Tampilkan postingan dengan label KISAH NYATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH NYATA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 November 2013

Kisah Mengatasi Rasa Takut

Bismillah....MAHA SUCI ENGKAU YAA ROBB dan MAHA SEMPURNA ATAS PENCIPTAAN-MU
Kisah sederhana dan tips sehat dari cerita berikut ini semoga ALLAH SWT. akan membuka kepahaman dan keyakinan bahwa ALLAH tempat bersandar kita dan tempat mengadu kita semua.....amin



Mengatasi Rasa Takut

Seperti kata Sepia Benarkah kita takut hujan? Tidak. Yang benar kita… takut basah! Tuh, lihat. Anak kecil justru main hujan-hujanan karena tidak takut basah. Tapi, takut basah pun masih salah. Yang lebih tepat lagi adalah kita takut dengan konsekuensi basah. Jadi nggak bisa ngantor lah. Jadi malu sama orang lah. Jadi sakit lah.
Takut adalah mekanisme alamiah yang diberikan Tuhan kepada kita. Tujuannya adalah, agar kita menjadi berhati-hati, dan karena itu jadi selamat. Sebenarnya yang kita takutkan seringkali bukan sesuatu yang langsung dihadapi, tapi konsekuensi lanjut dari sesuatu itu. Misalnya, takut hujan. Maksud sesungguhnya adalah takut menjadi basah sehingga jadi malu kepada orang lain, atau jadi sakit. Nah, bila konsekuensi ini tidak lagi menakutkan buat kita (misalnya yakin tidak akan jadi sakit, atau niat sudah pulang dari kantor), maka sesuatu itu juga menjadi tidak lagi menakutkan.

MENGHILANGKAN RASA TAKUT


Takut hantu?

Apa sih yang membuat kita takut hantu? Pasti karena bayangan si hantu itu akan mencekek kita, lalu kitanya jadi mati. Atau si hantu masuk ke dalam diri kita, lalu kitanya jadi nggak sadar, lalu terjun bebas keluar jendela, lalu mati. Pokoknya apapun yang dilakukan si hantu itu… ujung-ujungnya kita mati. Nah, itulah dia! Yang kita takutkan sebenarnya bukan si hantu, tapi ujung-ujungnya kita mati itu. (Padahal statistik bahwa hantu alias jin membunuh manusia itu sulit untuk dipercaya. Ngapain si jin itu capek-capek ’ngerjain kita’, emangnya dia dapat untung apaan? Dunianya juga tersekat berbeda.)

”Loe mikir si jin itu nyekek, lalu loe mati, gitu kan..?” kata temen mengomentari alasan saya mencari tahu soal jin dalam pandangan Islam. ”Kalau kita tidak takut mati, ya kita tidak takut jin…”, kira-kira begitu saran dia.

Nyatanya memang kebanyakan orang di dalam hidupnya tidak akan pernah bertemu jin (dunianya memang beda). Yang sudah ketemu pun ternyata jinnya tidak mau berurusan dengan orang (emang jin gembira begitu ketemu orang? Dulu di TV ada reality show Dunia Lain. Jinnya sering males keluar, tahu dikerjain orang untuk cari duit.). Jadi sebenarnya ketakutan itu lebih karena bayangan dalam pikiran kita sendiri. Kejadian aslinya, jauh berbeda dari yang dibayangkan orang, yaitu jin ternyata enggan bertemu manusia. (Makanya jangan percaya dengan film-film horor hasil imajinasi sutradara yang memang mau cari duit dengan cara nakut-nakutin orang. Jin itu nggak suka pamer seperti di film.).

Jadi, alasan sesungguhnya kita itu takut… mati! Kebanyakan kita itu nyadar bahwa amalannya masih sedikit, lebih banyak dosanya, makanya takut mati. Takut dengan konsekuensi hidup sesuah mati.

Mengurangi rasa takut

Bagaimana mengurangi rasa takut? Jawabannya ada tiga. Satu, mengantisipasi konsekuensi suatu kejadian. Dua, mengetahui lebih banyak untuk mengetahui bahwa konsekuensi yang terjadi tidaklah seperti yang kita andaikan. Tiga, berlindung dengan ahlinya.

Misalnya kita takut ular. Yang betul adalah, kita takut mati karena digigit ular berbisa, atau takut mati dibelit ular besar. Untuk mengurangi rasa takut terhadap ular bisa dilakukan tiga cara.

Pertama, bila takut dengan racun ular, maka seseorang bisa menyediakan serum anti racun ular. Dengan membawa perbekalan serum anti bisa ular, tentu rasa takut ular akan berkurang.

Kedua, mengenal ular lebih jauh. Perhatikan para pawang ular di TV, bukankah mereka tertawa-tawa sambil memegang ular? Bagi mereka, ular bukan makhluk yang asing. Mereka tentu tahu ular berbahaya, tapi mereka mengenal tabiat ular sehingga bisa memperlakukannya dengan benar. (kalau Anda takut berlebihan terhadap ular, mungkin terapi mengenal ular seperti yang dilakukan Paman Tyo yang belajar menyentuh ular piaraan (pet animal)  ini bisa berguna.)

Ketiga, berlindung dengan ahlinya. Kalau kita takut ular, lalu kita minta tolong pawang ular untuk menemani (melindungi) kita, maka rasa takut itupun akan berkurang. Kita tahu, si pawang akan mengurus si ular, jadi kita tidak perlu berurusan dengan si ular tersebut.

Bagaimana mengurangi rasa takut terhadap hantu?

Pertama, tentu saja meningkatkan amal kita sehingga merasa siap untuk mati. Loh? Iya, dengan siap dengan amalan baik, jiwa akan menjadi tenang, dan anehnya justru menjadi lebih berani menghadapi kehidupan ini (termasuk di dalamnya andai ketemu hantu iseng).

Kedua, mempelajari melalui guru yang benar tentang siapa itu jin. Sebuah buku karangan Quraish Shihab berjudul ’Yang Tersembunyi: Jin, Iblis, Setan & Malaikat’ adalah buku yang membahas makhluk-makhluk gaib dengan rujukan dari Qur’an dan Hadits. Tentu ini jauh lebih terpercaya daripada sumber para dukun (yang tentu saja bisa dikelabuhi oleh jin itu sendiri). Menurut Qur’an, jin itu seperti halnya manusia adalah makhluk Tuhan biasa. Ada yang kuat, ada yang lemah. Mati juga seperti manusia. Ada jin yang beriman dan taat, adapula yang ingkar dan durhaka. Dunianya pun berbeda, dan secara umum jin tidak punya kepentingan untuk berinteraksi dengan manusia. Setan adalah sebutan untuk jin maupun manusia yang ’meniupkan’ rasa was-was (ragu-ragu) agar manusia menjauh dari beriman kepada Allah swt. Sifat setan ini bisa dihalau dengan berlindung sungguh-sungguh kepada Allah. Kesimpulan buku itu, musuh kita adalah setan, bentuknya manusia dan jin yang mengajak kepada kedurhakaan terhadap Tuhan. Karena kita menjadi lebih tahu tentang jin (dan ternyata beda banget dengan yang disampaikan sutradara-film-horor-pencari-sesuap-nasi), apalagi tahu bahwa ada jin yang beriman dan taat, maka pandangan kita terhadap jin akan berubah. Lebih netral. Jin dan manusia sama saja, sama-sama makhluk Allah yang tidak berdaya.

Cara ketiga, berlindung kepada penguasa para ’hantu’, siapa lagi kalau bukan Allah, Tuhan pencipta kita semua. Kalau kita senantiasa ingat kepada Allah, yang menciptakan dan menguasai para jin, maka diri kita akan menjadi tenang. Kalau kita selalu ingat bahwa Allah itu Maha Melihat, dan selalu ’ada’ di samping kita, maka kita menjadi jauh lebih berani. Kepada siapa lagi tempat berlindung yang lebih baik, kecuali hanya kepada Allah?

Demikianlah tiga kiat praktis mengurangi rasa takut. Ya takut pada hujan, takut ular, maupun takut hantu.

Kira-kira, bagaimana menerapkan tiga kiat itu untuk mengatasi rasa takut menghadapi kehidupan? Takut kurang uang misalnya, atau takut menghadapi boss misalnya?

catatan kecil :
- kalau kita sudah beriman dan yakin bahwa semua dalam kendali ALLAH, mau dikemanakan lagi...tambahkan rasa syukurmu dan rasa mengingatNYA di setiap waktu. INSYA ALLAH semua masalah dan cobaan akan berlalu dan membuahkan rasa senang atas pemberiaannya.buat rasa cobaan lagi yang hadir dibenak kita tapi rasa kasih sayang ALLAH masih memprhatikan kita.

- Semua dalam ridlo ALLAH atau ijin ALLAH kalau kita mau mengenal pasti dan pasti semua masalah dan cobaan akan terhapuskan dengan pertolonganNYA.

- Perbanyak melakukan kebaikan kepada semua, sholat hajat dan taubat untuk membuka masalah kita dan lakukan amal sedekah untuk memperlanjar hajat kita, bukan tidak ada solusi tetapi kita masih lebih percaya pada masalah kita sendiri.


BACA UNTUK LEBIH BERSYUKUR

Subhanallah, Maha Suci Engkau Yaa Robb
Jadikan kami semua jadi lebih sayang menyayangi dan lebih kasih mengasihi atas semua yang ENGKAU ciptakan.

Dengan rasa tersentuh rasa iba yang mendalam begitu membaca dari salah satu media online tribunnews.
semoga dengan cerita ini kita semakin bisa bersyukur dan saling sayang menyayangi kepada siapapun, semua makluk hidup terutama keluarga kita. amin...



Dua balita di Kota Manado ini, bahu membahu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Termasuk sang bunda, yang justru menelantarkan mereka.



DARI jauh, bangunan berukuran sekitar 4 x 7 meter yang beratap terpal plastik itu sepintas mirip rumah.

Namun, ketika mendekat, bangunan itu lebih mirip tenda penampungan, kumuh. Ditopang beberapa tiang, beberpa lapis dinding dari kayu, namun tanpa jendela dan pintu.



Ada ruang kecil di bagian belakang yang posisinya lebih tinggi, ditopang papan. Namun, lagi-lagi jauh dari sebutan sebuah kamar tidur, karena ayam, bebek dan anjing juga masuk di ruangan itu. Mungkin lebih layak disebut kandang.  
Di dalam bangunan itu, terlihat barang-barang seperti panci, piring, kain-kain kotor dan sejumlah barang-barang lainnya berserakan. Tak jauh berbeda dengan halaman, berserakan potongan seng bekas atap, botol-botol kaca dan batang-batang kayu. Sejumlah baju kotor bertumpuk di sudut bangunan, beberapa lainnya berserakan di tanah.

Bangunan itu adalah kediaman dua bocah, Ramadhan (3) dan Nona (4,5). Mereka tinggal di bangunan ini sejak tiga tahun lalu. Letaknya di atas sebuah bukit kosong, tak jauh dari Perumahan Telkom, Kalasey.  
Kedua bersaudara ini, harus menghidupi diri sendiri sepanjang hari karena ibu mereka, Martha, diduga menelantarkan. Nona pagi-pagi sudah pergi dari rumah untuk bekerja, dan baru kembali malam hari.
Empat ekor anjing langsung menyalak keras, dua ekor di antaranya yang terikat terlihat meloncat-loncat hendak menyerang sambil membuka mulut menunjukkan giginya.

Anjing-anjing itu, seperti terganggu dengan kedatangan sejumlah warga. Karena takut, mereka hanya berdiri sekitar dua meter dari anjing-anjing itu, sebagian membawa tongkat untuk menakut-nakuti hewan peliharaan itu.
"Ramadhan, Nona mari sini. Ramadhan, Nona, kamari jo. Napaini ada gula-gula," ujar seorang warga, Selasa (26/11/2013).

Anjing-anjing terus menyalak keras, bising sekali. Tak lama, Ramadhan muncul dan berdiri di antara sejumlah anjing dan bebek. Ia sepertinya kebingungan. Beberapa kali terlihat akan terjatuh,  namun ia berpegangan pada  tiang.
Sepertinya lututnya lemas. Kemudian ia berjalan tanpa alas kaki,  mendekat sejumlah warga. Baru beberapa langkah, ia terlihat seperti akan terjatuh.
Ramadhan hanya memakai kaos, tak memakai celana. Bajunya penuh kotoran, ada lumpur, hingga kotoran bebek menempel. Aromanya tidak sedap. Tangannya terus menggaruk-garuk, sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka kecil yang terus ia garuk.
Ada luka goresan di bibir, kepala dan beberapa titik di kaki. Beberapa luka terlihat sudah memutih, kemungkinan luka lama. Ia tak berbicara sepatah pun, tangannya beberapa kali menutup wajah. Seperti terlihat takut.

Tak lama kemudian, Nona muncul. Penampilannya tak jauh beda dari adiknya. Namun pakaian bocah perempuan ini sangat memiriskan, ia memakai baju dan celana yang robek disana-sini. Warnanya sudah coklat karena bercampur tanah. Bau tak sedap pun tercium. Bocah manis itu terlihat kurus, tatapan matanya kosong.
Nona sudah bisa berbicara, namun saat itu lebih banyak diam. Hanya menjawab singkat  ketika ditanya sejumlah warga.

 "Mama ja pukul deng kayu di kepala," ujar bocah itu. Tak jauh dengan adiknya, sekujur tubuh bocah manis itu pun terdapat luka-luka kecil baru dan lama. Kulitnya coklat karena kotoran, sepertinya sudah berapa hari tidak mandi.
Selasa siang itu, seorang warga sudah menyiapkan sepiring nasi dan lauk ikan. Baru saja sendok diangkat, kedua bocah itu langsung membuka mulut lebar-lebar. Langsung mengunyah dengan cepat, lalu menelannya.

Dalam beberapa menit, satu piring penuh nasi langsung tandas. Satu botol air mineral juga habis dalam sekejap. Kedua bocah ini kehausan dan  kelaparan.
Seusai makan, terlihat wajah mereka kembali segar. Nona kemudian berlari kesana kemari, Ramadhan terus saja mengunyah roti dan sesekali meminum air mineral.
Kedua bocah itu beruntung, hari itu mereka bisa menikmati satu piring nasi dan beberapa potong roti. Tak setiap hari warga bisa memberi makan.
"Kita serba salah, kalau ibu mereka tahu kami memberi makan, mereka pasti dimarahi an makanan dibuang. Beberapa kali warga  kasih baju, malah dibuang oleh ibunya, tidak boleh dipakai," ujar Oma, warga setempat.

Yang memiriskan, kadang warga terpaksa hanya menaruh makan di piring dan menaruh di jalan. Itu dilakukan warga, karena kedua bocah itu kerap berkeliaran dan tak menetap. Saat lelah berjalan dan merasa lemah karena lapar, mereka bisa tidur lelap di mana saja.

Semoga dari cerita diatas ALLAH SWT. memberi pertolongan dan berakir kemuliaan kepada kedua balita tersebut 
amin
mohon doa para pembaca untuk mengaminkan atau berkirim fatekah....Semua Doa untuk kedua balita diatas. insya ALLAH akan memberikan yang sama atas kebaikan saudara-sadara semuanya, amin

 


Jumat, 21 September 2012

CARA ALLAH SWT. MEMBERI REZEKI

CARA ALLAH SWT. MEMBERI REZEKI

Andaikata, uang kita diambil satu bagian, lalu dikembalikan sebanyak tujuh belas kali lipat, maukah kita? Andaikata, yang mengambil tidak memberitahu lebih dahulu, kalau nantinya akan dibayar dengan berlipat ganda, maukah kita?

Marilah kita ikuti pengalaman nyata seorang bapak muda yang cukup menarik untuk dikaji. Sebutlah Pak A. Sekitar 14 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988, seorang muda yang baru dikarunia seorang anak, is bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya yang tinggal sebentar lagi selesai. Gaji yang didapatkan dari pekerjaannya itu setiap bulannya dapat dikatakan sangat tidak cukup untuk biaya hidupnya beserta istri dan seorang anak kecilnya.

Suatu hari yang “naas” ia pulang dari kerjanya. Dengan penuh gembira ia membawa pulang gaji pertamanya yang sebesar Rp. 40.000,- (Empat puluh ribu rupiah). Dengan perasaan bangga dan penuh dengan rasa gembira ingin ditunjukkannya hasil kerjanya itu kepada istri tercintanya.

Ingin sekali ia cepat-cepat sampai di rumah dan dengan uang itu ia ingin belanja bersama istri dan anaknya, maklum gaji pertama adalah gaji yang mempunyai nilai “historis” tinggi.

Setelah sampai di rumah apa yang terjadi? Ternyata dompet yang berisi gaji satu bulan tersebut sudah tidak ada di saku celananya alias kecopetan ketika ia pulang dari tempat kerjanya.

Bisa dibayangkan betapa sedih, kecewa dan bingungnya ia ketika itu. Andaikata bisa, mungkin ia akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan mungkin ia akan protes kepada tuhan yang telah “mengijinkan” peristiwa itu terjadi. Karena ia telah bekerja dengan keringatnya tanpa kenal lelah dengan penghasilan yang halal demi keluarga tercinta.

Waktu satu bulan sungguh terasa sangat lama untuk menunggu gaji tersebut. Tapi apa mau dikata gaji pertamanya sudah harus ia relakan untuk tidak ia miliki saat itu. Bagaimana jika peristiwa itu terjadi pada diri kita? Sanggupkah kita menerimanya dengan ikhlas?

Apa yang ia lakukan selanjutnya? Ia duduk terdiam tanpa bisa berkata apa-apa sambil memandang istri dan anaknya, mengapa hal ini harus terjadi pada dirinya? Dalam kondisi seperti itu dengan hati terasa pedih ia mencoba tegar dan berpikir praktis. Biarlah uangnya hilang, toh peristiwa sudah terjadi, mau diapa lagi….?”

Akhirnya diambilnya keputusan untuk tetap berusaha kalau-kalau dompet tersebut masih mungkin untuk ditemukan, walaupun secara logika sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan kembali uangnya tersebut. Ia berusaha mengambil hikmah dari kejadian itu meskipun dengan perasaan yang tidak karuan sedihnya.

Keputusan segera diambilnya, yaitu tetap berusaha untuk mencoba mendapatkan kembali dompetnya karena di dalamnya ada beberapa surat berharga, diantaranya stnk kendaraan bermotor, ktp, dan beberapa surat penting lainnya.

Akhirnya untuk mendapatkan kembali surat-surat yang hilang tersebut ia menulis surat pembaca pada sebuah surat kabar, yang intinya: biarlah uang itu hilang, asal surat-suratnya dapat kembali, dan ia berharap jika ada orang yang menemukan dompet itu, ia minta tolong agar di antarkan ke alamat yang tertera dalam ktp tersebut.

Apa yang dilakukan hari-hari berikutnya? Setiap hari ia membaca surat kabar, kalau-kalau ada berita tentang dompetnya yang hilang. Ketemukah dompet tersebut? ternyata tidak!

Lalu dimanakah keindahannya peristiwa itu? Keindahannya ialah terletak pada keharusannya ia membaca surat kabar tersebut. Seolah-olah Allah menyuruh dia untuk membaca surat kabar setiap hari, dengan cara “mengijinkan” seseorang untuk mengambil dompetnya…

Lalu apa yang terjadi hari berikutnya? Dengan membaca surat kabar setiap hari, tanpa terasa suatu saat ia menemukan suatu tulisan pada disiplin ilmu yang dikuasainya yang menurut pendapatnya hal itu kurang tepat, akhirnya ia mencoba menulis untuk mengulas dan menyanggahnya.

Waktu berjalan dengan cepat. Ia telah lupa pada dompetnya yang hilang, dan saat itu ia asyik menulis sesuai dengan kemampuannya yang sesuai pula dengan disiplin ilmunya.

Hal ini berlangsung beberapa bulan sejak terjadinya peristiwa naas tersebut. Selanjutnya ia sering menulis dan menanggapi tulisan orang lain sampai berulang-ulang sehingga ia menjadi seorang penulis. Meskipun masih pemula, pada surat kabar tersebut. Lalu?

Karena kemampuannya menulis dinilai cukup baik, oleh pimpinan perusahaan ia dipanggil dan ditawari untuk bekerja diperusahaan tersebut dengan gaji pertama Rp 750.000,- Tujuh belas kali lipat lebih tinggi dibanding uangnya yang telah hilang waktu itu.

Itulah rupanya jawaban Allah atas kejadian yang menimpa seseorang, bila sabar menerimanya. Allah “meminjam” 1 bagian, dan kini dikembalikan menjadi tujuh belas kali lipat lebih.

Waktu berjalan terus tanpa terasa, dan pada saat saya menulis ini, ia telah mencapai sukses gemilang dengan penghasilan yang ribuan kali lipat dibanding uang yang hilang dulu.

Apakah ini merupakan puncak keindahan dari peristiwa yang terjadi di hari “naas” itu, atau bahkan Allah Yang Maha kuasa akan menunjukkan pada sesuatu yang lebih indah lagi….wallahu’alam.

Yang pasti, ukuran sukses yang paling besar adalah hati yang damai, dan bahagia yang tercapai. Saya yakin setiap orang pernah mengalami kejadian yang senada dengan kejadian diatas. Hanya saja mungkin skala dan situasinya yang berbeda.

Marilah kita renungkan perjalanan hidup kita masing-masing, pasti kita pernah mengalami suatu kejadian, dimana kejadian tersebut kita sangka sesuatu yang menyusahkan, merugikan, dan menyedihkan.

Tetapi hal itu akan berubah menjadi sesuatu yang indah, apabila seseorang sabar menerimanya. Akhirnya muncullah hikmah yang sangat besar yang tiada tersangka sebelumnya.

Sungguh, Allah Maha Perencana dari segala macam kejadian dan peristiwa. Setiap peristiwa yang sudah terjadi, bagi seorang muslim merupakan ketetapan Allah yang sangat indah. Karena disitulah letak ukuran dan ujian kualitas taqwa seseorang…

***

Dari Sahabat

Kamis, 17 Mei 2012

KENAPA? PERTOLONGAN ALLAH TERTUNDA...

KISAH INI SANGAT MENARIK UNTUK KITA KAJI KARENA BUAT MENAMBAH KEYAKINAN DAN METODE PERTOLONGAN ALLAH SWT ITU YANG SEPERTI APA ?
Diambil dari Buku Kisah Penuh Hikmah 1 :

PERTOLONGANB ALLAH

Karunia pertolongan ALLAH Azza wa Jalla terkadang “definisi”-nya tidak mesti sama dengan apa yang terpikir dalam benak dan terbetik dalam untaian harapan kita. Bisa jadi apa yang kita artikan dan kita dambakan lewat doa ataupun cetusan hati itu berupa ‘A’, ternyata yang datang berbentuk ‘B’. Sayangnya, kita kerapkali tidak menyadarinya. Kita anggap bahwa ALLAH tidak menolong kendati sudah ‘habis-habisan’ berdoa.

Akan tetapi, bagi orang yang sudah memiliki makifat, tentulah tidak akan atau setidaknya tidak akan berlama-lama terjebak dalam buruk sangka seperti itu. Dia akan diberi kesanggupan oleh ALLAH untuk dapat menangkap hikmah dibalik setiap kejadian. Dan oleh karena itu, cepat atau lambat akan segera disadarinya bahwa ALLAH Azza wa Jalla sama sekali tidak akan pernah lalai dalam mengurus hamba-Nya dan tidak akan pernah lupa untuk mengabulkna doa-doanya.

Ketika suatu waktu kita ingin pertolongan ALLAH dan ternyata pertolongan itu belum datang juga seperti yang kita inginkan, namun kita tetap bisa berdoa dan shalat tahajud, maka itu pun harus membuat kita puas. Mengapa? Sebab, karunia ALLAH tidak harus berbentuk material seperti yang kita inginkan. Kita bisa berdoa, kita bisa tahajud, dan kita bisa tetap bersungguh-sungguh dalam meminta, itu pun merupakan karunia besar. Bahkan bisa jadi lebih besar daripada apa yang yang kita minta, baik berupa uang ataupun aneka bentuk pertolongan lainnya.

Ketika kita diuji dengan lilitan hutang, misalnya, lantas kita setiap malam menangis dan berdoa, “Ya, ALLAH. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang Mahakaya. Jagat raya alam semesta ini sungguh milik-Mu. Bayangkanlah hutangku, ya Rabb.” Akan tetapi, ketika ternyata hutang-hutang itu tak bisa terbayarkan juga, maka bukanlah itu berarti doa kita tidak dikabulkan-Nya. Sesungguhnya, kesanggupan kita untuk bangun setiap malam dan memanjatkan doa dengan penuh harap, ini pun karunia ALLAH yang amat besar. Apa sih artinya hutang bagi ALLAH yang Mahakaya? Mungkin dengan hutang itu ALLAH justru sedang menjerat seorang hamba-Nya agar semakin dekat kepada-Nya.

“Ya, ALLAH. Usahaku saat ini sedang macet. Tolonglah, ya ALLAH. Bukanlah Engkau Mahakaya, Pemiliki segalanya?” Subhanallah. Bukankah sangat jarang kata-kata seperti ini terucap dari lisan seseorang ketika dia sedang dalam keadaan makmur? Sungguh mahal kata-kata makrifat seperti itu, yang bisa jadi terlontar dari lisan kita justru tatkala kita sedang dalam kesusahan. Nah, siapa tahu itu merupakan karunia yang lebih besar daripada dilapangkan seketika oleh ALLAH.
Jadi, kita terus-menerus memohon, menghiba-hiba, dan dengan sekuat tenaga memaksakan diri mendekat kepada ALLOH, itu pun adalah karunia ALLAH yang lebih besar dari pada yang kita mintakan dalam doa.

Anda datang menghadiri pengajian di majlis taklim karena suatu kesulitan dan kesempatan yang tengah di hadapi, lalu anda dengarkan ceramah sang mubaligh; itu lebih baik daripada doa yang kita minta. Karena dengan cara ini mungkin lebih banyak yang terselesaikan daripada satu penyelesaian masalah yang kita mintakan dalam doa.

Anda minta dimudahkan urusan oleh ALLAH tetapi malah diberi ilmu; bisa jadi itu lebih manfaat daripada kemudahan urusan yang anda cari. Karena, dengan ilmu justru lebih banyak urusan yang bisa terselesaikan. Demikian juga bila anda sedang mempunyai masalah dengan tetangga atau orang tua, tetapi Anda telah datang kepada ulama untuk menuntut ilmu; itu ‘kan merupakan masalah yang dapat membuat kita menjadi lebih baik.

Walhasil, janganlah takut oleh suatu masalah karena pertolongan ALLAH itu teramat dekat. Dan bentuknya yang mahal adalah ketika kita berubah menjadi semakin taat kepada ALLAH. Sekali lagi, semua itu adalah karunia yang jauh lebih besar daripada yang kita minta.

Wassalam

UNTUK VIDEO PENJELASAN LEBIH DETIL SAUDARAKU YANG DIRAHMATI ALLAH BISA MEMUTAR VIDEO DIBAWAH INI :

Sabtu, 18 Februari 2012

Keajaiban Sedekah Pada Anak Yatim

Keajaiban sedekah pada anak yatim

pada tanggal 7 desember 2008, saya mengikuti ujian cpns kabupaten batang. Pada saat itu saya sedang menderita sakit fisik maupun sakit batin............................ sakit fisik karena saya sedang berada di puncak flu berat, sakit batin karena saya baru saja tertekan karena gagal dalam wawancara departemen kelautan dan perikanan di sidoarjo...........
sore hari pada h-1 sebelum hari ujian, saya sudah berada di tempat ujian, selain untuk memeriksa ruang ujian, sekalian saya menginap di masjid kompleks ujian di SMK Nusantara Batang......... ternyata kompleks SMK Batang merupakan kompleks pendidikan yang menyatu dengan asrama yatim piatu......... agak kikuk juga sich waktu pertama kali sholat maghrib dan isya di sana...........habis penampilanku kayak orang udik...............hihihi...........
waktu terus berlalu dan kemudian tibalah saatnya untuk mencoba memejamkan mata......sambil membunuh kesepian dengan sms-an dengan gadis pujaan..........hehehe...kebetulan waktu itu malam minggu dan saya sendirian menginap di masjid tersebut........karena peserta yang lain pada membooking hotel di pekalongan sampai kabarnya hotel/penginapan2 di sana penuh......tapi tidak apa-apa, sudah saya tekati (bertekad) dari rumah bahwa sebelum berhasil memang harus laku prihatin (bersusah payah) dulu...................
kemudian pada sekitar jam sembilan ada ibu beserta beberapa orang anak wanita menghampiri saya dan menyapa sambil membuka kunci masjid supaya saya tidur di dalam saja.....................di luar dingin katanya.............subhanallah...................ibu ini sama sekali tidak menaruh curiga pada saya (nggak seperti kebanyakan orang jaman sekarang yang curigaan). akhirnya saya pun memindahkan tas bawaan saya ke dalam.........dan kemudian mengobrol dengan seorang anak laki-laki yang kerap menginap di masjid tersebut, tak lupa, Bapak takmir masjid tersebut- saya lupa namanya- Bapak dari seorang pengusaha catering besar di Batang (semoga cateringnya makin laris ya.............) menghampiri dan menyapa saya untuk sekedar ngobrol ngalor-ngidul.
Dari obrolan itulah baru saya ketahui bahwa kompleks SMK Nusantara tersebut menjadi satu dengan asrama anak yatim....................................subhanallah......ternyata mereka pengertian sama saya dengan membukakan pintu masjid dan menyuruh saya masuk ke dalam masjid dan menyuruh tidur di dalam.........................semoga Allah merahmati mereka. coba kalo saya menginap di kompleks perumahan orang borju, dah pasti saya diusir..............hehehe....
singkat cerita selangkah kemudian saya mencoba memejamkan mata di dalam masjid,tapi tidak bisa karena saya justru sedang mengalami puncak flu berat yang saya alami.............hidung saya meler...........bersin keras...........dsb. saya sudah pasrah dengan ujian saya esok dengan kondisi yang kurang memungkinkan tersebut. sampai pada suatu pagi, saya mencoba sedikit mencari udara segar pagi hari setelah subuh sambil cari makan, tetapi makanan tersebut bukan untuk saya.........tapi saya bungkus untuk saya berikan pada anak yatim di sana.......
singkat cerita kemudian, saya berterimakasih dengan bapak takmir masjid tersebut , sambil menyerahkan amplop 20 ribu kepada bapak takmir tersebut......untuk kesejahteraan masjid saya bilang..........tapi bapak tersebut menolaknya.......saya tetap bersikeras dan memaksa bapak tersebut untuk menerima uangnya.........bukan untuk bapak tersebut, melainkan untuk kesejahteraan masjid (bapak tersebut udah kaya kok..............orderan cateringnya udah menguasai kota pekalongan segala......hehehe). Akhirnya Bapak tersebut bilang ke saya: " berikan saja uangnya kepada anak-anak yatim itu...............pasti barokah". saya tambah semangat, lha wong mereka anak yatim, kekasih Allah, dan saya mempercayai betul ucapan bapak tadi. Dengan semangat 45 saya berikan saja nasi bungkus dan uang 20 ribu tadi kepada anak yatim tersebut.
cerita berikutnya berlanjut ke ujian.........
saat ujian saya betul2 tersiksa dengan kondisi tubuh saya yang masih mengalami flu berat tersebut..........selama di ruang ujian, saya selalu slendap-slendup (nggak tau bahasa betawinya akh.........., keseringan baca the jakarta post sih, jadi kurang bisa mengartikan ke bahasa gaul hehehe...) karena hidung saya terus meler. akhirnya saya tidak bisa mengerjakan soal dengan maksimal. berikut persentasinya:
1. Mengerjakan soal dengan yakin = sekitar 15-20 persen
2. Mengerjakan soal dengan setengah yakin=60 persen
3. Mengerjakan soal dengan sangat nggak yakin= 10 persen.
4. mengerjakan soal dengan awur-awuran (sama sekali hanya menebak) = 15 persen.
akhirnya saya hanya pasrahkan saja hasilnya.............Pikiran rasional saya mengatakan bahwa peluang saya kecil sekali.
cerita berikutnya...........
teman saya yang baru saja berhasil lolos seleksi cpns di depkeu mengajak saya untuk bersenang-senang merayakan kelolosannya dengan menginap di hotel berbintang di kawasan malioboro yogya...........tapi saya tolak, karena jelas nggak barokah.......sebagai gantinya saya mengusulkan agar membagi sedekah saja kepada kalangan nggak mampu. Kemudian kami sepakat dan beberapa hari kemudian kami meluncur ke kawasan kota lama Semarang untuk membagikan nasi bungkus kepada para tukang becak disana...............dan masya Allah.......inilah realita kemiskinan yang selama ini tidak pernah saya lihat, banyak kakek-kakek yang masih menjajakan tenaganya menarik becak untuk mencari sesuap nasi...........di tengah guyuran hujan dan genangan banjir..............masya Allah.........selama ini saya hanya bisa bersenang-senang dan buta terhadap masalah ini......kalaupun saya mendengar kemiskinan yang amat sangat, itu hanya saya saksikan di TV dan Koran, lha wong kenyataannya penjualan motor di negara kita naik terus, dan motor teman saya selalu baru-baru.
Pada waktu itulah dibukakan mata saya bahwa kemiskinan dan kesenjangan tidak hanya ada di TV, tapi betul2 di depan mata kita..............di sekeliling kita...............saudaraku.

Pada sekitar tanggal 28 desember, saya melamun di tangga pintu utama masjid baiturahman semarang.................memikirkan jodoh dan pekerjaan..........saat itulah saya didatangi dua pengemis cilik......langsung saja mereka berdua saya beri masing-masing Rp.500, pengemis kedua, gadis kecil lalu bilang ke saya kalau dia mendoakan saya supaya saya dapat rejeki banyak..............langsung saja saya terloncat kegirangan...........karena saya baru saja membayangkan dapat istri cantik. Ah, siapa tahu habis ini saya dapet jodo cantik................dan kemudian...................

Seiring waktu berlalu tanggal 31 Desember pagi kakak saya menelepon, dan katanya saya masuk dan ketrima. Langsung saja saya berteriak alhamdulillah........histeris........dan langsung meluncur membeli Jawa Pos terbitan hari itu yang dijual agak mahal karena ada info pengumuman seleksi pengadaan CPNS. Segera saja saya membuka halaman pengumuman Pengadaan CPNS Kabupaten Batang tahun 2008 untuk formasi arsiparis, nomor 2, dengan nama BAGUS PRIYATMOKO. Alhamdulillah.............ya Allah.
ya Rob...............terimakasih beribu-ribu kali hanya untukmu........................dan maafkan hambamu bila selama ini selalu berprasangka buruk terhadapmu...........................................................................Rob...............terimakasih beribu-ribu kali hanya untukmu........................dan maafkan hambamu bila selama ini selalu berprasangka buruk terhadapmu...........................................................................

Pengalaman dengan mukjizat sedekah

Pengalaman dengan mukjizat sedekah

akang-akang, teteh-teteh, sebagai makhluk sosial kita pasti saling membutuhkan kan yaaa, petani butuh tukang pupuk, tukang pupuk butuh petani. penumpang butuh angkot, angkot butuh penumpang. dan perlu disadari bahwa ternyata orang kaya butuh orang miskin, orang miskin butuh orang kaya.
disini gw cuma pengen share pengalaman hidup gw yang kayak sinetron tapi dikehidupan nyata (minus karakter antagonis yang lebay+kecelakaannya y). gw juga ga bermaksud riya, toh juga kalian ga kenal gw. tapi gw bermaksud untuk jgn pelit terhadap pengemis (tapi liat2 juga klo masih muda, sehat ngemis mending jgn dikasih, suruh kerja aja). karena pengemis butuh uang kita untuk hidup, dan kita butuh doa dan pahala dari dia.

gw ingeeeeeet bgt. tahun 2004, bokap gw meninggal. ya jelaskan, yg namanya orang meninggal ada warisan dan alhamdulillah warisannya bukan hutang. karena bokap gw meninggal, nyokap gw jadi tulang punggung keluarga saat itu. klo sekarang alhamdulillah, 2 orang kk gw udah kerja dengan sukses (pengen ngerubah nasib).

sama nyokap gw, warisan itu digunakan untuk modal beberapa usaha. jumlah warisan dan usahanya ga perlu disebutin. salah satu dan modal terbesar (sampe 70% dari jumlah warisan) usaha nyokap gw dijalanin sm tetangga (sebut aja namanya KUNTI). peran nyokap gw disitu cuma sebatas investor, ya klo di CV mungkin bisa dibilang komanditer pasif. singkat cerita, nyokap gw pada tahun 2006 baru sadar klo modal dia udah abis TERTIPU sama dia, padahal kita udah deket bgt loh, dan lagian dia jenis kelaminnya cw tanpa ada tampang garong. satu pesen: dont judge book by the cover

nyokap gw melakukan kesalahan fatal. dia dateng kerumah Kunti dengan membawa seluruh pembukuan keuangan disertai Pistol milik alm bokap. tapi nyokap gw berani sumpah klo pistol itu cuma buat nakut2in, cuma ditongolin dari tas tanpa dipegang sama sekali. ngeliat itu, si Kunti ketakutan dan bilang 'saya mau bunuh diri aja bu'. nyokap gw yang sangat keibuan ga tega, akhirnya nyokap gw milih nyelesein kasus ini secara kekeluargaan, dengan minta jaminan apapun yang sejumlah dengan uangnya.

karena nilai jaminan ga sampe 50% dari hutang, dan si Kunti berniat pindah akhirnya nyokap memutuskan untuk lapor ke Polda DKI. ini adalah kesalahan ke2, karena rumah saya sudah masuk ke Tangerang. ternyata si Kunti malah membalas melaporkan nyokap gw dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan (bawa pistol) ke polsek deket rumah. yaa, sesuai Jurisdiksinya, kita kalah. nyokap gw ditahan 2 minggu, sedangkan si penipu bebas2 aja diluar, lebih ngenes lagi gw baru tau klo uang keluarga gw dipake buat SEDOT LEMAK DAN PERAWATAN KECANTIKAN.

padahal waktu itu gw lagi persiapan mau UAN dan SPMB (sekarang UNMPTN). gw stres bgt. saran: buat yang mau kurus stres lah, karena gw dalam 2 minggu berat badan gw turun dari 60kg menjadi 53 kg dan sampe sekarang blm naik2 lagi.

disingkat aja ceritanya, akhirnya setelah 2 minggu nyokap gw dalem tahanan polsek, kita sepakat damai dengan catatan:
1. saling cabut laporan (padahal ini kan delik biasa bukan sih?)
2. hutang Kunti dihapuskan

mendengar permintaan pihak Kunti kayak gini, anak2 nyokap gw berembuk dan memutuskan untuk menerima. gpp uang ilang, asal jgn masukin nyokap gw kedalem penjara lagi.

mulai saat itu, hidup gw sulit secara ekonomi. nyokap jadi sering ngutang telor ke warung sebelah, uang jajan gw jadi tinggal uang ongkos doang ga bisa jajan, dan makan sehari-hari cuma pake paling banyak 2 lauk tanpa susu dan buah.

itu masih gpp, yg bikin gw sedih: gw ga bisa kuliah, ga ada uang. gw cwo sejati, tapi saat itu gw nangis pgn kuliah. gw ga bilang ke nyokap si, cuma ngomong dalem hati sambil nangis dikamar.
sampai suatu ketika, gw pulang sekolah malem2 naik angkot. angkot gw dengan kurang ajarnya ngoper gw ke angkot belakang, tapi sialnya gw, gw ga dapet kursi. lagi nunggu angkot dateng, ada pengemis bapak2 buta pake topi bunder bawa tongkat (namanya juga buta) lewat depan gw. gw tau dia pengemis, tapi dia ga minta ke gw. lalu gw datengin dia, dan gw kasih semua uang gw buat dia kecuali ongkos angkotnya. kecil emg, gw inget gw cuma punya 7000, 5000 buat dia, 2000 buat angkot. dan gw bilang ke dia 'pak, doain saya sukses ya'. lalu dia jawab, 'alhamdulillah, terimakasih dek'. gw akuin klo iklasnya gw pake berharap imbalan. tapi berharap imbalan dari Tuhan kan gpp.

beberapa hari kemudian, bibi gw (adik bokap) yang seorang dokter dan tinggal diBandung tlp rumah nanyain kabar keluarga gw dan nanyain rencana gw kedepan. nyokap gw bilang gw pgn kerja dan minta bantuin cari kerja. ga disangka2, bibi gw bukan nawarin kerjaan, tapi malah nawarin BEASISWA FULL dengan Biaya hidup gw selama kuliah, dimanapun gw kuliah. bahkan gw disuruh ikutan ujian mandiri salah satu universitas negeri di Bandung. yah, namanya ujian mandiri harganya Mahal.

dan sekarang gw berhasil kuliah diuniversitas yang emg dari dulu gw pgn. gw gatau ya ini sugesti gw doang berkat sedekah tadi, tapi gw yakin seyakin-yakinnya sesuai dengan ajaran agama gw bahwa menolong orang lain akan dibalas dengan tuhan berlipat-lipat jumlahnya. dan InsyaAllah, gw yakinin ini sampe gw mati.

terimakasih buat yang udah baca, moga2 bermanfaat buat semuanya. last word: Tuhan itu maha adil, si kaya diuji dengan keiklasannya, si miskin diuji dengan kesabarannya.

by kiky.impressive; 10-01-2011 at 06:49 AM..

Ingin Punya Anak? ....Bersedekahlah..!!!

Ingin Punya Anak? ....Bersedekahlah..!!!

Aku sendiri pernah mengalami betapa sedekah mampu mempercepat tercapainya doa yang kita inginkan.

Sejak aku menikah tahun 2001 aku termasuk agak lama punya anak yaitu di tahun 2006. Jadi hampir 5 tahun aku baru dikaruniai anak. Tahu sendiri kan bila kita nggak punya anak……selalu saja diledekin oleh saudara2. Walaupun itu cuman “guyon” tapi lama-lama risih juga. Kadang aku berpikir memangnya aku dan istriku yang menciptakan anak?....Bukankah anak adalah titipan Allah…dan tentu saja Allah lah yang menciptakannya.
Sering aku baca surat Yasin dan membaca artinya terutama yang ayat 77 artinya : “ apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi musuh yang nyata”. Sejenak aku merasa damai dan tenang. Entah ketenangannya sesaat atau bahkan hanya bertahan sampai ada komentar baru dari teman2 dan keluarga lainnya.

Aku merasakan betapa beratnya beban yang ditanggung oleh istriku pada saat itu. Untuk itu segala usaha aku lakukan. Mulai dari periksa kedokter….minum obat-obatan….baik yang herbal maupun yang sintetik. Vitamin E menjadi makanan sehari-hari. Minum kolak kacang ijo setiap hari. Dan bahkan sampai minta doa-doa kepada saudara-saudara yang kebetulan baru naik haji dan masih banyak yang lainnya.

Waktu itu aku percaya bahwa Tuhan tentu tahu dan mengerti kondisi makhluknya. Aku berpikir positif saja bahwa mungkin belum waktunya aku memiliki seorang anak. Namun dalam doa dan ikhtiar, aku dan istriku selalu merasa bahwa suatu saat nanti kami insya Allah mempunyai anak. Seorang anak yang sholeh……dan menentramkan hati siapapun yang memandang.

Aku dan istriku juga mencoba beberapa ramuan seperti madu dan serbuk kayu manis. Kemudian selalu mengamalkan beberapa ayat dari alQuran yang diberikan oleh seorang ustad. Pokoknya apapun cara yang hallal dan rasional semua kami usahakan waktu itu.

Bahkan pernah suatu saat istriku periksa ke dokter dan dinyatakan rahimnya ada suatu infeksi dan harus minum antibiotika selama 2 bulan terus menerus. Sampai kadang2 istriku merasa mau muntah ketika melihat obat tersebut. Akhirnya aku mengatakan kepada istriku……” Nggak usah di teruskan minum antibiotikanya……mulai sekarang kita pasrah total saja kepada Allah”.

Akhirnya aku dan istriku menikmati seluruh waktu seperti layaknya dua orang yang sedang pacaran. Kami tinggalkan semua pemikiran tentang punya anak dan berusaha mensyukuri apapun kondisi saat itu. Di samping masih mengamalkan doa-doa aku juga mencoba mengamalkan sedekah. Sedekah ini agak unik dan hanya merupakan letupan ide yang sesaat namun aku ingin sekali melakukannya.

Yaitu bila aku atau istriku bertemu dengan seseorang yang menurutku “tidak mampu” saat itu juga aku atau istriku akan memberikan sedekah kepada orang tersebut dan seraya meminta di doakan agar punya anak yang sholeh ataupun sholehah.

Entah sudah berapa kali aku dan istriku selalu melakukan itu . Baik di rumah…di pasar…atau bahkan di jalan-jalan. Saat berada di kereta api atau atau di bus kota….kalau menemukan orang2 yang “menyentuh hati”…..kami selalu memberikan sedekah berapapun dan langsung tanpa pikir panjang (spontan).

Sampai akhirnya ..sewaktu aku dan istriku sedang antri di Makro yogya. Kebetulan waktu itu pas pembukaan makro pertama kali di yogya. Sehingga banyak sekali yang antri bahkan berebut untuk mendapatkan barang2 dengan harga yang murah sekali. Tiba-tiba istriku merasa perutnya sakit dan keringat dingin.

Akhirnya aku meminta istriku untuk istirahat saja. Sore harinya periksa ke dokter kandungan di Klinik Rahmi di daerah Ngabean yogyakarta. Dan...alhamdulillah...istriku dinyatakan positif hamil…dan diharuskan untuk bath rest atau istirahat total selama 3 hari berturut-turut sampai fleknya hilang.

Dan betul selama istirahat total istriku hanya boleh ke kamar mandi selebihnya hanya berbaring selama 3 hari. Setelah 3 hari ternyata fleknya sembuh dan akhirnya boleh kembali beraktifitas biasa.

Kalo anda ingin meminta sesuatu yang besar kepada Tuhan…silahkan lakukan tips-tips di atas …insya Allah akan di kabulkan.

Salam syukur dan bahagia…!!!

Rabu, 08 Februari 2012

Kekuatan Sedekah Rp 5.000

Kekuatan Sedekah Rp 5.000 Membawa Anugrah Hidup
By Chana

Saya lupa tepatnya tanggal berapa di mana dan jam berapa, tapi yang pasti itu jam setelah maghrib dan di daerah rawamangun, Jakarta ;)
Waktu itu saya sedang mencari ATM (Anjungan Teller Mandiri) Bank Mandiri, bersama pacar saya dia yang menyetir mobil. Kebetulan ATM itu berada di tempat yang mengharuskan memotong jalur lawan arah, kira-kira begini deh…

Sebenarnya tidak sulit untuk memotong jalur seperti itu walau dalam keadaan jalan yang agak macet, tapi pacar saya tidak lebih hati-hati untuk melihat situasi, jadilah dia menyerempet mobil orang. Pintu kanan mobil pacar saya pun bengkok cukup parah dan sangat terlihat pada pintu belakangnya, sedangkan mobil yang diserempet cuma lecet.

Berdebat-berdebat antar kedua pemilik mobil jauh di luar sana, entah mereka nego apaan saya nggak ngerti karena saya nungguin di dalam mobil :arrow: abisnya bingung. Akhirnya pacar saya masuk ke mobil dan meminjam uang saya untuk ganti rugi pada orang yang diserempet :| nasib..

Akhirnya saya mengambil uang di ATM dan memberikannya (meminjamkan :lol: ) pada pacar saya. Setelah pacar saya pergi untuk memberikan uang tersebut pada orang-yang mobilnya diserempet- itu, ada seorang ibu-ibu menghampiri saya. Ibu itu meminta saya untuk memberikan sumbangan untuk panti asuhan yang dikelola suatu yayasan. Saya pertamanya bingung, ini kena lagi kena susah kenapa ada orang minta sumbangan:?: Dan tiba-tiba saya pun teringat cerita guru les saya dulu, kalau dia pernah mendapat berkah dengan bersedekah disaat susah. Akhirnya saya menyumbang Rp5.000 atas nama pacar saya.

Sekitar 5 menit setelah ibu itu pergi, pacar saya pun kembali dengan wajah stress. Permasalahan antar pemilik mobil memang sudah selesai, tapi permasalahan pacar saya belum selesai karena mobil itu bukan benar-benar milik dia tapi punya mamanya. Makanya dia pun stress membayangkan mamanya yang memarahi dia nantinya. Saya pun berusaha menenangkan walau dia masih aja stress. :lol:

Esoknya saya menanyakan pada pacar saya apakah dia sudah dimarahi atau belum. Pacar saya malah tertawa dengan aneh karena ternyata orang rumahnya termasuk mamanya nggak ada yang sadar kalau pintu belakang ada yang bengkok! Saya bingung dan bertambah bingung karena pacar saya bilang mobilnya saat itu sedang dibawa mamanya pergi ke puncak bersama papanya. Alhasil pacar saya tidak jadi stress dan malah bingung kenapa tidak ada yang sadar. Sekitar 2 hari kemudian, mamanya sudah pulang dan saya kembali menanyakan bagaimana akhirnya pada pacar saya lewat telepon. Pacar saya kembali tertawa karena ternyata mamanya belum sadar juga. Saya pun ikutan bingung.

3 hari kemudian barulah bengkok mobil itu ketahuan. Saya mengetahuinya ketika saya menanyakan pada pacar saya lagi. Dan dia pun tidak dimarahi seperti bayangan dia sebelumnya. Mamanya hanya mengomel sebentar dan berlalu layaknya tidak ada kejadian apa-apa.

Saya takjub, :shock: , dan bertanya-tanya kenapa bisa seperti itu. Padahal bengkok mobil itu bisa terlihat walau dari jauh sekalipun. Tapi kenapa bisa nggak ketahuan selama 5 hari?

5 hari? Akhirnya saya mengingat-ingat kembali kalau saya menyumbangkan uang Rp5.000 pada ibu-ibu yayasan panti asuhan pada hari kejadian 5 hari sebelumnya. Saya berpikir, apakah itu kekuatan dari jumlah yang saya sumbangkan atas nama pacar saya? Atau hanya kebetulan belaka? Entahlah, memang cepat atau lambat pintu yang bengkok itu akan ketahuan juga, tapi saya rasa ketidaksadaran itu bukan kebetulan ;) . Mungkin itu memang kekuatan dari sedekah itu sehingga menutup mata orang rumah pacar saya untuk menyadari akan bengkoknya pintu. Saya jadi berpikir kalau saya waktu itu nyumbang Rp50.000, mungkin tidak akan ketahuan 10 hari kali ya…. :lol:


Yah, dari sini saya mendapat hikmah dari sini, bahwa di saat susah sekalipun jangan pernah tinggalkan sedekah. Karena sedekah akan membawa keberuntungan dan berkah. ;)

Sabtu, 02 April 2011

Nasi Bungkus

Nasi Bungkus

Di suatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan di sebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta .
Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut ,ia menyapa akrab setiap orang, dari tukang koran , penyapu jalan, tuna wisma sampai Pak Polisi.

Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? “Kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??, untuk membunuh rasa penasaran ku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai di sebrang jalan , setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang.

”Dek, boleh kakak bertanya ?” tanyaku.

“Silahkan kak.” Jawab adik kecil.

“Kalau boleh tahu yang barusan Adik bagikan ketukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi, itu apa ?” tanyaku dengan heran.

“Oh… itu bungkusan nasi dan sedikit lauk kak… memang kenapa kak?” dengan sedikit heran , sambil ia balik bertanya.

”Oh... tidak! Kakak Cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah terbiasa dan cukup akrab dengan mereka. Apa kamu sudah lama kenal dengan mereka?”

Lalu ,Adik kecil ini mulai bercerita, “Dulu … aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma, setiap hari bekerja hanya mengharapkan belaskasihan banyak orang, dan seperti kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan.”

“Apabila kami mengingat waktu dulu… kami sangat-sangat sedih , namun setelah ibuku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik. Maka dari itu ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu , jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup , kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.”

”Yang ibu ku selalu katakan ‘hidup harus berarti buat banyak orang ‘, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu Kasih kepada sesama serta Amal dan Perbuatan baik kita , kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang , kenapa kita harus tunda.”

”Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat , hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta, apa yang kita bawa?”

Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hatiku, saat itu juga aku merasa menjadi orang yang tidak berguna, bahkan aku merasa tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak ada gunanya,dibandingkan adik kecil ini.

Aku yang selama ini merasa menjadi orang hebat dengan pendidikan dan jabatan tinggi, namun untuk hal seperti ini, aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, aku malu dan sangat malu. Ya.. Tuhan, Ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepada Mu.

Hanya Kasih yang sempurna serta Iman dan Pengharapan kepada-Mu lah yang dapat mengiringiku masuk ke Surga. Terima kasih adik kecil, kamu adalah malaikat ku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyakku.

(Oleh : Laila Nurul Muna)

Amplop Titipan Ustad


Peristiwa ini saya alami sekitar tiga tahun yang lalu. Hanya satu bulan setelah anak saya yang kedua lahir, saya menganggur. Perusahaan memberhentikan semua karyawannya (termasuk saya) begitu saja, tanpa memberikan pesangon sepeserpun. Kehilangan pekerjaan, tidak punya tabungan sama sekali, dan dengan orang anak yang masih kecil, sesaat kehidupan kadang kala seperti ingin berhenti.
Suatu pagi, ketika saya sedang menjemur pakaian, itu (dengan mencuci tentunya) merupakan pekerjaan saya pada pagi hari, seorang gadis datang ke pekarangan rumah kontrakan kami dengan tergopoh-gopoh. Matanya berkaca-kaca dan ia bicara dengan suara tangis yang tersendat, “Maaf Pak, saya menganggu...” ujarnya, tanpa basa-basi, “Saya berasal dari Cikampek dan saya hendak ke Plered. Saya kehabisan ongkos. Kalau Bapak berkenan saya ingin menjual kerudung yang tengah saya pakai ini sama Bapak. Saya sudah tidak punya uang lagi...”


Saya mengernyitkan kening. Bingung bagaimana menanggapinya. Saya kemudian tak urung memintanya untuk menunggu sebentar, dan saya menemui istri di kamar yang tengah menyusui bayi laki-laki kami. Saya terangkan permasalahannya, dan kemudian bertanya padanya, “Kita punya uang berapa lagi sekarang?”

Istri saya menjawab, “Tinggal dua puluh ribu lagi….”

Saya terdiam, namun kemudian berbicara dengan suara sedikit serak. “Bagi dua ya. Kita sedekahkan setengahnya…”

Istri saya setuju. Jauh di lubuk hati saya berpikir keras, cukup apa kemudian Rp. 10 ribu sisanya buat kami untuk kebutuhan satu hari saja? Ada bayi dan seorang anak kecil, dan dua orang dewasa di rumah ini yang perlu makan? Tapi saya tidak berpikir panjang lagi.

Kemudian saya menemui gadis itu yang sudah mencopot kerudungnya. “Berapa lagi yang kamu perlukan untuk sampai ke Plered?” tanya saya.

Jawabnya, “Sekitar Rp. 6000, Pak...”.

“Maaf, ini saya hanya punya segini, semoga bisa bermanfaat…” ujar saya. Gadis itu menyodorkan kerudungnya, “Ini kerudungnya, Pak…”

Saya menggeleng, “Tidak. Kamu pakai kerudung kamu lagi. Bantuan saya tidak ada apa-apanya, hanya semoga saja bisa membantu kamu, setidaknya untuk sampai ke Plered, tujuan kamu…”

Gadis itu menangis lagi, “Terima kasih, Bapak. Saya sudah sejak dari tadi, sudah sejak dari jalan besar sana meminta bantuan, tapi tidak ada yang mau menolong saya… Terima kasih, Bapak…”

Gadis itu permisi. Saya melanjutkan kembali menjemur pakaian dengan otak yang berpikir keras. Uang Rp. 10.000 yang tertinggal bersama kami mungkin akan dibelikan tahu, telur 2, dan sebungkus mi instan. Saya berkata kepada istri saya. “Kamu sama si Teteh (anak perempuan saya yang pertama yang masih berumur 3 tahun) makan sama telur dan tahu. Biar saya makan sama mi saja…”

Istri saya menukas, “Tapi Ayah kan sudah makan mi instan selama tiga hari ini berturut-turut…”

Saya tersenyum, “Untuk periode sekarang, sepertinya nggak apa-apalah dulu. Yang penting kamu sama si Teteh jangan sampai kekurangan gizi dulu…”

Istri saya terdiam, kembali tenggelam menyusui anak kami yang kedua.

Sisa hari itu dilalui dengan biasa saja. Malamnya, saya harus pergi ke pengajian yang letaknya sekitar 4 kilo dari rumah. Saya tidak menggunakan angkot ketika itu karena uang yang tertinggal hanya Rp. 2000 lagi dan saya tinggalkan bersama istri.

Seusai pengajian, ustad yang mengisi pengajian menghampiri saya. “Ini ada titipan dari seseorang…” seraya menyodorkan sebuah amplop. Saya gelagapan, “Dari siapa ya Ustad? Dan titipan apa ini?”

Ustad tersenyum, “Sepertinya uang. Siapa yang memberikannya, tidak perlulah tahu. InsyaAllah, halal dan thoyyib. Katanya ini hanya hadiah saja…”

Saya tidak berkata apa-apa lagi. Di sisi lain saya merasa berat, namun saya juga merasa bersyukur masih ada yang memperhatikan kondisi keluarga saya ketika berada dalam kesulitan. Saya mengucapkan terima kasih dan meminta Ustad untuk menyampaikannya kepadanya.

Di jalan, saya membuka amplop itu ternyata memang berisi uang Rp. 300.000! Subhanallah, itu jumlah yang sangat banyak buat saya. Saya belikan istri martabak telur kesukaan istri dan ketika sampai ke rumah, kami menyantapnya bersama, sementara anak-anak sudah terlelap. Istri saya berujar lirih, “Allah selalu akan mengganti sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan. Mungkin ini berkah dari sedekah tadi pagi yang Ayah berikan…”

oleh Saad Saefullah

Kisah Sahabat

Kisah sahabat

Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.
Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung. Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan "tidur". Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, "Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?"

Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.

"Ada empat hal yang harus Anda perhatikan," begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA

"Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu... baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah." Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KEDUA

"Kemudian yang kedua," beliau melanjutkan. "Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat). Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, 'Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.' Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KETIGA

"Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka," begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. "Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya."

"Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga", saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3).

"Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga?," tanya beliau.

"Ya, bagaimana caranya?" jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.

"Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!" jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. "Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula."

"Walau pun itu orang kaya?" tanya saya.

"Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah."

"Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri," saya bertanya lagi.

"Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu," jawab beliau. "Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda."

RAHASIA KEEMPAT

Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

"Yang keempat nih, Mas," beliau memulai. "Jangan mempermainkan wanita".

Hm... ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

"Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil."

"Lalu?" saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

"Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya."

Oh... pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

"Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya," beliau melanjutkan.

Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.

Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang....

oleh: Probo Jatmiko