Senin, 09 Juli 2012

Seorang Polisi dan Penerobos Lampu Merah

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau.
Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat.
Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah
biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang.
Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa
melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah
menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. "Ah, aku tak
punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil terus
melaju.

Prit.....!!!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti.
Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari
kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu.
Hati Jono agak lega.
Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
"Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!"
"Hai, Jon." Tanpa senyum.
"Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru.
Istri saya sedang menunggu di rumah."
"Oh ya?"
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.

"Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan
segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong."
"Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi
lampu merah di persimpangan ini."

Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.

"Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu
merah.. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala."

Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

"Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu."

Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan
menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku
tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono
memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu
sedikit.
Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa
berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang
diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata
SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku.
Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan
membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.

"Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan.
Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos
lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas,
ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami
satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar
Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan
kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga
kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan.
Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)".

Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun,
Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan
pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap
kesalahannya dimaafkan... ....

Keikhlasan Yang Mulia

Ada sebuah cerita menarik dan mudahan bisa menginspirasi kita, mari kita baca..
cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah sarno terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan condong catur demi menyambung hidup. Mbah sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang lain mungkin berfikir “mau nonton apa saya malam ini?”, mbah sarno cuma bisa berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”

di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi mbah sarno, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.

Ketika mbah sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

“wah cepat sekali. Berapa pak?”

“5000 rupiah mas”

sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.

“wah mas gak ada uang pas ya?”

“nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak”

“maaf mas, saya nggak punya uang kembalian”

“waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan”

“udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”

“oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”

jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi mbah sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “ikhlas. Insya allah akan dapat gantinya.”

ketika waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.

“ya allah, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakmu.”

selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Ketika ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.

“wah kebetulan kita ketemu disini, pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.”

kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.

“loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?”

“sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya allah minggu depan saya berangkat ke prancis pak. Saya mohon doanya pak”
“tapi ini terlalu banyak mas”

“saya bayar sol sepatu cuma rp 5000 pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.”

RAHASIA SEDEKAH : Ibu Janda Yang Bersedekah Rp. 1 Juta


RAHASIA SEDEKAH : Ibu Janda Yang Bersedekah Rp. 1 Juta
Seorang ibu berusia 59 tahun bernama Hastuti di Jati Asih Bekasi saat itu sedang gamang. Ia tengah berdiri di sebuah konter bank setelah menarik dana sebesar 1 juta rupiah dari Teller. Rasa sedih menghinggapinya lagi. Hampir saja ia menangis meratapi jumlah saldo tabungannya yang kini tersisa 7 juta sekian.

Bukan masalah duit yang tersisa yang sebenarnya yang membuat ia hampir menangis. Namun, sungguh saldo itu semakin jauh saja dari Biaya Setoran Haji yang berjumlah 28 juta.

Sudah berkali-kali ia mencoba menyisihkan uang yang ia miliki untuk dapat berhaji. Namun sudah berulang kali angka saldo itu tidak pernah lebih dari Rp 8 juta. Setiap kali sampai angka tersebut, selalu ada saja keperluan mendesak yang harus ia tutupi. Jadi, saldo di tabungan bukannya makin bertambah, yang ada selalu kurang dan berkurang. Semalam Hastuti tak kuasa menahan gundahnya. Ia laporkan kegalauannya kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dalam doa & munajat.

Seolah mendapat ilham dari Allah, paginya ia menarik dana sebesar 1 juta. Kali ini dana yang ia tarik bukan untuk keperluannya pribadi, namun uang sejumlah itu akan ia infakkan kepada anak-anak yatim yang berada di lingkungannya.

Sejak pagi, ibu Hastuti sudah keluar dari rumah. Menjelang sore, baru ia kembali setelah mengambil uang di bank dan kemudian membagikannya kepada anak-anak yatim di sekitar.

Ia tiba di rumah pada pukul setengah empat sore. Ia langsung menuju kamar. Usai ganti baju dan shalat Ashar, ia panggil pembantunya yang bernama Ijah untuk membuatkan secangkir teh.

Ijah pun datang dan membawakan teh untuk sang Majikan. Dalam rumah seluas 200 meter itu, hanya mereka berdua yang mendiami. Ibu Hastuti adalah seorang perempuan yang sudah belasan tahun menjanda. Ia memilik 3 orang putra dan 2 putri. Kini semuanya telah berkeluarga dan meninggalkan rumah. Ibu Hastuti tinggal sendiri bersama Ijah dalam masa tuanya. Hal ini mungkin adalah sebuah potret lumrah masyarakat modern Indonesia zaman sekarang.

Saat Ijah datang membawa teh pesanan majikannya. Setelah meletakkan cangkir teh di meja, Ijah mendekat ke arah majikannya untuk memyampaikan sebuah berita.

"Bu..., tadi saat ibu pergi, den Bagus datang kira-kira jam 9. Ia tadinya mencari ibu, tapi karena ibu gak ada di rumah, ia nulis surat dan nitipkan sebuah amplop cokelat."

Ibu Hastuti pun kemudian mengatakan, "Oalah... Kok nggak bilang-bilang kalau mau datang. Aku khan juga kangen. Sudah lama gak ketemu. Ayo, mana Jah suratnya. Mungkin dia juga kesel sudah datang jauh-jauh tapi gak ketemu dengan bundanya."

Ijah pun masuk kembali untuk mengambil surat den Bagus dan amplop yang dititipkan. Amplop cokelat itu seperti berisikan sejumlah uang. Bentuknya pun tebal. Apalagi dalam amplop tersebut bertuliskan logo sebuah bank. Namun hasrat untuk membuka amplop itupun ditahan oleh Bu Hastuti. Tangannya kemudian bergerak ke selembar kertas yang disebut sebagai surat oleh Ijah.

Bu Hastuti mulai membacanya. Diawali dengan basmalah dan salam, surat itu dibuka. Tak lupa ucapan dan doa kesehatan untuk bunda dari anak-anaknya.

Tak lebih dari 2 menit, surat itu telah selesai dibaca oleh ibu Hastuti. Namun dalam masa yang singkat itu, air mata membanjiri kedua matanya, mengalir deras menetesi pipi dan beberapa bulir terlihat jatuh di surat yang ia pegang. Kemudian ia pun mengintip uang yang berada dalam amplop cokelat itu. Kemudian ia berucap kata "Subhanallah!" berulang-ulang seraya memanjatkan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas anugerah yang tiada terkira.

Seusai mengontrol hatinya, ia segera menelpon Bagus, anak pertamanya. Saat nada sambung terdengar, ia menarik nafas yang dalam. Begitu tersambung, bu Hastuti langsung mengucapkan salam dan mengatakan,

"Terima kasih ya Nak... Subhanallah, padahal baru semalam ibu berdoa mengadu kepada Allah kepingin berhaji, tapi ibu malu mau cerita kepada kalian semua. Takut ngerepotin... Eh, kok malah pagi-pagi kalian semua sudah nganterin duit sebanyak itu. Makasih ya, Nak... Nanti ibu juga mau telponin adik-adikmu yang lain. Semoga murah rezeki dan tambah berkah!"

Di seberang sana, Bagus putra pertamanya berkata, "Sama-sama bu... Itu hanya kebetulan kok. Beberapa hari lalu, saya ajak adik-adik untuk rembugan supaya dapat menghajikan ibu. Kebetulan kami semua lagi diberi kelapangan, maka Alhamdulillah uang itu dapat terkumpul. Mudah-mudahan ibu bisa berhaji selekas mungkin...."

Nada suara Bagus terdengar ceria oleh ibunya. Seceria hati Hastuti kini. Sudah lama ia bersabar untuk dapat berhaji ke Baitullah.

Alhamdulillah setelah penantian sekian lama, Allah lapangkan jalan bu Hastuti untuk datang ke rumah-Nya dengan begitu mudah. Dengan dana Rp 30 juta dari anak-anaknya, niat untuk berhaji pun ia wujudkan pada tahun 2004. Walillahil Hamd!

( Oleh : Bobby Herwibowo )

Maha Menepati Janji

Siang itu HP saya berbunyi. Mengalun sebuah lagu dari Peter Pan sebagai ringtone-nya ‘Tak Ada yang Abadi’. Sebuah nama tertulis di layar hp. Adik saya. Dan ia menyapa, ”Assalamu’alaikum.. Apa kabar Mas?”

Saya,”Wa’alaikum salam, Alhamdulillah kabar baik. Ada apa nih?”

“Begini Mas. Di tempatku sekarang sedang ada pendaftaran guru CPNS, rencananya aku mau ikut lagi. Kan tahun kemarin gagal to. Nah, kemarin itu aku ditawarin ama orang kepercayaannya Bupati kalau mau lewat jalurnya dia, dijamin pasti diterima. Tapi dia minta Rp 70.000.000,- dan aku hanya punya Rp 30.000.000,- mbok aku tolong dipinjami dulu Mas…”

Saat itu saya sedang tak memiliki uang sebanyak itu. Jadi saya tak bisa meminjaminya. Tapi agar terdengar lebih gagah sebagai kakak yang dianggap ’sukses’, inilah jawaban saya,”Begini Dik, bukannya aku gak mau minjemin uangnya. Tapi coba deh dipikir lagi, kalaupun misalnya nanti diterima jadi guru CPNS, sadarkah kalau gaji yang akan kau terima setiap bulan selama jadi PNS itu haram? Karena tanamannya haram. Masa’ keluarga akan diberi hasil yang haram? Belum lagi kalau si A yang mau bawa bahkan Bupatinya diganti sebelum pengumuman, apa nggak hangus uangnya? Sebaiknya tidak usah lewat jalur itu, lewat jalur biasa aja.”

Adik saya,”Tapi kalo lewat jalur biasa tidak mungkin diterima Mas. Teman-temanku yang ikut jalur khusus itu udah 4 orang, jaminan diterima. Aku kuatir nanti gak diterima lagi…”

Saya jawab,”Begini, ini ada jalan yang jauh lebih baik kalau mau diterima jadi guru. Berapa tadi bayarnya? Rp 70.000.000,- ya? Tempuhlah jalan yang halal dan jadikan upaya menggapai PNS sebagai riyadhah, ibadah untuk menggapai Ridho Allah. Sholat wajibnya benerin agar tepat waktu, sholat tahajud dan dhuha-nya ditambah, puasa sunat Senin Kamis dikerjakan dan sedekahlah dengan sedekah terbaik. Daripada bayar Rp 70.000.000,- lebih baik sedekahin 10%nya saja. Sekitar Rp 7.000.000,- Dan berdoa ama Allah agar dimudahkan jalannya. Lalu cari anak-anak yang tidak mampu bayar SPP, bayarin. Cari guru-guru yang ekonominya susah, bantulah. Cari anak-anak yatim yang pengen sekolah, bayarin. Begitu.”

Pembicaraan berlanjut, tapi intinya: adik saya akhirnya – setelah saya yakinkan - bersedia mengikuti saran kakaknya.

Telepon ditutup dan sayapun melanjutkan aktivitas saya di biro iklan yang saya dirikan bersama teman-teman.

Dan kurang lebih sebulan berlalu.

Siang itu telepon saya berdering. Dari adik saya.

“Mas, pengumuman CPNS-nya udah keluar. Aku gak diterima….”

Lalu terdengar isak tangis… Hening…..

“Teman-temanku yang membayar semuanya diterima ada 6 orang padahal formasinya waktu awal diumumkan hanya 4 orang. Dan mereka memang membayar Rp 70 - 100 juta/orang. Aku sudah jalanin semua saran Mas yang kemarin, tapi tetep gak diterimaaaa…”

Tangisnya meledak. Dan telepon pun terputus.

Saya terdiam. Memandang langit, seolah tidak percaya. Saya terkejut mendengar dia sedikit protes: udah ibadah kok masih gak dikabul doanya? Amal sholeh yang dikerjakannya ternyata tak mampu membuat harapannya terkabul, gak berfaedah, tumpul tidak berguna. Sedekahnya ke panti asuhan, bayarin anak orang lain sekolah, ber-qurban dengan jumlah sekitar 7 juta rupiah seolah ‘menguap’. Hilang tak berbekas.

Tapi saya masih punya setitik keyakinan bahwa meyakini pertolongan Allah itu tidak mungkin salah. Dalam kegalauan hati saya, saya pun kirim sms padanya: Dijalani saja ujiannya dengan sabar. Sholatnya ditambah, sedekahnya ditambah, doanya ditambah. Lebih baik pake jalan lurus tapi tidak diterima PNS daripada diterima jadi PNS tapi diawali dengan dosa. Jalan benar biasanya tidak mudah. Tapi Allah tidak tidur, Allah akan berikan ganti yang lebih baik jika kita khusnudzon & istiqomah di jalan-Nya…

Dan sent.

Apakah sms saya ini hanya untuk menghibur hatinya yang gundah? Demi Allah, tidak! Sms ini adalah sms jujur yang saya tulis dari dalam hati saya dan Insya Allah benar. Saya yakin itu. Seyakin-yakinnya. Lha, tapi kan sms itu tidak membuatnya jadi PNS? Jika akhirnya nganggur, sms motivasi begitu mana ada manfaatnya?

Di ujung sana sambil membaca sms saya, adik saya mungkin berfikir: lhaaah, ini mah sama aja sama sarannya kemarin. Udah dijalanin semua ikhtiarnya ke Allah dengan sholat, puasa, sedekah tapi hasilnya nehi, nol, gak kabul. Ini udah tidak diterima jadi PNS masih harus nglanjutin lagi ikhtiarnya? Please deh… Malaikat aja kali yang bisa!

Tapi saya yakinnya begitu. Rejeki itu dari Allah, bukan dari pemerintah, makelar CPNS atau lainnya.

Coba bayangin. Jika kita masuk CPNS - dalam kasus ini lowongannya adalah guru - dan lewat jalan tidak halal karena menyuap, rejeki yang masuk tiap bulan sebagai gaji kita kan gak halal, gak bersih. Bibitnya aja sudah gak bersih (suap). Lalu keluarga akan diberi makan dari rejeki itu, anak-anak akan dipelihara dan dibesarkan dengan harta haram dan ketidakjujuran. Jika ia jadi guru, Untuk menegur murid yang menyontek saja, sudah tidak layak. Mana bisa dia bilang ke murid-muridnya untuk menjadi generasi masa depan yang mulia. Dia jadi guru aja daftarnya dengan menyuap.

Keluarga yang rejekinya tidak bersih tidak akan diberikan Allah ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Bener bahwa dia akan bisa kredit rumah, kredit mobil dan jadi kaya. Tapi jika ketentraman tak ada di rumah itu: buat apa? Kalo Allah mau, rumah semahal apapun takkan bisa dinikmati penghuninya. Dengan cara mengusirnya dari rumah sendiri: harus mondok di rumah sakit karena serangan jantung, dipenjara karena korupsi atau sembunyi di goa-goa jadi buronan polisi.

Dan waktupun berlalu. Tak ada komunikasi lagi setelah itu.

Dan sekitar dua minggu setelah pengumuman ketidaklulusan itu, hp saya berdering, sebuah suara di ujung telpon dari adik saya menyapa,”Mas, lagi di Jogja atau di Jakarta? Aku mau minta tolong nih, boleh ngrepotin dicariin laptop gak ya. Suamiku butuh nih buat nulis-nulis, soale komputer satunya lagi agak ngadat.”

Saya jawab,”Laptop yang gimana kira-kira?”

Adik saya,”Yang bagus lah, sekitar 5-6 jutaan gitu..”

Saya,”Tumben, biasanya suka cari yang murah. Lagi banyak duit?”

Adik saya,”Alhamdulillah kemarin suamiku dapat rejeki dari saudaranya. Namanya tertulis di daftar waris Pakdenya dan suamiku mendapat bagiannya.”

Saya,”Alhamdulillah…”

Adik saya,”70 juta rupiah, Mas..”

“Subhanallah!” keterkejutan saya beriring dengan syukur yang luar biasa.

Saya terdiam setelah itu dan menyadari bahwa kisah ini bukan ditujukan untuk adik saya tapi buat saya. Rp 70.000.000,- itu adalah janji Allah yang tertunaikan setelah adik saya bersedekah Rp 7.000.000,-

Allah seolah menyampaikan kepada saya: Aku tak pernah mengingkari janji-Ku. Takkan pernah. Jikapun kamu tidak yakin, jikapun kamu tidak percaya, jikapun kamu bingung, gundah gulana, cemas, khawatir: ikutilah jalan-Ku maka pasti selamat.

( Oleh : Arief Budiman )

RAHASIA SEDEKAH : Pertolongan Sedekah 500 Perak

RAHASIA SEDEKAH : Pertolongan Sedekah 500 Perak
Mungkin kita gak nyadar kalo hanya dengan sedekah 500 perak, ternyata kita bisa jadi beruntung seharian. Kenapa? Ini pengalaman saya. Biasanya orang kan kalo mau sedekah suka pertimbangan sana-sini, misalnya sedekah 10.000, 5.000, atau 1.000 ya? Kalo 10.000, lumayan buat beli makan siang. Kalo 5.000, lumayan buat ongkos sebalik. Kalo 1.000, lumayan buat beli es nong-nong atau keripik di bungkus kecil (pelit.com yah!). Akhirnya, 500 perak lah yang kita ikhlas berikan kepada pengemis, amal di mesjid, dan atau pengamen. Judulnya, yang penting ikhlas walau hanya dengan 500 perak. Ikhlas menurut saya nih, bila hati berkata kasih aja tuh duit, yah kasih tanpa berpikir ini-itu, takut keburu hilang niat baiknya.

Nah, kemarin saya ketemu pengemis tua di depan stasiun. Saya lihat dia, langsung merasa kasihan dan langsung kasih 500 perak. Saya gak berpikir saya bakal dapat apa yah setelah ngasih tuh bapak? Karena cuma 500 perak, malu saya mengharap sesuatu yang bahkan sedikit dari Allah dengan pemberian yang sangat kecil itu. Saya langsung berlalu dan menuju peron tuk menunggu kereta. Seperti biasa, saya gak dapat tempat duduk, dan di depan saya duduklah seorang ibu dengan anaknya yang masih balita. Anaknya menangis sambil teriak gitu, pekak telinga ini mendengarnya, mana AC-nya dingin banget lagi dan saya gak bawa jaket. Saya pengen pindah tapi males karena udah pw alias posisi wuenak dengan posisi diri saya he..he.. Lengkaplah penderitaan saya (saya yang buat sih!).

Keberuntungan datang karena di sebelah saya ada orang yang baca koran dan beritanya menarik sehingga saya jadi nimbrung baca. Dan dari berita itula saya mendapat ide tuk menuliskannya di Kompasiana judulnya “Guru, Kenapa Engkau Mencuri”, dan ternyata respon kompasioner cukup banyak, mengalahkan respon postingan saya sebelumnya. Keberuntungan yang lain yaitu: seharian saya ketemu orang yang ramah dan baik. Setiap keinginan-keinginan kecil saya dikabulkan oleh Allah, seperti ketika pulang saya ingin kereta cepet datang sehingga saya cepet sampe rumah, kemudian bisa mandi dan sholat di rumah. Karena sebelumnya, saya selalu sholat di mesjid stasiun dan sampe rumah 15 menit setelah adzan Isya. Eh, tiba-tiba si petugas kereta bilang kereta akan datang. Seneng banget dong, walau penuh tuh kereta, yang penting pulang cepet. Baru 10 menit di kereta, seorang bapak menyodorkan tempat duduk, biasanya gak ada tuh yang kasih tempat duduk dengan banyaknya penumpang di gerbong itu.

Beberapa menit kemudian hujan, saya gak mau kehujanan. Eh, ternyata sampe stasiun Depok Baru, hujan berhenti. Seneng lagi hati saya. Angkot yang saya tumpangi hanya satu penumpangnya yaitu saya sendiri. Saya was-was, ah pasti ngetemnya lama. Eh, gak taunya si sopir mau ngetem gak bisa karena ada polisi. Karena kasihan sama tuh sopir dan saya gak mau jadi satu-satunya penumpang, maka dalam hati saya minta sama Allah, “Ada kek penumpang kira-kira 5 orang.” Eh, beberapa menit kemudian, ada penumpang 3 orang. Sama saya berarti jadi 4 dong. Yah lumayan! Beberapa menit kemudian ada 1 penumpang masuk, berarti pas jadi 5 penumpang! Ketika sampai ke jalan menuju rumah saya, saya lihat jalanan becek banget, dan rintik-rintik hujan mulai menyergap. Saya gak mau kehujanan. Seperti biasa saya naik ojek. Dan setelah saya sampai rumah, hujan langsung menyergap kawasan sekitar saya, dan mungkin kawasan yang lain juga hujan. Saya bersyukur banget, ternyata keinginan-keinginan kecil saya terkabul ole Allah hanya gara-gara sedekah 500 perak.

(oleh: Mariska Shinta )