Minggu, 08 Juli 2012

RAHASIA SEDEKAH : Bersedekah di Pagi hari

RAHASIA SEDEKAH : Bersedekah di Pagi hari
Hari ini Allah mempertemukan keluarga saya dengan seseorang yang sama sekali belum pernah kami temui. Tadi pagi kurang lebih pukul 07.00 WIB rumah kami kedatangan seorang nenek2 berpakaian kurang layak, memakai kerudung/jilbab, nggak beralaskan kaki, dan membawa semacam tas. Orang yang pertama menemui nenek tersebut adalah ibu saya, kebetulan tadi ibu saya sedang berada di depan rumah dan saya sedang siap2 dikamar untuk berangkat kerja.

“Nyari siapa nek...?”, tanya ibu saya.

Lalu si nenek menjawab dengan tutur kata yang sopan dan suara lemas “Maaf bu, saya cuma mau minta sedekah...”.

“Oh silahkan duduk dulu, saya ambilkan nasi dulu ya nek? Biar nenek istirahat & makan dulu”, balas ibu saya. Sepertinya ibu saya merasa sangat kasihan melihat nenek itu.

Mendengar percakapan tersebut saya langsung keluar dari kamar, saya penasaran sebenernya siapa orang yang ada di depan rumah. “Bu, siapa nenek itu? Beliau nyariin siapa?”, tanya saya kepada ibu saat ibu sedang mengambilkan makan.

“Beliau nggak mencari siapa2 koq... Tadi cuma minta sedekah aja. Ini ibu mau beri makan dulu wong kasian kayaknya tu nenek lemes banget...”, jawab ibu.

“Astagaaa.... kasian sekali nenek itu...”, batin saya.

Akhirnya saya dan adik saya cepat2 mengikuti ibu untuk menemui nenek itu, percakapan antara ibu saya dan si nenek pun dimulai lagi, kurang lebih seperti ini :

Ibu saya : “Ini nek nasinya dimakan dulu, maaf cuma sama telur soalnya saya belum selesai masaknya”.

Si nenek : “Alhamdulillah... Terimakasih bu... Terimakasih... Saya do'akan ibu dan keluarga mendapat balasan yang setimpal”.

Kami : “Amien....”

Setelah si nenek selesai makan masih sempet ngobrol2 juga tuh sama ibu. Tapi tiba2 si nenek mengalihkan pandangannya ke arah dimana saya berdiri, “Dia siapa bu...?”, tanya si Nenek.

Lalu ibu saya menjawab “oh dia anak saya yang pertama nek...”.

Si nenek pun memberi senyum kepada saya... Seketika saya merasa melihat senyuman penuh rasa syukur dari muka si nenek... :)

Ibu saya : “Maaf nek kalo boleh tau nama nenek siapa dan nenek berasal dari mana...?”,

Si nenek : “Nama saya Rianti, saya dulu tinggal di Wonosobo... Tetapi sekarang saya hidupnya dijalan karena saya udah nggak punya siapa2 lagi”,

Ibu saya : “Loch emang keluarga nenek atau anak2 nenek dimana?terus selama dijalan gimana cara nenek untuk bertahan menjalani hidup?”,

Si nenek : “Dulu saya 3 bersaudara, tetapi kedua saudara2 saya udah meninggal karena sakit2an dan juga faktor usia. Semenjak itu saya dirawat oleh tetangga saya. Tetapi saya memutuskan untuk pergi karena saya merasa udah tua dan takut selalu merepotkan. Saya nggak mempunyai seorang anak bu, karena saya sampai saat ini belum pernah menikah sama sekali, Selama ini saya menjalani hidup dengan mengharap sedekah dari orang lain”.

Kami pun langsung terdiam mendengar cerita si nenek, kami merasa kasihan sekali. Lalu kami memberi sedekah untuk nenek itu, memang sih jumlahnya tidak banyak, tapi kami memberinya dengan ikhlas lahir dan batin...

Nggak lama kemudian si nenek berpamitan untuk pergi lagi,

Si nenek : “Saya pamitan dulu ya bu, terimakasih atas semua sedekahnya...”,

Ibu saya : “Oh iya nek sama2, tapi tunggu sebentar ya nek”,
ibu saya buru2 masuk kekamar, lalu keluar lagi dan ternyata ibu saya juga memberi beberapa pakean2 yg masih pantas pakai dan sepasang sandal jepit punya ibu buat si nenek itu.
Muka si nenek terlihat kaget ketika ibu saya memberikannya barang2 tersebut, mungkin karena si nenek nggak mengira bakal dikasih pakean dan sandal oleh ibu saya.

Si Nenek : “Sekali lagi terimakasih bu... Semoga keluarga ibu selalu diberi kemudahan dalam menjalani hidup, semoga rejekinya juga berkelimpahan, dan selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT. Pesan saya, taatlah beribadah dan banyak2lah bersedekah kepada siapapun bu, karena orang yang banyak bersedekah pasti akan mendapatkan balasan yang berlipat-lipat. Allah itu Adil. Assalamu'alaikum....”,

Kami : “Amien... Terimakasih juga atas do'a2nya nek, hati2 dijalan.. Wa'alaikumsalam...”.

Melihat keadaan si nenek sekaligus mendengarkan cerita kisah hidupnya membuat hati saya benar2 merasa harus lebih BERSYUKUR atas semua yang saya miliki selama ini... Bersyukur juga masih diberi kesempatan untuk BERBAGI... Karena BERBAGI adalah salah satu cara untuk menciptakan Kebahagiaan dalam hidup saya...


Seperti itulah kurang lebih kejadian yang saya alami di rumah tadi pagi, sungguh kejadian di luar dugaan yang luar biasa bagi saya. Karena lewat(perantara) nenek itu keluarga saya diingatkan kembali untuk banyak2 BERSEDEKAH kepada siapapun. Benar2 nggak menyangka seorang nenek yang keadaanya kurang beruntung berbicara seperti itu. Ya Allah... Mulia sekali hati nenek itu... Terimakasih karena Engkau telah mempertemukannya dengan keluarga saya...

Dengan kejadian tersebut saya kembali mendapatkan sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga dari seorang nenek yang sama sekali belum pernah saya kenal. Saya juga merasa mendapatkan “Bonus” dari nenek itu, “Bonus” tersebut berupa Do'a.

Saya anggap pelajaran yang saya dapatkan dan “Bonus” itu adalah baru sebagian balasan dari Allah, balasan atas sedekah yang udah keluarga saya berikan untuk nenek itu. Walaupun balasan tersebut nggak terlihat oleh mata/nggak berwujud sebuah barang, tetapi bagi saya nilainya malah lebih berharga dari barang apapun karena semua itu pasti bermanfaat seumur hidup.

( Oleh : Yogie Meinarsih )

RAHASIA SEDEKAH : Keajaiban Sedekah Pak Husni

RAHASIA SEDEKAH : Keajaiban Sedekah Pak Husni
Pasangan Pak Husni dan Ibu Juriyah tinggal di satu desa di kawasan perkebunan teh milik PT..Nusantara. di Cianjur. Mereka adalah pasangan suami istri dimana Pak Husni bekerja sebagai buruh tani sedangkan Ibu Juriyah bekerja sebagai guru swasta di Sekolah Dasar.

Di sekeliling tempat tinggal mereka, berdiri beberapa rumah yang rata-rata sebagai karyawan perusahaan perkebunan, sebagian ada yang berprofesi sebagai pedagang roti, bekerja di toko bangunan bahkan ada yang sebagai karyawan serta pejabat di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Keluarga Husni adalah keluarga harmonis, dia termasuk keluarga terpandang yang semua kebutuhan mereka dapat terpenuhi dengan baik. Mereka tidak pernah kekurangan sama sekali dalam hal sandang, pangan dan papan. Bahkan mereka juga tidak pernah terlambat dalam hal menyumbang kegiatan sosial, baik berupa kerja bakti maupun iuran sosial yang harus merogoh kantong saku sendiri.

Dalam hal semua jenis iuran sosial, keluarga Husni termasuk yang paling mendahulukan. Kondisi ini berbeda dengan para tetangga mereka yang notebane adalah orang kaya dengan aktivitas dan keuangan yang tergolong lancar dan berlebih. Tapi itulah anehnya, yang mampu-mampu justru kebanyakan absen dan tidak pernah mengisi iuran kegiatan sosial seperti pembangunan Masjid, perbaikan jalan maupun sarana umum yang lain.

Hal ini juga sama dengan tetangga lainnya yang bekerja sebagai salah satu pimpinan unit pada salah satu kantor Badan Usaha Milik Negara dengan tunjangan gaji yang bisa mencapai di atas 10 juta rupiah. Ya mungkin dalam hal pengelolaan keuangan rumah tangga tidak bisa melihat dari sisi luarnya saja. Bisa saja dengan gaji seperti itu mungkin tetap belum cukup.

Suatu saat Ibu Juriyah sedang sibuk membersihkan halaman rumahnya sedangkan Pak Husni sibuk menyiangi pohon mangganya yang sangat rimbun. Seorang nenek tua tiba-tiba datang sembari berkata pada Ibu Juriyah. "Penghuni rumah ini tidak akan kekurangan harta selama hidupnya". Nenek tua itu secara spontan mengucapkan kata-kata tersebut di depan Ibu Juriyah dan lantas ia pergi begitu saja tanpa penjelasan. Sebaliknya Ibu Juriyah sama sekali tidak mengerti maksud dan ucapan Nenek tua yang tidak dikenalnya itu.
Cerita itu bukan dongeng atau legenda, tetapi ini adalah kenyataan yang dialami keluarga Pak Husni. Bahkan Ibu Juriyah juga telah meyakinkan hal itu kepada saudaranya bahwa keluarganya selalu diberi kemudahan harta dan ketentraman berkeluarga sejak menempati rumah miliknya selam puluhah tahun. Keluarga Pak Husni memang selalu diberi keberkahan rejeki karena kebaikan-kebaikan yang selalu diberikan kepada orang lain.

Pak Husni dan Ibu Juriyah selalu menyisihkan setiap hasil panennya untuk zakat dan sedekah. Bahkan mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk sedekah. Siapapapun yang datang apalagi ia sampai menyampaikan kehendak hatinya untuk meminta uang, ia langsung memberikan apapun yang mereka miliki di rumah itu tanpa banyak komentar. Tidak heran jika Pak Husni tidak pernah mengalami kesulitan keuangan, makanan dan sebagainya. Hal yang sering dilakukan yang menurut tetangganya adalah menengok tetangganya yang sakit baik sakit ringan maupun sakit berat. Bahkan mereka tidak canggung untuk membawa keluarga si sakit ke rumah sakit dengan membiayai semua biaya perawatan dan pengobatannnya.

Suatu ketika Pak Husni sedang dalam perjalanan menjenguk sanak keluarganya yang berada di Wonosobo dan di Jogjakarta, tiba-tiba dia ditelpon oleh seorang tetanggannya yang bernama Mang Daim. Pada saat yang sama laki-laki itu memerlukan uang tebusan untuk menolong nyawa istrinya yang hampir tidak tertolong sehabis melahirkan. Karena Mang Daim memerlukan biaya besar untuk keperluan medis di rumah sakit swasta. Biaya yang diperlukan kurang lebhih 30 juta untuk bisa mengambil istri dan buah hatinya karena operasi cesar yang telah dilakukan oleh istri Mang Daim itu.
Akhirnya Pak Husni langsung pulang, sesampainya di rumah Pak Husni langsung menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit dia sempat kebingungan karena tidak membawa uang yang cukup untuk menebus obat dan membayar biaya perawatan istri Mang Daim. Kemudian Pak Husni bergegas pulang. Selama perjalanan dia berpikir " Dari mana uang sebesar itu ya Alloh? Gumamnya dalam hati.

Atas saran istrinya Pak Husni langsung menuju ke rumah saudara iparnya." Saya perlu uang sekarang minimal 30 juta". saudara ipatnya menyetujuinya tetapi dengan tenggang waktu yang tidak masuk akal. "Tidak boleh lebih dari 3 hari. Jika lebih dari 3 hari maka tanahmu menjadi milik saya." Kata saudara iparnya itu.

Ketika semua biaya perawatan dan pengobatan sudah terbayar, maka istri Mang Daim bisa dibawa pulang. Betapa bahagianya Mang Daim beserta keluarganya karena bisa membawa pulang istri dan buah hati mereka.
Suasana yang dirasakan Mang Daim berbeda denga suasana hati Pak Husni, "30 juta?, dari mana saya dapat mengembalikan itu dalam waktu 3 hari?, dari mana saya bisa mendapat uanh sebanyak itu? kalau tidak bisa mengembalikan berarti tanah dan sawah saya akan hilang?" Hati Pak Husni demikian gelisah.
Bi-idznillah atas kekuasaan Alloh SWT, ternyata kegelisahannya terjawab dalan waktu yang sangat cepat. Saat bangun tidur di pagi hari, dia mulai dibayangi berbagai kecemasan. Demikian juga saat siang dan sore.

Bahkan saat adzan maghrib berkumandang hatinya semakin gelisah karena waktunya untuk mengembalikan pinjaman akan segera berakhir. Dihari ketiga setelah menunaikan shalat maghrib dia berdoa "Ya Alloh, mudahkanlah segala urusan yang menyempitkan hati dan kehidupan saya. "Ya Alloh, berilah jalan yang mudah, baik dan cepat untuk menyelesaikan seluruh hutang saya" Demikian doa Pak Husni sambil menangis, dia sudah tidak ada jalan keluar lagi kecuali dicurahkannya isi hatinya kepada yang maha Hidup, uang 30 juta tidaklah mungkin datang begitu saja tanpa pertolongan Alloh SWT.

Diluar perkiraan, Alloh SWT ternyata mengabulkan doa Pak Husni dengan melapangkan berbagai kesulitan yang sedang dihadapinya. Malam itu selepas shalat isya Pak Husni Kedatangan tamu seorang saudagar kaya. Pak Husni sendiri tidak mengenali tamunya, yang dia tahu bahwa tamunya berkendaraan mobil mewah yang sangat mencolok kalau masuk kampung Pak Husni. "Kedatangan saya ini pertama silaturahmi, yang kedua saya mempunyai kelebihan uang dan silahkan bapak pakai dengan tidak usah memikirkan pengembalianya.

Saya dulu itu sebeltulnya pernah ditolong Bapak, saat itu saya tidak mempunyai tiket dalam perjalanan dari Jakarta ke jogjakarta dan berkat pertolongan Bapak saya tidak jadi diturunkan di tengah perjalanan." cerita saudagar itu. "Subhanalloh,, saya sendiri sudah lupa peristiwa itu lhoPak?" Timpal Pak Husni. "Justru saya teringat terus dengan Bapak, saya juga tidak tahu alamat bapak, tapi dengan niat tulus ingin silaturahmi ya saya cari-cari alamat bapak di Cianjur ini, berkat Alloh SWT-lah saya bisa berjumpa kembali dengan Bapak." Muka Pak Husni agak berkaca-kaca, Allloh sangatlah dekat, terutama dekat dengan orang-orang yang dekat dengan-Nya.

Setelah tamunya pulang Pak Husni langsung bergegas ke rumah saudara iparnya itu. Alangkah kagetnya setelah membuka amplop besar dari tamunya, rupanya isi amplop tidak hanya 30 juta rupiah tapi malahan 50 juta rupiah. Jumlah itu diketahui setelah Pak Husni menghitung sejumlah 30 juta untuk membayar hutang, tidak tahunya kok uangnya masih sisa begitu banyak.
Pak Husni hanya berdoa agar dapat membayar hutang sejumlah 30 juta, tapi Alloh SWT memberinya 50 juta.

RAHASIA SEDEKAH : Buah Indahnya Bersedekah

RAHASIA SEDEKAH : Buah Indahnya Bersedekah
Asallamualaikum.wr.wb.

saya adalah salah seorang yang pernah merasakan buah dan indahnya bersedekah.waktu itu saya habis mengunjungi teman yang sudah lama tak berjumpa.tepatnya di wilayah kerawang jawa barat,yang masih banyak sawah2 dan jalan pun gelap maklum wilayah pedesaan.waktu itu hujan sangat lebat dan jalan pun sangat becek/berlumpur.kira2 jam 11 malam aku menelusuri jalan di pingiran areal pesawahan.

tiba2 ada dua orang yang sedang berdiri di pematang sawah yang jauh dari tempat tinggal penduduk.aku berhenti karna di dalam hati sya berkata berhentilah dan tanyakan ada apa gerangan?aku melihat ada seorang bapa dan seorang ibu yang sedang hamil tua.aku bertanya:ada apa pa? dia mejawab ini motor saya mogok.saya bertanya lagi:memangnya kenapa pa? di menjawab:ini motor saya bensinnya habis! aku melihat ibu yang sedang hamil tua itu sangat iba.kemudian saya mempersilahkan ibu dan bapa tadi untuk menunggu.dan saya langsung bergegas mencari bensin.

Ternyata bensin sangat sulit saya dapatkan. Setelah perjalanan mencapai kira2 2KM,barulah saya dapatkan bensin itu.lalu saya kembali lagi ke tempat bapak dan ibu itu menunggu.ternyata beliau sedang menunggu2 saya.dengan hati senang mereka menuangkan bensin ke motornya yang mogok.wajah kedua orang itu sangat senang aku melihat wajanya yang selalu tersenyum gembira.aku pun sangat2 senang melihat motornya kembali hidup.berkali -kali mereka mengucapkan terimakasih kepada saya.

SELANG BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN aku mengisi bensin full/penuh mungkin 10 liter di pom bensin ,aku merasa uangku di dompet cukup.tiba2 setelah bensin di isi kedalam motorku,aku ambil dompetku di kantong celanaku.ternyata tidak ada.Betapa stress dan paniknya aku.aduh2 yang aku kira uang ku di dompet sudah aku masukan kedalam kantong celanaku,ternyata tertinggal di rumah.mana jauh lagi kira2 jarak dari rumahku ke pom bensin itu 20Km.

Ya allah bagai mana ini! sedangkan bensin sudah di isi penuh.apa aku bayar pake ktpku yah..!tapi ktpku juga ada dalam dopet ku yang tertingal di rumah.sambil berpikir ....aku memanggil nama allah,ya allah !..tolonglah hambamu yang hina ini....!selang 2menit setelah aku berdoa dalam hati.

Tiba2 ada seseorang memakai baju putih membawa mobil bertanya kepadaku? ada apa mas? aku menjawab ini ......!dompet saya ketinggalan sedang bensin sudah di isi penuh.orang itu bertanya? berapa liter? saya bilang 10 liter. lalu orang tersebut langsung membayarnya dengan uang cash. setelah membayar lalu orang itu pergi entah kemana,saya juga bingung.......!

petugas pom bensin juga pada bungung.kemana perginya orang tadi? mereka bertanya pada saya saudaranya ya,mas?............. aku bingung bercampur sedih karna gembira,senang,kagum,bingung juga.,

siapakah gerangan yang membantu saya tadi?.................selang beberapa saat saya berpikir. Massa alloh ternyata sedekah saya dulu.yang pernah saya alami.inilah kisah nyata yang saya alami.

wassallam .

( Oleh : nurdin/bks/salford.08561690315 )

RAHASIA SEDEKAH : Buah Merawat Ibu Menjelang Ajal

RAHASIA SEDEKAH : Buah Merawat Ibu Menjelang Ajal
Hari ini (Sabtu, 12 Peb 2011) saya rasakan hari yang luar biasa dalam hidup. Untuk pertama kalinya sejak sekitar satu tahun yang lalu saya baru bisa menafkahi anak isteri dari jerih payah sendiri. Bekerja. Saya genggam erat-erat uang gaji minggu ini dengan hati bergetar penuh kesyukuran pada Allah SWT. Usai sudah penantian panjang ini. Selama ini, saya bergantung hidup pada kakak yang memberi jaminan hidup karena saya tidak bekerja? Kenapa saya tidak bekerja? Dulu, sayapun bekerja, lalu atas kemauan sendiri (meski mengandung banyak konsekuensi logis) saya keluar dari tempat kerja. Apa sebabnya? Saya harus merawat ibu yang sudah tua (80 tahun), hampir buta dan sakit-sakitan.

Satu tahun lebih saya merawat ibu dalam keadaan seperti itu. Aktivitas rutin saya dimulai dari sekitar jam 2 dini hari, saat ibu bangun dan minta diantar ke kamar mandi. Setelah buang air dan wudlu, ibu saya antar lagi ke tempat tidur untuk sholat malam hingga subuh. Setelah tidur sejenak, ibu minta dibangunkan lagi untuk ke kamar mandi, wudlu dan sholat dhuha. Sementara ibu sholat dhuha, saya membuatkan bubur hangat untuk sarapan ibu. Begitu selesai sholat dhuha, secangkir teh manis hangat dan bubur hangat sudah saya siapkan. sementara ibu sarapan, saya mencuci pakaian anak, isteri dan ibu saya.

Selesai menjemur cucian, saya mengepel badan ibu, meneteskan obat mata pada kedua mata ibu yang hampir tak dapat melihat lagi. Selanjutnya ibu tidur lagi hingga menjelang dhuhur. Waktu dhuhur tiba, saya bangunkan ibu untuk sholat dan makan siang. Selesai makan siang biasanya ibu berbincang-bincang dengan saya hingga dia merasa mengantuk dan tyidur kembali hingga menjelang asar. Saat waktu asar masuk, saya bangunkan ibu dan mengambil wudlu untuk kemudian sholat asar. Selesai sholat asar ibu wiridan hingga menjelang maghrib.

Selesai sholat sholat maghrib ibu wiridan lagi hingga waktu isya tiba. Selesai sholat isya ibu makan malam dan kemudian tidur setelah sebelumnya saya urut kaki dan badan ibu dengan param. Ketika ibu sudah tertidur, tugas saya belum selesai. Mengajari dan menunggui anak belajar dan menggarap PR menjadi tugas saya selanjutnya. Selanjutnya, gantian saya mendengarkan keluh kesah isteri tentang berbagai masalah dalam rumah tangga kami. Dan, sayapun tertidur dengan segala macam beban dalam kepala. Tak banyak yang saya minta pada Allah SWT dalam munajat saya waktu itu. Saya hanya mohon diberi tambahan kesabaran. Itu saja.

Rutinitas seperti diatas berjalan selama hampir setahun. Jangan tanyakan perasaan saya saat pagi hari, misalnya, sementara anak berangkat sekolah, isteri berangkat bekerja, satu persatu tetangga berangkat bekerja, dan saya mencuci dan menjemur pakaian ibu dan anak isteri saya.

Tanggal 14 Oktober 2010 ibu meninggal dunia dengan tenang. Seperti keinginannya sejak dulu, beliau meninggal dalam pangkuan saya, ditunggui anak-anaknya, cucunya dan cicitnya. Alhamdulillah, menjelang ajal ibu diberi kesempatan Allah SWT untuk berpamitan pada anak-anaknya, saling meminta maaf dan mewasiatkan pesan agar anak-anaknya saling rukun sepeninggalnya. Tak banyak orang diberi kesempatan seperti itu. Ibu meninggal dengan tenang dan bahagia karena ditunggui anak-anaknya. Ternyata, hal yang paling diinginkan orang tua adalah : MELIHAT ANAK-ANAKNYA RUKUN. Tak peduli betapapun kayaknya seseorang, tak akan berarti bila anak keturunannya tidak rukun. Berapa banyak orang tua nelangsa melihat anak-anaknya berebut warisan bahkan saat kedua orang tuanya masih hidup.

Tiga bulan selepas kepergian ibu, hati saya masih perih. Semangat hidup saya benar-benar drop hingga titik nadir. Saya berusaha bangkit lagi. Cari kerja. Pernah saya berjalan kaki sejauh 10 KM mencari kerja untuk mendapatkan satu jawaban : TIDAK! Tapi ternyata Allah SWT tidak membiarkan saya terlalu lama dalam kesedihan dan keterpurukan. Seorang teman yang dulu pernah satu kantor kirim SMS. Dia menawari saya pekerjaan yang semestinya menjadi tugasnya. Dia melewatkan pekerjaan itu karena diterima dalam perekrutan CPNS. Pucuk dicintai ulam tiba. Tentu saja tak melewatkan kesempatan itu. Jobnya pas dengan pengalaman saya dan saya sedang membutuhkannya! Alhamdulillah.

Setelah seminggu bekerja (dalam masa training) saya menerima apa yang menjadi hak saya. Sedekah tentu saja tak lupa. Hari ini, sepulang kerja, saya beli (dengan upah saya) jagung bakar kesukaan anak saya. Sore ini, saya nikmati jagung bakar bersama anak isteri. Selamat datang semangat hidup! I' back! Alhamdulillah!

RAHASIA SEDEKAH : Rp. 1.500,- = Rp. 600.000,- (matematika Allah)

RAHASIA SEDEKAH : Rp. 1.500,- = Rp. 600.000,- (matematika Allah)
Jum’at lalu, saya berangkat ke kantor dengan dada sedikit berdegub. Melirik ukuran bensin di dashboard motor, masih setengah. “Yah cukuplah untuk pergi pulang ke kantor”.

Namun, bukan itu yang membuat dada ini tak henti berdegub. Uang di kantong saya hanya tersisa seribu rupiah saja. Degubnya tambah kencang karena saya hanya menyisakan uang tidak lebih dari empat ribu rupiah saja di rumah. Saya bertanya dalam hati, “makan apa keluarga saya siang nanti?” Meski kemudian buru-buru saya hapus pertanyaan itu, mengingat nama besar Allah yang Maha Melindungi semua makhluk-Nya yang tawakal.

Saya berangkat, terlebih dulu mengantar si sulung ke sekolahnya. Saya bilang kepadanya bahwa hari ini tidak usah jajan terlebih dulu. Alhamdulillah ia mengerti. Soal pulangnya, ia biasa dijemput tukang ojeg yang –sukurnya- sudah dibayar di muka untuk antar jemput ke sekolah.

Sepanjang jalan menuju kantor saya terus berpikir, dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk menjamin malam nanti ada yang bisa dimakan oleh isteri dan dua putri saya. Urusan besok tinggal bagaimana besok saja, yang penting sore ini bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa dimakan.

Tiba di kantor, tiba-tiba saya mendapatkan sebungkus mie goreng dari seorang rekan kantor yang sedang milad (berulang tahun). Perut saya yang sejak pagi belum terisi pun mendesak-desak untuk segera diisi. Namun saya ingat bahwa saya tidak memiliki uang selain yang seribu rupiah itu untuk makan siang. Jadi, saya tangguhkan dulu mie goreng itu untuk makan siang saja.

Sepanjang hari kerja, terhitung dua kali saya menelepon isteri di rumah menanyakan kabar anak-anak. “sudah makan belum?” si cantik di seberang telepon hanya menjawab, “Insya Allah,” namun suaranya terasa getir. Saat itu, anak-anak sedang tidur siang.

Pukul lima sore lebih dua puluh menit saya bergegas ke rumah. Sebelumnya saya sudah berniat untuk menginfakkan seribu rupiah di kantong saya jika melewati petugas amal masjid yang biasa ditemui di jalan raya. Sayangnya, sepanjang jalan saya tidak menemukan petugas-petugas itu, mungkin karena sudah terlalu sore. Akhirnya, sekitar separuh perjalanan ke rumah, adzan maghrib berkumandang. Motor pun terparkir di halaman masjid, dan seketika mata ini tertuju kepada kotak amal di pojok masjid. “bismillaah…” saya masukkan dua koin lima ratus rupiah ke kotak tersebut.

Usai sholat, setelah berdoa saya meneruskan perjalanan. Tapi sebelumnya, tangan saya menyentuh sesuatu di kantong celana. Rupanya satu koin lima ratus rupiah. Kemudian saya ceploskan lagi ke kotak amal yang sama.

Sesampainya di rumah, isteri sedang memasak mie instan. Semangkuk mie instan sudah tersaji, “kita makan sama-sama yuk…” ajak si manis. Kemudian saya bilang, “abang sudah kenyang, biar anak-anak saja yang makan”. Anak-anak pun lahap menyantap mie instan plus nasi yang dihidangkan ibu mereka. Rasanya ingin menangis saat itu.

***

Keesokan paginya, isteri menggoreng singkong untuk sarapan. Alhamdulillah masih ada yang bisa dimakan. Sebenarnya hari itu masih punya harapan. Seorang teman isteri beberapa hari lalu meminjam sejumlah uang dan berjanji mengembalikannya Sabtu pagi. Namun yang ditunggu tidak muncul. Bahkan ketika terpaksa saya harus mengantar isteri menemui temannya itu, pun tidak membuahkan hasil.

Tiba-tiba telepon saya berdering, “Pak, saya baru saja mentransfer uang satu juta rupiah ke rekening bapak. Yang empat ratus ribu untuk pesanan 20 buku bapak yang terbaru. Sisanya rezeki untuk anak-anak bapak ya…” seorang sahabat dekat memesan buku karya saya yang terbaru.

Subhanallah, Allahu Akbar! Saya langsung bersujud seketika itu. Saya hanya berinfak seribu lima ratus rupiah dan Allah membalasnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Ini matematika Allah, siapa yang tak percaya janji Allah? Yang terpenting, siang itu juga saya buru-buru mengeluarkan sejumlah uang dari yang saya peroleh hari itu untuk diinfakkan.

***

Saya bersyukur tidak memiliki banyak uang maupun tabungan untuk saya genggam. Sebab semakin banyak yang saya miliki tentu semakin berat pertanggungjawaban saya kepada Allah.