenek untuk selanjutnya dirawat. Dan bayi itu kini telah menjelma menjadi sepasang mutiara ini”, lanjut nenek menjelaskan.

“Demi merawat dan membesarkan kedua anak kembar ini nenek rela lakukan apa saja, termasuk mengemis dari masjid ke masjid, dari tempat ke tempat. Nenek ikhlas. Karena nenek yakin suatu saat nanti sepasang mutiara nenek ini akan menjadikan negeri ini bersinar lebih terang”, tutur nenek mengakhiri kisahnya.

Terjawab sudah rasa penasaranku. Banyak pelajaran yang aku petik dari kisah pengemis tua dan sepasang mutiaranya itu.

JOGJA 17-02-2012

Ekor yang Terputus

Ekor yang Terputus
Suatu hari di tepian parit sebuah desa, tampak seekor cicak kecil berusaha berlari menghidari sergapan ular yang sedang kelaparan. Rimbunnya rumput di sekitar situ membantu cicak menyelamatkan diri, tetapi usaha si cicak tidak bertahan lama...
Hup, ekor cicak pun tertangkap sang ular. Dengan kekuatan seadanya, cicak berupaya dan terus berjuang untuk meloloskan diri dari ular itu. Demi menyelamatkan nyawanya, cicak menggunakan upaya terakhir dengan memutuskan ekornya dan segera melarikan diri dengan berlari sekuat tenaganya.

Kebetulan kejadian itu dilihat oleh seorang petani. Karena merasa kasihan, berkatalah si petani kepada si cicak. "Hai cicak kecil, sungguh beruntung kamu bisa menyelamatkan diri dari santapan si ular. Namun sayang sekali ekormu harus terputus. Apakah kamu merasa sangat kesakitan?"

Dengan mata kecilnya, si cicak kecil menatap ke mata simpati si petani sambil menganggukkan kepalanya. Terlihat samar matanya berkaca-kaca.

Si petani tersentuh hatinya dan menawarkan bantuannya kepada cicak itu. "Kemarilah cicak, aku akan membantu membalut lukamu. Aku punya obat luka yang mujarab untuk menyembuhkan lukamu." Si petani lalu mengeluarkan sebungkus obat.

"Terima kasih, Pak Petani. Kami kaum cicak, biarpun kecil dan lemah tetapi telah dibekali oleh Yang Maha Kuasa kemampuan menyelamatkan diri dari bahaya dengan memutuskan ekor di saat yang genting. Walaupun kami merasakan kesakitan saat melakukan itu, tetapi secara alami, alam akan membantu menyembuhkan dan menumbuhkan ekor seperti semula.

Kebaikan hari Pak Tani membalut lukaku, justru akan menghambat pertumbuhan ekor baruku. Terima kasih atas kebaikan hatimu. Aku sendiri sangat bersyukur atas rasa sakit ini. Itu menyadarkan kepadaku bahwa aku harus lebih menghargai kehidupan ini dengan berjuang dan mensyukuri setiap hari yang masih tersisa untukku. Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa pak Tani," si cicak merangkak menjauh sambil memikul rasa sakit yang sangat. Jauh di dalam hatinya, cicak tahu, semua penderitaan ini hanyalah sebuah proses pendewasaan yang harus dilalui.

Kalau menghadapi kesulitan, cobaan, kita hanya bisa merengek, mengeluh minta dikasihani maka nasib tidak akan berubah menjadi lebih baik. Justru harus belajar keras pada diri sendiri untuk tetap tegak, tegar dalam menghadapi setiap masalah yang muncul di hadapan kita.
(Oleh : Andrie Wongso )