Sabtu, 02 April 2011

Sedekah Guru Tk Mendapat Jodoh


Sedekah Guru Tk Mendapat Jodoh
Sedekah Guru Tk Mendapat Jodoh

Assalamualikum

saya Rahma, sebenarnya saya memiliki cerita yang panjang tentang begitu benar dan yakin akan kebenaran dan janji Allah tentang sedekah, saya memiliki cerita yang sangat panjang sekali.
bulan agustus tahun 2008, adalh bukti dari kebesaran Allah yang saya sungguh tak menyangka bagaikan cerita dongeng , seketika itu banyak orang yang tercengang dan heran apa yang terjadi pada saya,,, hingga saat ini pun saya masih overwhelmed dengan keadaan itu, dibalik semua kesulitan yang tentu saja masih saya hadapi.

saya bingung dimana saya harus memulainya,sederhana sekali saya bekerja sebagai guru TK sebuah sekolah yang berbasis international kurikulum di bandung, alhamdulillah walaupun gaji yang saya dapatkan adalah sama dengan PNS.alhamdulilla….banyak hal tidak masuk akal ketika saya mengawali pekerjaan saya sebagai guru TK di sekolah ini.

1. ketika itu usia saya 24 tahun sekolah ini menggunakan buku dan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar, tentu saja bahasa indonesia juga, walaupun latarbelakang pendidikan adalah medis , D- 3 kesehatan lingkungan ,,saya di interview dengan bahasa inggris alhamdulillah mereka menerima saya sebagai guru disana. Allah lah yang membuat sesuatu yang tak mungkin menjadi mudah baginya untuk terjadi, tapi memang selama kuliah dan lulus SMA saya sudah banyak terlibat mengajar anak2 di TPA, bimbel atau privat jadi saya alhamdulillah sudah memiliki pengalaman mengajar anak2 dari TK sampai SMA

selama mengajar saya banyak kenalan dengan orang amerika dekat sekolah dan beberapa kesempatan pula saya mengundang mereka untuk berinteraksi dengan anak2 agar muncul kepercayaan diri mereka dengan native speaker,sehingga tak canggung lagi bagi saya melihat orang asing, sudah terbiasa dan semakin terasah kemampuan bahasa inggris saya.

alhamdulillah rizki yang Allah berikan dari gaji yang saya dapat, setiap hari saya bertekad untuk bersedekah ,,setiap pagi di gang kecil yang selalu saya lewati ada seorang ibu tua yang mengemis setiap saya melewati beliau saya tak lupa untuk memberi sedekah 1000 rupiah setiap hari, ataupun orang2 jompo yang mengemis alhamdulillah saya tak pernah melewatkan kesempatan ini untuk bersedekah seribu rupiah pada mereka.alhamdulillah rizki dari gajbertambah dengan adanya les tambahan dari anak anak kelas yang saya ajarkan.

lalu akhirnya sampai pada satu hari, saya menangis kepada Allah karena saya belum menikah, pada saat itu saya memohon pada Allah agar memberikan saya jodoh yang baik dan menjadi imam bagi saya.sudah lewat usia 25 tahun kekhawatiran tentu ada apalagi saya anak yang pertama dari 6 bersaudara saya sudah yatim, sejak umur 14 tahun.ibu sendiri yang membesarkan kami.

dan sama setelah mendengar keajaiban sedekah, saat itu saya bertekad untuk berkurban dengan uang gaji yang pas pasan dan patungan dengan uang ibu,hanya memohon kepada Allah semoga tahun depan saya menikah dan diberikan jodoh yang baik oleh Allah karena Alhamdulillah saya tidak pernah pacaran. dan tak banyak bergaul dengan ikhwan.saya percaya dengan menjaga izzah diri kita sebagai muslimah Allah akan memberikan yang terbaik sesuai janjinya dalam alquran.

selagi mengajar saya ambil kuliah pendidikan bahasa inggris,waktu itu dosen memberi tugas untuk cari bahan di internet dan iseng saya ingin tahu bagaiman keadaan orang muslim di belahan dunia lain, lau saya masuk situs MUSLIMA.COM itu adalah situs matrimony atau ajang mencari jodoh di internet.tapi waktu itu niat saya hanya ingin memperasah kemampuan bahasa inggris saya dan juga mengetahui keadaan saudara muslim kita di luar,sambil menambah pertemanan.

akhirnya 6 bulan saya menjadi member di situs ini,saya bertemu dengan brother yang baru masuk islam dari serbia yang tinggal di london, mula2nya saya hanya ingin berdiskusi tentang islam disana dan apalgi dia adalah seseorang yang baru masuk islam, akhirnya kami berdiskusi dan sama2 memiliki satu visi yang sama yaitu ingin meraih syurganya Allah,lalu kami bicara lewat telepon setiap hari, tak ada pembicaraan lain selain berdiskusi tentang islam dan cara hidup dalam islam, alhamdulillah …….

yang saya sangat herankan brother ini pemahaman islamnya jah lebih baik dan lebih banyak mengerti dibandingkan kita yang islamnya sudah dari lahir, walaupun beliau belum bisa baca alquran tapi sudah hafal surat an nas dan al ikhlas, dia masuk islam juga karena mendengar surat al ikhlas ,,,subhanallah

sampai 3 bulan kami berbicara on the phone..akhirnya..dia melamar saya “sister are you serious about marriage” can i ask your parents to have their blessing????saya kaget dan meminta kami berdua untuk sholat istikharah memohon bimbingan kepada Allah dan tentu saja ibu saya sangat kaget dan tak percaya…tapi akhirnya sebulan setelah itu kami menikah dengan estu ibu dan paman saya yang tinggal di australia sebagai wali, karena ibu saya tak bisa bahasa inggris, di indonesia jakarta,,,,,,

inilah bukti dari kebesaran dan keajaiban Allah, saya tidak menyangka jodoh yang Allah berikan lebih dari yang saya minta, ketika beliau datang berkunjung ke rumah kami yang sangat sederhana, dia melihat rumah kami atapnya banyak yang bocor, kami tinggal dirumah yang sederhana, lalu beliau meminta saya untuk memperbaikinya. walaupun saat itu beliau juga butuh uang untuk membayar asuransi mobilnya, tapi suami saya justru lebih mementingkan rumah kami untuk diperbaiki….dia sangat perhatian pada ibu dan adik2 saya…..sholatnya 5 waktu dimasjid, sholat berjamaah tak pernah ketinggalan bahkan sholat sunnah beliau jauh lebih rajin daripada saya sendiri…..

saya sangat bersyukur tak terhingga kepada Allah , yang telah memberikan suami yang sholeh dan baik dan sangat dermawan gemar bersedekah walaupun kini kami menghadapi masalah visa ,,,,, yang telah kami usahakan tapi tak bisa secepat itu untuk saya tinggal bersama beliau, tapi kami talk pernah menyerah… kami akan terus berusaha dan tetap berbuat yang terbaik untuk menolong anak2 yatim di indonesia selama saya masih disini.

alhamdulillah janji Allah adalah pasti dan keyakinan itu akan bertambah manakala kita mau mengamalkannya dan berusaha memperbaiki diri kita dengan amalan amalan yang disukai Allah walaupun hal itu sangat berat dan banyak godaanya, tapi percayalah apa yang kita miliki sekarang adalah berasal dari Allah, jadi jangan khawatir Allah akan memberikan keberkahan hidup dari usia dan harta yang kita infaqan di jalanya.

hidup hanya sekali jadikanlah hidup ini sebagai jalan untuk berbuat sesuatu, mengumpulkan bekal pulang jangan sampai kita lengah dan lalai, dan kehilangan kesempatan ini.Allah akann menolongmu jika kamu berusaha menolong saudaramu……… jadi Allah akan meringankan beban kita jika kita membantu meringankan saudara kita, menolong orang yang dalam kesulitan…

semoga Allah menjadikan kita ahli sedekah dan yakin akan janjinya, sesungguhnya Allah maha menepati janji .

mudah mudahan dari cerita ini ada hikmah yang bisa kita sharing , semoga llah selau membimbing kita ketika kita lupa ataupun ketika kita ingat.amiiiiiiiin

wassalam

Rahma Rahimah

Musibah bukan suatu musibah

Musibah bukan suatu musibah

assalamualaikum wr wb,
setengah tahun yg lalu saya baru aja pulang dari hk,saya menjadi tkw disana sejak tahun 2003.Ada yg mengganjal di hati saya sehingga saya memberanikan pulang sebelum kontrak saya habis,padahal sistem kontrak disana kalau belum habis kontrak harus bayar denda satu bulan gaji ma beli tiket pulang sendiri,karena saya udah tidak betah akhir nya saya minta pulang,tapi saya nggak punya uang dan itu saya utarakan ke majikan pada bulan april tapi majikan tetap bilang kalau saya harus bayar denda itu,dgn hati galau ingin sekali saya mengubah niat saya,tapi karna saya tidak betah ya saya nekat.
Saya mencoba pinjem uang ke teman baik saya tapi tak seorang pun membantu.Pada saat itu saya marah,kenapa ketika teman saya pinjem begitu mudah saya kasih tapi gliran saya?nggak ada satu pun yg mau pinjemin.Dan pada saat itu ada kejadian yg membuat saya sedih yaitu ketika ada bencana gempa di yogja. Saya hanya mendengarnya sekilas krn saya gak ada libur jadi saya hanya menganggap gempa biasa.Tapi ketika teman saya mengirim sms kpd saya untuk menyumbang saat itu saya baru ngeh ternyata gempa nya begitu dasyat kemudian dgn keberanian diri saya minta pada majikan untuk libur dgn catatan saya harus membayar uang libur itu sebesar $110,waduh kalut bener pikiran saya saat itu yg ada hanya stress, uang dah pas2an ditambah harus byar denda libur,langsung aja saya nekat bilang ok, saya bayar.

Keesokan hari nya saya sedekahin sekian dolar uang saya n baju yg layak pakai diserahin langsung ke panitia sumbangan.Selang beberapa hari tiba waktu nya saya harus meningglkan hk,disaat itu saya di telpon agent dan saya bilang kalo saya booking pesawat sendiri,tanpa saya sadari agent saya bilang kalau majikan saya udah membelikan tiket untuk saya bukan hanya itu ketika saya mau pulang majikan saya memberi gaji satu bulan gaji $3320 langsung saja saya kaget bercampur seneng ternyata uang yg saya sumbang kan diganti berpuluhh lipat sama ALLAH,padahal saat itu saya tidak pernah solat krn disana orang hk takut solat.

Mulai saat itu saya yakin ternyata MUSIBAH ITU BUKAN SUATU MUSIBAH TETAPI MEMANG BENAR KALAU ALLAH ITU RINDU MA KITA SEHINGGA DIA MEMANGGIL KITA DGN MUSIBAH ITU

2,3 Milyar atau 3,2 Milyar

2,3 Milyar atau 3,2 Milyar

… dan Allah telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu (QS. 4:113)

Saya mengenal sosok Syafe’i adalah seorang yang rajin beribadah. Di sebuah masjid perkantoran di bilangan Jendral Sudirman Jakarta di mana saya sering bersilaturahmi. Kerap saya dapati Syafe’i selalu pada shaf pertama setiap kali shalat berjamaah dilangsungkan. Dia adalah seorang muslim yang taat, setidaknya itulah sosok yang saya kenal dari diri Syafe’i.
Syafe’i adalah seorang driver yang bekerja lebih dari 20 tahun membawa mobil seorang direktur utama sebuah perusahaan sekuritas di Jakarta. Hal yang membuat Syafe’i disukai dalam tugasnya ini antara lain karena sifatnya yang jujur, tidak banyak bicara dan loyal terhadap majikan. Amat sulit rasanya di zaman sekarang ini mencari seorang pegawai seperti Syafe’i yang setia mengemban tugas yang sama lebih dari 20 tahun. Hal yang menarik dari diri Syafe’i pun adalah sifat qanaah yang dimilikinya. Gak ngoyo, selalu merasa puas dengan anugerah yang Allah berikan untuk dirinya dan keluarga.

Inilah manusia yang kaya pada hakikatnya. Ia senantiasa merasa cukup atas karunia Allah Swt. Tidak berharap lebih dari apa yang diberikan.

Pagi itu Syafe’i hendak berangkat menuju rumah majikannya. Sebelum meninggalkan rumah, Syafe’i dilepas dengan sebuah keluhan yang meluncur dari mulut istrinya perihal biaya pendaftaran kuliah anak mereka sebesar Rp 8 juta. Sang istri meminta Syafe’i untuk mencari dana sebesar itu, paling tidak dengan cara meminjamnya terlebih dahulu. Kemudian akan dicicil dari penghasilan bulanan mereka yang pas-pasan.

"Pak, tolong pinjam dulu kepada majikanmu dana untuk anak kita kuliah!" pinta istri Syafe’i. Namun Syafe’i tidak berkata sepatah pun menanggapi usulan istrinya. Ia sadar bahwa dana sebesar itu baginya akan membuat sulit hidup demi mengangsur cicilan. Apalagi bila dana itu dipinjam dari bossnya, pasti akan membuat hubungan menjadi tidak enak.

Syafe’i lebih memilih mengadukan urusannya ini kepada Tuhan manusia, daripada harus diceritakan kepada sesama.

Mulai sejak itu, banyak doa yang dipanjatkan Syafe’i kepada Allah Swt karena hajat anaknya yang ingin kuliah. Rupanya kepasrahan diri kepada Allah SWT menyelesaikan semua masalah.

"Tidak ada masalah yang besar, semuanya kecil di mata Allah!" gumam Syafe’i membesarkan hati.

Adegan pagi itu sama seperti hari-hari sebelumnya dalam karir Syafe’i. Ia tengah memegang kemudi mobil membawa majikannya ke kantor. Namun tiba-tiba pintu ijabah dan keberkahan Allah Swt mulai terbuka untuknya. Sang majikan tanpa angin tanpa hujan membuka bicara,

"Syafe’i, nanti kalau sudah sampai ke kantor segera kamu ke divisi General Affair (bagian umum) ya…! Tanya sama mereka vendor dekorasi mana yang terbaik menurut mereka! Saya mau renovasi rumah yang di Kebayoran. Bila bagian GA sudah kasih nama vendornya, segera kontak mereka dan ajak untuk lihat rumah. Saya minta vendor itu untuk ajukan biaya renovasinya. Kalau sudah direnovasi saya mau jual rumah itu. Kamu paham gak…?" tanya sang majikan.

"Saya paham, Pak!" sahut Syafe’i sigap.

Syafei menuruti perintah atasannya. Vendor ia kontak dan diajaknya untuk melihat rumah majikan yang ada di bilangan Kebayoran. Usai melihat, mengukur dan meninjau rumah, vendor itu berjanji akan mengajukan penawaran biaya renovasi dalam beberapa hari. Dan betul seperti yang dijanjikan, akhirnya pengajuan renovasi rumah itu mereka buat dan dititip ke Syafei.

"Boss, ini pengajuan renovasi rumah Kebayoran dari vendor kemarin…" kata Syafe’i kepada majikannya sebelum masuk ke dalam mobil. Majikannya membaca pengajuan anggaran renovasi di atas mobil. Baru beberapa menit membaca, sang majikan langsung berkomentar, "Kok mahal sekali ya…, masa hanya renovasi rumah begitu saja sampai menghabiskan dana lebih dari Rp 200 juta!"

Mendengarnya Syafei menimpal, "Wah mahal betul ya boss…! Kalau boss gak setuju dengan penawaran vendor itu, saya punya teman pemborong yang kerjaannya bagus. Insya Allah harga yang ditawarkan jauh lebih murah dari vendor tadi. Kalo boss masih ragu, semua material boss yang beli, nanti tinggal bayar jasa pengerjaannya saja" jelas Syafei.

Sang majikan sudah kenal betul sifat dan watak Syafei. 20 tahun bekerja adalah bukti kejujuran dan loyalitas yang sudah tidak lagi diragukan. Tanpa banyak komentar sang majikan meminta Syafei mengajak temannya yang pemborong itu untuk merenovasi rumah. Benar saja…, renovasi rumah lewat pemborong teman akrab Syafei hanya memakan dana Rp 60 juta!

Sang majikan senang, karena supirnya telah membuat efisiensi pengeluaran tidak kurang dari 140 juta rupiah. Kesenangan majikan itu terus berlanjut yang kemudian mempercayakan Syafei untuk menjual langsung rumah yang baru direnovasi tadi.

Dalam perjalanan di atas mobil menuju kantor sang majikan berkata kepada Syafei, "Usai ngantar saya, tolong kamu pergi ke biro iklan. Pasang iklan untuk menjual rumah Kebayoran itu di media-media cetak. Kamu khan sudah tahu semua spesifikasi rumah... Kontak person di iklan itu kamu saja Syafei! Terus jangan lupa untuk cantumkan harga penjualan sebesar 2,3 milyar!!!" jelas sang majikan kepada Syafei.

Syafei mengiyakan semua tutur majikannya. Seperti yang diminta beliau, usai mengantar ke kantor Syafei pun pergi ke biro iklan.

Syafei tengah mengisi semua formulir yang perlu diisi di biro iklan. Dalam lembar formulir itu, ia sebutkan semua spesifikasi rumah majikannya berikut seluruh fasilitasnya. Tak lupa ia cantumkan nama dan nomer kontaknya sebagai contact person. Usai mengisi formulir iklan itu, maka lembar itu ia serahkan kepada petugas biro iklan. Petugas itu membacanya dan sejurus kemudian petugas itu melemparkan sebuah tanya kepada Syafei, "Pak harga jualnya mau dicantumkan gak?" "Oh iya, tolong cantumkan Mbak...!" sahut Syafei. "Berapa harga yang diminta?" kejar sang petugas. Tiba-tiba saja Syafei memegang keningnya dengan telapak tangan, tidak hanya itu dia mengusap-usap rambut kepala bagian belakang seperti orang kepusingan.

"Celaka, aku lupa berapa harga yang diminta majikan...! 2,3 M atau 3,2 M ya?!" gumamnya.

Terus terang Syafei malu untuk menanyakan hal itu kepada majikannya. Nanti disangka ia teledor dalam bekerja. Lama Syafei mengambil keputusan. Bahkan ia perlu keluar dari kantor biro iklan itu hanya untuk mondar-mandir memutuskan antara 2,3 atau 3,2 angka yang hendak dicantumkan.

Setelah beberapa lama menimbang dan berdoa, tiba-tiba Allah Swt memberi ketenangan di hati Syafei untuk mengambil sebuah keputusan. "Aha... pasti 3,2 milyar!!! Lebih bagus 3,2 milyar dicantumkan daripada 2,3. Sebab kalau betul angka yang diminta majikan adalah 3,2 M sedangkan yang saya cantumkan 2,3 M maka pasti tekor 900 juta. Siapa yang mau nombokin...?!" gumam Syafei.

Syafei pun masuk kembali ke kantor biro iklan sambil berujar, "Mbak, tolong cantumin harga jualnya sebesar 3,2 milyar!" Usai membayar dan menerima struk iklan, Syafei pun kembali ke tempat kerja majikannya.

Keesokannya iklan tayang. Tak seperti diduga, 4 perusahaan mengontak Syafei di hari itu tanda berminat, dan yang paling hebat penawarannya adalah PT Djarum yang menyatakan minatnya tanpa menawar sedikitpun. Tentu saja ini adalah kabar gembira dari Syafei untuk majikannya.

"Hari ini boss ada waktu gak ke notaris?! Alhamdulillah rumah di Kebayoran ada yang berminat. PT Djarum mau ambil rumah itu, hebatnya mereka gak pake nawar lagi" kalimat Syafei membuka pembicaraan di atas mobil.

Sang majikan surprised mendengarnya, kemudian beliau bertanya kepada Syafei "Memangnya berapa harga yang kamu tawarkan ke mereka?"

"Saya cuma kasih harga ke mereka seperti yang boss minta!" jelas Syafei

"Iya, saya tahu tapi berapa harga yang kamu lepas, Syafei?!" tanya sang majikan sekali lagi.

"Mereka saya tawarin harga 3,2 milyar!" imbuh Syafei

Degg...!, sang majikan kaget mendengar harga yang ditawarkan Syafei kepada pembeli. Padahal kemarin harga yang dia minta hanya 2,3 milyar bukannya 3,2 milyar. Seolah gak percaya, sang majikan menyediakan waktu untuk bertemu calon pembeli di notaris hari itu.

Betul saja, rumah itu laku terjual dengan nilai 3,2 milyar rupiah.

Subhanallah..., Syafei sudah memberi keuntungan kepada majikannya sebanyak Rp 900 juta!!! Belum lagi efisiensi biaya renovasi rumah yang tidak kurang dari 140 juta rupiah.

Sang majikan mengulum senyum tanda puas atas dedikasi Syafei. Usai dari kantor notaris, di atas mobil sang majikan berkata, "Nanti sampai di kantor bilang kepada sekretaris saya bahwa kamu disuruh saya untuk buat paspor ya! Gak usah pake nanya macam-macam, pokoknya kamu bikin paspor Syafei!" tegas majikannya.

Syafei hanya menuruti perintah majikannya. Belakangan ia tahu bahwa ia mau diajak umrah sama majikannya sebagai syukuran atas penjualan rumah. Syafei mensyukuri karunia Allah Swt yang tak terduga ini.

Beberapa hari lagi menjelang umrah, sang majikan berkata kepada Syafei dalam perjalanan pulang menuju rumah majikannya "Syafei, kita khan mau pergi ibadah umrah meninggalkan keluarga. Pantang bagi kita orang laki, kalau pergi jauh ninggalin rumah tapi gak nyisain bekal yang cukup buat keluarga yang ditinggal. Ini kebetulan ada rezeki. Jangan dilihat besar-kecilnya. Salam saya buat istri dan anak-anakmu!" Syafei menerima sebuah amplop putih cukup tebal dari majikannya. Ia berucap hamdalah dan berterima kasih atas pemberian itu. Usai mengantar majikan pulang, Syafei pun kembali pulang menuju rumahnya.

Ia sampai di rumah. Dan amplop putih titipan majikan ia berikan kepada istrinya. Betapa terkejut sang istri begitu menghitung uang yang diberikan. Jumlah yang cukup banyak untuk sebuah keluarga supir seperti Syafei. Uang yang berada di amplop tersebut ternyata berjumlah 8 juta rupiah!!!

Subhanallah...., angka tersebut rupanya sama seperti kebutuhan keluarga Syafei untuk biaya daftar anaknya kuliah. Namun yang lebih hebatnya lagi, rupanya Allah Swt malah mengundang Syafei untuk berangkat umrah menuju rumahNya lewat cara yang tidak pernah ia duga.

Aku Ingin Bersedekah

Aku Ingin Bersedekah

Di Bontang, Kalimantan Timur ada sebuah perusahaan kaya raya dengan fasilitas yang luar biasa bagi karyawannya. Penghasilan para pegawainya berlipat-lipat dibanding dengan perusahaan swasta maupun nasional lainnya. Tunjangan berupa rumah, mobil, pendidikan anak bahkan makan pun diberikan. Beberapa kali saya berkunjung ke sana maka saya hanya berkomentar, "Betapa beruntungnya mereka yang tinggal dan bekerja di tempat ini!" Mereka hidup di sebuah komplek yang terisolir dari dunia Bontang. Pagar-pagar mereka kokoh berdiri dan lengkap dengan petugas keamanan yang membuat komplek perumahan itu terisolir dari dunia luar.
Penghasilan besar yang mereka dapat, -mungkin sebab sulit untuk mendapatkan mustahik-, maka kewajiban zakat dan sedekah pun barangkali tak tersalurkan. Namun meski demikian hal yang menjadi hak Allah adalah tetap menjadi hak-Nya. Dimana suatu saat Dia pun akan menagihnya.

Sore itu saya diminta bersilaturrahmi dengan sebuah majlis taklim kaum ibu di sana. Tema yang diminta membuat saya berpikir keras untuk mencari referensinya. BEROBAT DENGAN SEDEKAH!!! "Darimana saya harus memulai...?" saya membatin.

Alhamdulillah atas izin Allah Swt ceramah pengantar yang saya berikan terasa nikmat. Jangankan untuk mereka kaum ibu yang mendengarkannya, saya sendiri saja merasakan kenikmatan itu. Rupanya Allah Swt memberi keberkahan pada majlis kami saat itu. Tanpa terasa saya dapati beberapa 'ilmu ladunni' yang Allah berikan. Sehingga saya belajar saat mengajar. Menjadi mengerti bersama orang-orang yang mencari pemahaman.

Allah mewariskan ilmu yang diketahui seseorang, asalkan ia mengamalkan ilmu yang sudah pernah ia ketahui. (Muhammad Saw)

Usai pembicaraan kurang lebih sekitar setengah jam, maka saya menawarkan kepada peserta majlis untuk bertanya dan berdialog. Di sana rupanya ada seorang ibu berusia lebih dari 40 tahun, sebutlah namanya Reni. Tiba-tiba ia mengacungkan tangan dan ternyata ia bukan hendak bertanya akan tetapi ia ingin berbagi pengalaman kepada semua peserta yang hadir. Reni pun memulai kisahnya:

Kira-kira 17 tahun yang lalu Reni hamil untuk pertama kali. Allah Swt menakdirkan bahwa Reni keguguran. Maka dari Bontang, ia pun diantar oleh suaminya pergi ke Balikpapan dengan pesawat untuk berobat ke seorang dokter terkenal di sana bernama Yusfa. Akhirnya Reni dikuret rahimnya.

Sepulangnya dari Balikpapan, Reni mendapati dari qubulnya selalu keluar darah dalam jumlah banyak. Bahkan lebih banyak dari menstruasi rutin. Apalagi bila ia bangun tidur, ia dapati kasur dan sprei selalu bersimbah darah. Ia panik dan kalut mengatasi hal ini. Maka ia pun kembali lagi ke Balikpapan bersama suaminya untuk berobat ke dokter Yusfa.

Sayangnya sang dokter tidak mengerti sebab pendarahan hebat ini. Maka yang terjadi adalah kali itu Reni dikuret lagi. Sakit dan perih, itulah yang dirasakan Reni!

Namun pendarahan itu masih tetap saja terjadi, padahal hampir setiap dua hari sekali Reni dan suami terbang Bontang-Balikpapan untuk mengkonsultasikan penyebab pendarahan ini. Namun tindakan yang diambil oleh dokter Yusfa hanyalah mengkuret rahim Reni. Reni dan suami hanya bisa pasrah dan berharap pertolongan Allah Swt atas musibah ini.

Kejadian ini berlangsung cukup lama. Hingga tubuh Reni bertambah ringkih, rumah tangga tak terurus, uang tabungan terkuras dan suami tidak bisa bekerja tenang sebab harus sibuk mengurusi Reni. Sepertinya ada sebuah cobaan besar yang sedang Allah Swt timpakan kepada Reni dan suaminya.

Reni & suami terus berdoa kepada Allah Swt agar diberi jalan keluar dari masalah ini. Hingga akhirnya Allah Swt pun mendengar dan mengijabah doa mereka

Hari itu Reni dan suami hendak terbang ke Balikpapan untuk berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Namun ada suara hati yang berbisik pada diri Reni. Ia bawa sejumlah uang dalam jumlah besar. Uang itu bukan ia niatkan untuk bayar biaya pengobatan, akan tetapi ada sebuah cita-cita mulia di sana yang ingin ia wujudkan. Cita-cita itu adalah, "AKU INGIN BERSEDEKAH!" Sejumlah uang itu pun ia masukkan ke dalam tas tangan yang Reni bawa.

Pesawat telah membawa Reni dan suaminya pergi menuju Balikpapan. Setibanya di bandara Sepinggan, Balikpapan Reni berjalan tertatih dipapah oleh sang suami. Dengan susah payah, Reni pun akhirnya tiba di dalam ruang bandara. Di dalam hati Reni berdoa kepada Tuhannya, "Ya Allah, datangkan untukku seorang pengemis yang bisa menerima sedekahku. Izinkan aku untuk bersedekah di hari ini!"

Keinginan untuk bersedekah itu membuncah lagi di hati Reni. Sungguh ia amat berharap untuk bisa bersedekah kali itu.

Pintu keluar bandara sudah dilalui oleh Reni dan suami. Subhanallah, tiba-tiba ada seorang pria berpakaian lusuh menyapa Reni dan menjulurkan tangan tanda minta sedekah. Reni bergembira dan yakin bahwa inilah ijabah doa dari Allah Swt. Tanpa banyak berpikir, ia merogoh tas tangannya. Sejumlah uang yang sudah disiapkan ia berikan ke tangan pengemis itu. Maka pengemis dan suami Reni melongo melihat jumlah uang yang Reni sedekahkan. Reni pun melanjutkan langkahnya bersama suami dan kemudian mereka masuk ke dalam sebuah taksi untuk pergi ke rumah sakit tempat dokter Yusfa berpraktek.

"Untuk apa uang sebanyak itu kau sedekahkan?!" tanya sang suami. Reni menjawab dengan yakin,

"Boleh jadi dengan sedekah itu Allah Swt menyembuhkan penyakitku, Pa!" Mendapati jawaban seperti itu suami Reni tidak banyak mendebat.

Memang di saat-saat seperti ini, hanya pertolongan Allah saja yang dapat menyelamatkan mereka.

Seperti kali sebelumnya, tidak ada jawaban positif dari dokter Yusfa atas penyebab pendarahan yang keluar dari qubul Reni. "Hingga saat ini, saya belum tahu pasti apa penyebabnya" jelas dokter Yusfa.

Maka Reni dan suami pun kembali ke Bontang tanpa hasil memuaskan.

Pendarahan hebat masih terus terjadi dari rahim Reni setiap hari. Reni hanya bisa bersabar dan pasrah atas takdir yang telah Allah Swt tetapkan pada dirinya. Pagi itu, Reni tengah berada di dapur untuk membuat masakan ringan. Tiba-tiba terasa olehnya ada sesuatu yang tidak beres di perutnya dan ia pun ingin pergi ke toilet. Rasa ingin buang air itu seperti tak terkendali... Hingga Reni harus berlari sebab khawatir ia tak kuasa menahannya. Atas izin Allah Swt ia kini sudah berada di kamar mandi. Namun hanya pakaian luar saja yang sempat ia buka, sedangkan pakaian dalam tak sempat ia tanggalkan. Rupanya ada segumpal daging penuh darah yang keluar dari qubul Reni dan ternyata ia tidak mau buang air. Segumpal daging penuh darah itulah rupanya yang membuat Reni terdesak untuk buang air.

Merasa aneh dengan segumpal daging itu, maka Reni mengambil sebuah kantong plastik kecil dan memasukkannya ke dalam kantong tersebut. Reni berpikir bahwa ia harus menanyakannya kepada dokter Yusfa tentang benda aneh ini.

Pagi itu adalah jadwal Reni berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Ia seperti biasa pergi ke Balikpapan didampingi oleh suaminya. Konsultasi kali itu, seperti biasa tidak memberikan perkembangan ke arah positif sama sekali. Hampir saja Reni putus asa dengan keadaan ini. Namun tiba-tiba ia teringat akan kejadian aneh kemarin pagi. Lalu ia pun merogohkan tangannya ke dalam tas dan mencari-cari plastik kecil berisi segumpal daging penuh darah. Ia keluarkan plastik kecil itu dan ia sodorkan kepada dokter Yusfa. Kejadian aneh kemarin pagi itu diceritakan oleh Reni kepada dokter Yusfa. Dokter Yusfa menerima plastik berisikan benda aneh itu. Dahinya berkerut tanda bahwa ia berpikir keras tentang benda ini. Dan beliau pun berkata, "Ibu dan bapak mohon tunggu sebentar di sini. Saya akan pergi ke laboratorium untuk memeriksakan hal ini!"

Saat dokter Yusfa pergi meninggalkan ruangannya, Reni dan suami hanya berharap bahwa dokter Yusfa akan datang membawa sebuah berita gembira untuk mereka.

Kira-kira 20 menit kemudian dokter Yusfa datang sambil berlari. Ya berlari, bukan berjalan! Begitu pintu terbuka dokter pun berteriak dengan nada keras, "Alhamdulillah bu Reni.... Alhamdulillah....!!! Saya baru mengerti rupanya pendarahan selama ini disebabkan kanker rahim yang ibu alami... dan benda ini adalah kanker rahim tersebut. Cuma saya hanya mau bertanya bagaimana cara kanker ini bisa gugur dengan sendirinya...?!"

Subhanalllah.... rupanya penyebab pendarahan hebat selama ini adalah sebuah kanker yang tidak dapat terdeteksi. Pertanyaan terakhir dari dokter Yusfa tak mampu dijawab langsung oleh Reni. Namun Reni hanya mampu bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya pertolongan itu datang juga untuknya setelah penantian yang cukup lama. Akhirnya pendarahan pun terhenti begitu saja, dan rupanya pertolongan Allah Swt tiba setelah Reni bersedekah dengan sejumlah harta yang sudah ia cita-citakan.
Sedekah sungguh sebuah perkara yang mengagumkan.

Sedekah Ngutang

Sedekah Ngutang

Sebuah mushalla rencananya hendak dibangun di sebuah perumahan di daerah Cibinong, Bogor. Malam itu awal bulan Sya'ban beberapa tahun yang lalu para penghuni perumahan bertekad ingin menjalani shalat Tarawih bersama di mushalla yang akan mereka bikin. Semua warga dikomandani pak RT tengah bermusyawarah. Satu kata bulat, "Kita harus punya mushalla saat bulan puasa tahun ini menjelang!"
Itulah cita-cita mulia mereka semua. Dan masing-masing mereka berinfaq dan berwakaf di jalan Allah dengan harta terbaik yang mereka miliki.

Terdengar suara pak RT menanyakan satu per satu warga yang hadir, "Pak anu mau nyumbang berapa..., bapak fulan mau sedekah berapa....?" Lalu setiap warga yang hadir dengan antusias menjawab dengan harta yang hendak mereka sumbangkan.

Ada yang berinfak dalam ratusan ribu rupiah, juga ada yang berinfak dalam jutaan rupiah. Sebagian mereka ada juga yang memberikan dalam bentuk material bangunan.

Semua mereka seolah berlomba memberikan harta terbaik yang mereka miliki untuk membangun rumah Allah Swt.

Semua terlihat begitu antusias untuk membangun mushalla di lingkungan mereka dalam tempo kurang dari sebulan.

Malam itu juga ada seseorang yang bernama Arif yang berkomitmen untuk menyumbang seluruh lantai keramik yang diperlukan mushalla. Itulah yang ia janjikan kepada pak RT dan seluruh peserta rapat. Sengaja ia menyumbang lantai keramik, sebab ia beranggapan bahwa setiap orang akan menggunakannya untuk berdiri dan sujud oleh karena itu akan mendapat pahala yang lebih banyak dari material bangunan lainnya. Setidaknya itulah anggapannya!

"Saya insya Allah mau menyumbang semua lantai keramik yang diperlukan mushalla ini!" seru Arif. "Apakah semua lantai keramik atau sebagiannya saja, pak Arif?" tanya ketua RT menegaskan. "Semuanya insya Allah, pak!" tandas Arif.

Arif tidak khawatir untuk menutupi sumbangan seluruh lantai keramik mushalla. Di benaknya esok pagi ia akan meminta orang tuanya, neneknya, sepupu, paman, bibi dan seluruh saudaranya untuk turut menyumbang. "Insya Allah bila dijinjing ramai-ramai, tidak akan ada beban yang berat!" gumamnya.

Benar juga... begitu Arif menghubungi seluruh kerabatnya, mereka semua bersedia turut menyumbang pembelian lantai keramik mushalla. Hati Arif pun tenang. Ia senang telah bisa menyumbang dan lebih senangnya lagi ia dapat mengajak keluarganya untuk melakukan kebaikan di jalan agama ini.

***

Bulan Ramadhan 7 hari lagi akan menjelang. Bangunan mushalla atas izin Allah sudah rampung kurang lebih 65%. Namun untuk bisa dipakai shalat, setidaknya harus sudah berlantai hingga orang-orang akan merasa nyaman saat berdiri dan sujud. Maka malam itu adalah rapat kesekian kalinya digelar ketua RT bersama panitia pembangunan mushalla. Dalam rapat itu, Arif ditanya tentang kapan lantai bisa dikirimkan ke mushalla. Dengan tenang ia berujar, "Paling lambat lusa, saya akan kirim lantai tersebut!"

Namun apa yang terjadi saat ia menghubungi satu per satu keluarga yang sudah berjanji untuk menyumbang. Sungguh aneh, semua keluarga yang berjanji sepertinya amat kompak dalam satu alasan. Mereka semua BOKEK, alias lagi gak punya uang!

"Celaka...!" keluh Arif. Padahal ia sendiri pun sedang tidak punya duit. Bagaimana ia bisa memberi jawaban atas hal ini kepada warga lingkungannya. Padahal Ramadhan akan tiba sebentar lagi. Tidak ada uang yang bisa ia gunakan untuk membeli keramik, namun ada beberapa kartu kredit di dompetnya yang dapat ia gunakan. Saat hendak menggunakannya terbersit di benaknya wajah angker sang istri berkata mengancam, "Awas ya kalau kamu berani pakai kartu kredit lagi. Aku akan minta cerai!!!'

Ya, Arif meski bekerja di sebuah bank swasta namun ia adalah orang yang susah menjaga syahwat dalam penggunaan kartu kredit. Sering kali rumahnya disatroni debt-collector tak bermoral yang bicara kasar bahkan mengancam di rumahnya. Istri dan anak-anak Arif sudah tidak kuat dengan teror para debt-collector. Karena itu ia pernah diancam oleh sang istri dengan ultimatum tuntutan cerai.

Kini Arif berada di dua ujung tanduk. Antara membeli keramik mushalla dengan kartu kredit & ancaman cerai dari sang istri. Setelah menimbang sebaik mungkin, ia bulatkan tekad untuk membeli lantai keramik. "Urusan masalah kartu kredit, itu urusan nanti!" gumamnya. Lalu ia pun pergi ke kawasan Percetakan Negara, Jakarta untuk memilih lantai keramik yang cocok. Usai ia memilih lantai keramik, ia pun menggesek kartu kreditnya dengan total tagihan Rp. 2,8 juta. Tak lupa ia mengucap bismillah. Maka Arif kini bersedekah lantai keramik di jalan Allah meski dengan cara berutang lewat kartu kredit.

***

Jelang Ramadhan pun ada agenda keluarga yang sudah dirancang oleh Arif. Ia ingin tahun ini dapat mudik ke kampung halaman dengan berkendara mobil. Hari itu ia memberanikan diri datang ke manager SDM tempatnya bekerja sambil berkata dengan penuh semangat, "Pak boleh gak saya mengajukan permohonan kredit mobil?!" Sayangnya, Arif mengajukan permohonan itu pada momen yang tidak tepat. Awal Ramadhan itu di perusahaannya sedang ada rasionalisasi pegawai besar-besaran. Sebuah langkah yang amat pahit dialami oleh tim SDM, sebab dari atas mereka mendapat tekanan. Sedangkan dari para pegawai di bawah mereka mendapat kecaman. Dalam kondisi tim SDM sedang pusing, Arif malah mengajukan kredit mobil. Dengan sengit manajer SDM itu berkata, "Tidak ada fasilitas seperti itu saat ini. Anda tidak paham ya bahwa kami sedang amat sibuk?!"

Mendapat tanggapan seperti itu, maka Arif pun beringsut.

Namun mungkin ini adalah balasan Allah Swt setelah sedekah lantai keramik itu sudah digunakan oleh warga perumahan untuk lebih dari seminggu.

Siang itu usai shalat Zhuhur dan mendengarkan kuliah agama di mushalla kantor, Arif kembali masuk ke ruang kerja. Pesawat telpon di mejanya berdering. Ternyata di sana adalah suara manager SDM yang memintanya datang segera.

Arif pun datang. Sesampainya di ruangan manager SDM ia disuruh menunggu di ruangan meeting. Sampai saat itu Arif belum tahu ada pasal apa manager SDM memanggilnya. Arif berprasangka buruk, "Mungkinkah aku termasuk karyawan yang akan dirumahkan?" lamunnya.

Lama ia menunggu hingga akhirnya sang manajer SDM datang ke ruang meeting. Di tangannya ada sebuah folder berisikan banyak berkas. Folder itu dibanting di atas meja, dan Arif terkejut mendengar folder itu dibanting.

Sang manajer SDM itu kini sudah duduk berseberangan dari Arif. Ia membuka berkas yang ada di dalam folder lalu ia dapatkan secarik kertas yang bentuknya seperti kertas cheque.

Dengan cara yang tidak sopan, selembar kertas kecil itu dilemparkan ke arah Arif dan ia pun menangkapnya. "Surat apa ini, Pak?!" tanya Arif. Dibenaknya ia masih menduga bahwa ia bakal di-PHK dan ini adalah surat pemberitahuannya.

"Baca saja dan jangan banyak tanya!" bentak manajer SDM.

Arif membaca selembar kertas itu yang ternyata adalah sebuah voucher pembelian sebuah mobil. Di dalamnya terdapat nama lengkap Arif, nomor induk kepegawaiannya dan sebuah nominal sebesar Rp 60 juta. Voucher pembelian mobil itu ditandatangani oleh Direktur Operasional.

Usai membaca barulah Arif mengerti bahwa kertas itu ada sebuah persetujuan direktur operasional atas fasilitas kredit mobil untuk dirinya. Namun hal yang tidak ia mengerti adalah mengapa sikap manajer SDM menjadi garang seperti ini?

"Saya paling tidak suka bila pak Arif main belakang seperti ini...!!! Saya khan sudah bilang kepada bapak bahwa perusahaan tidak menyediakan fasilitas mobil untuk karyawan dalam masa-masa seperti ini, lalu kenapa bapak bicara langsung kepada direktur operasional...? Itu sama saja mencoreng reputasi saya!!!"

Arif hanya terdiam mendengar celotehan sang manajer. Rasanya ia belum pernah menceritakan hal ini kepada siapapun selain kepada manajer SDM, apalagi sampai menghadap direktur. Namun ia gembira dalam hati sebab ia membayangkan bahwa lebaran ini ia dapat mudik ke kampung bersama keluarga dengan mobil baru. Terserah manajer SDM apakah dia mau marah atau tidak yang penting Arif sudah mendapatkan voucher pembelian mobil di tangannya.

***

Sore itu Arif pulang menuju rumahnya di Cibinong dengan hati penuh kegembiraan. Sesampainya di rumah kira-kira pukul setengah enam sore. Ia bernyanyi riang dan terus bernyanyi. Ia tidak masuk ke kamar untuk berganti pakaian namun bahkan ia duduk-duduk di ruang tamu. Ada gelagat yang tidak biasa sepertinya pada diri Arif, hingga istrinya pun menanyakan ada apa gerangan.

Arif masih terus bernyanyi gembira sambil mengeluarkan dari tas kerja secarik kertas voucher pembelian mobil itu lalu ia letakkan di atas meja.

"Apa itu, Pa?" tanya sang istri. "Baca saja sendiri!" tukas Arif sambil terus bernyanyi. Istrinya pun membaca voucher itu. Namun tidak seperti dugaan Arif, sang istri tidak terlihat gembira membacanya. Bahkan sang istri pergi ke arah lemari dan mengambil secarik kertas.

Bila tadi Arif meletakkan secarik kertas di atas meja. Kini sang istri pun melatakkan secarik kertas pula di atas meja. "Apa itu, Ma?!" Arif balik bertanya. Sang istri menukas dengan ketus, "Baca saja sendiri!!!"

Ternyata itu adalah surat tagihan penggunaan kartu kredit. "Celaka!" gumam Arif. Akhirnya dia ketahuan oleh sang istri telah menggunakan kartu kredit untuk pembelian lantai mushalla. Ia amat takut sekali bila sang istri menuntut cerai.

"Ayo cepat buka...!" sang istri berkata dengan suara meninggi. Arif hanya diam tak berkutik, sungguh ia amat merasa takut. Tidak sedikit pun gurat kebahagiaan tersisa di wajahnya.

Dengan perlahan ia buka amplop tagihan kartu kredit itu dan kemudian ia baca seluruh isi surat. Namun anehnya, ia tidak mendapati tagihan senilai Rp2,8 juta atas pembelian lantai keramik!!!

Seolah tidak percaya, ia ulangi membaca dan tetap saja ia tidak mendapatkan nilai tagihan atas lantai keramik!!!

"Subhanallah...., kok bisa gak ada ya?" Arif berteriak keheranan. Ia pun menelpon pihak bank dan lagi-lagi anehnya bank tidak membaca pada data mereka bahwa Arif melakukan transaksi sebesar Rp 2,8 juta.