Sabtu, 02 April 2011

Kecanduan Sedekah

Kecanduan Sedekah

Saya tertegun dan manggut-manggut ketika membaca sebuah artikel yang bunyinya begini : Untuk bersedekah sebenarnya gak usah nunggu ikhlas dulu, lakukan aja sesering mungkin. Bisa saja dalam 10 kali kita bersedekah yang 6 tidak ikhlas awalnya tapi masih lumayan ada 4 yang ikhlas. Dan kalo sering bersedekah lama-lama akan jadi kebiasaan sehingga nilai ikhlasnya sudah lebih banyak lagi yang pada akhirnya nanti bersedekah itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Kalo bersedekah ada unsur riya juga lakukan aja, toh yang rugi diri kita sendiri kalo yang menerima sih masih bisa merasakan kebahagian. Lumayan masih bisa tidak merugikan orang lain. Semua kegiatan yang baik memang awalnya harus dipaksa dulu sambil jalan diharapkan kesadaran mulai muncul.

Coba simak;
Sholat itu harus khusyu, memang kalo gak khusyu trus gak usah sholat?
Puasa itu harus bisa menjaga hawa nafsu, memang kalo gak bisa menjaga hawa nafsu boleh gak puasa?

Bukannya lebih baik;
Sholat aja dulu nanti juga lama-lama Insya Allah bisa khusyu
Puasa aja dulu nanti juga lama-lama bisa terlatih menahan hawa nafsu
Sedekah aja dulu nanti juga lama-lama bakalan bisa ikhlas…..

Jadi untuk bersedekah ternyata gak usah nunggu ikhlas dulu yang penting lakukan saja jangan dipikir jangan dihitung….
..Just Action !!! Karena Bisa itu hadir setelah Terbiasa.

Menilik pada pengalaman pribadi saya ungkapan tersebut tanpa saya sadari telah saya alami. Sebagai seorang pedagang ketemu orang yang meminta-minta merupakan aktivitas harian yang saya temui. Dulu saya amat antipati sekali melihat orang yang meminta-minta itu sebut saja seperi pengemis, pengamen dsb, pikir saya waktu itu “apa bener saya mendapatkan pahala dengan memberi kepada mereka, mereka saja terlihat masih muda, sehat dan kuat untuk bekerja bukankah secara tidak langsung saya mendidik mereka untuk malas belum lagi seperti pengamen-pengamen itu jangan-jangan uangnya untuk dibelikan minuman keras, bukan pahala yang kan diperoleh bisa-bisa saya turut menanggung dosanya karena ikut membantu, selain itu saya juga berfikir masa sih ada orang yang mau miskin selamanya dengan terus-terusan meminta setiap hari pula ataupun Tuhan membiarkan hambaNya terus menjadi peminta-minta, I dont think so”.

Pada umumnya orang berujar; “Sedekah itu seikhlasnya” kalimat itu juga yang biasanya saya gunakan kalo diminta sumbangan. “Maksudnya seikhlasnya apa sih pak” tanya seseorang, “kalo ada uang ya ngasih kalo gak ada uang ya jangan dipaksakan”, jawab saya. ” sering sedekah?” tanya temen saya, ” ya karena jarang punya uang ya jarang”, jawab saya. ” Lagian juga kalo punya uang kalo ngasihnya gak ikhlas percuma aja gak ada pahalanya”, saya nambahin. Kata “ikhlas” menjadi senjata pamungkas saya sebagai tameng untuk tidak memberi, dan sialnya ikhlas itu lama banget datangnya ke diri saya sehingga bertahun-tahun saya menjadi orang yang jarang memberi.

Nasehat simpel datang dari teman saya untuk menyadarkan; “kalau kamu mau jualanmu laris kasihkan saja receh-recehanmu itu buat mereka yang minta-minta itu, jangan kasihkan yang besar tapi cuma kepada satu orang saja karena menurutmu layak diberi tapi bagikan secara menyeluruh walaupun nominalnya kecil, terserahlah mau diapakan mereka dan apapun latarbelakang mereka itu urusan mereka dengan Tuhannya, kita cuma berusaha untuk membiasakan diri memberi karena hak orang yang telah memberi adalah menerima percaya deh’.

Dengan motivasi agar bisnis saya semakin meningkat saya ikutin saran teman itu. Emang sih efeknya tidak langsung terlihat tapi saya merasakan perubahan signifikan didalam diri saya pribadi diluar motivasi dagang tadi. Saya merasakan “kecanduan” untuk memberi kepada siapapun, ada seperti perasaan bahagia atau entah apapun itu namanya untuk terus berbagi dan memberi kalau sehari saja tidak ada pengamen atau pengemis yang datang meminta-minta atau ketika saya tidak ada uang untuk diberikan saya seperti merasa sedih atau seperti ada yang hilang . Ya, akhirnya saya turut merasakan apa yang sudah mereka-mereka lakukan untuk memperoleh kebahagiaan walaupu mungkin saya belum seektrim dan seikhlas mereka dalam memberi tetapi setidaknya saya berharap ‘kecanduan’ ini tidak luntur dan terus meningkat dan pada akhirnya mampu ikhlas lillahita’ala Amien. Sesungguhnya orang senang memberi akan senantiasa disenangi Tuhan dan Manusia, apalagi yang kurang dalam hidup ini jika kita telah disayang oleh Khalik dan Makhluknya, bener gak?

SEDEKAH MEMANG AJAIB ^_^

SEDEKAH MEMANG AJAIB ^_^

Ini pengalaman pribadi,bukan sulap bukan sihir... ;p

Kekuatan sedekah memang ajaib & benar adanya. Boleh percaya boleh engga,tp hrs percaya....*Maksa MODE ON* hahahaaa ^_~
Klo jualan......Siapa siy yg ga mau untunggg teruuusss, smua orang jg mau khan???
tp, klo jualan yg dipikirin cuma untungnya doank...menurut saya siy sama juga boonk (menurut saya loh...mo protes silahkan... hehe), Pernah denger pepatah ini ga?? " Semakin banyak kita memberi,semakin banyak pula kita menerima"/ " Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.

Nah, Klo jualan, tp kita ga pernah menyisihkan keuntungan u/ bersedekah, sama juga Boonk khan. Hasil yg kita terima juga ga akan membawa berkah. Mungkin menurut kita,membawa berkah u/ diri kita sendiri, tp.... u/ orang lainnya mana???

Maka dari itu sejak awal rencana jualan ol ini,sy udh niatkan klo keuntungan yg sy trima ga sy ambil u/ keuntungan diri sendiri. Tp akan sy sumbangkan jg bagi orng yg memerlukan. Berapapun yg kita berikan, pasti akan dibalas setimpal. Jd,bukan masalah jumlah,tp niat tulus kita u/ membantu orang lain yg mungkin tdk seberuntung kita.
Lahhhhh..ko' jd ceramah yakss..... ;p

Crita singkatnya: saya kemaren sore transf sejumlah uang (yg jumlahnya ga begitu bnyk siy...) ke mba dayana u/ pembelian Ticket Wheel Chair Charity Program untuk penderita polio. Eh...mlmnya sekitar jam 8 nan, bunda velaachmad pesen t-shirt u/ anaknya tercinta & belinya lumayan bnyk,kirain sy u/ dijual lagi,eh ternyata u/ anaknya yg umur 4thn (memang bunda yg baikkk,Mudah2 anaknya suka yh bun .... ^_^ ). Jd nya uang yg sy sumbangkan td sore, dengan sekejab tergantikan..... Ck...ck..... Subhanallah... Allah emang ga pernah Boonk...

Jadi jangan ragu dan takut rugi untuk bersedekah yah teman2 tercinta!!!
semakin banyak kita memberi semakin banyak kita menerima...

Selamat Bersedekah!! ^_^

Nb: Muup loh.. ga ada maksud riya,cuman pengen sharing aja ^_^

by.DistroLemariAnak (Sagita)

Sedekah Singkong Buntut

Sedekah Singkong Buntut

Sekitar tahun 1980,seorang pedagang gorengan di Jakarta, selama tiga hari berturut-turut melihat seorang bocah laki-laki lusuh berlalu lalang dengan wajah sedih di depan gerobag dagangannya. Ia tahu, anak itu menginginkan satu dua potong gorengannya secara gratis. Karena tidak berani meminta, ia hanya memandang gerobag gorengan itu dari kejauhan.Pada hari keempat, pedagang gorengan itu menyisakan sepotong singkong goreng buntut yang biasanya tidak laku dijual. Dipanggilnya bocah itu sambil mengacung-acungkan singkong kecil itu.
Tak menunggu lama, si bocah langsung berlari menyambar singkong itu sambil berucap, “Terima kasih, Bang.”Matanya berbinar, senyumnya terkembang.Dua puluh empat tahun kemudian, tukang gorengan itu masih berjualan di tempat yang sama. Suatu hari sebuah mobil mewah berhenti di depan gerobagnya yang parkir di tengah perkampungan kumuh. Penumpangnya, seorang pria muda berpenampilan mewah, menghampiri pedagang gorengan itu. Ketika berhadapan, si pedagang gorengan seperti tidak peduli. Tapi ia bingung ketika si pemuda perlente itu mendadak berucap,”Bang. ada singkong buntut?” Kagak ada, Mas ! singkong buntut mah dibuang. kenapa tidak beli yang lain saja? nih, ada pisang sama singkong goreng,” ujar si pedagang gorengan itu.

”Saya kangen singkong buntutnya, Bang, Dulu Abang khan yang pernah memberi saya singkong goreng buntut,” Dulu, ketika saya masih kecil, dan ayah saya baru saja wafat, tidak ada yang membiayai hidup saya. Teman-teman mengejek karena saya tidak bisa jajan. Selama empat hari saya berlalu-lalang di depan gerobag Abang ini, sampai Abang memanggil saya dan memberi sepotong singkong goreng buntut yang langsung saya sambar,” tuturnya.Si pedagang gorengan terperangah. Dia tidak mengira sepotong singkong buntut, yang biasanya dibuang bisa membuat pemuda itu mendatangi dengan keadaan yang benar-benar berbeda. Si pedagang akhirnya ingat wajah yang pernah dikenalnya 24 tahun silam.

“Yang saya beri dulu khan cuma singkong buntut. Kenapa kamu masih ingat sama saya?” tanya pedagang itu penasaran.”Abang tidak sekedar memberi saya singkong buntut, tapi juga kebahagiaan,” papar si pemuda itu. Dia lalu bercerita bahwa sesaat setelah menyambar singkong itu dia langsung memamerkan kepada teman-temannya. Ia ingin membuktikan bahwa dia masih bisa jajan. Sesuatu yang dianggap remeh, tapi baginya itu membuatnya sangat bahagia, sehingga dia berjanji suatu saat akan membalas budi baik pedagang gorengan itu.”Saya mungkin tidak bisa membalas budi baik Abang. Tapi, saya ingin memberangkatkan Abang berhaji, semoga Abang bahagia,” ujar si pemuda itu.

Pedagang gorengan itu hampir-hampir tidak percaya. dua puluh empat tahun silam ia telah membahagiakan seorang anak yatim. maka Alloh pun membalas amal shalihnya itu. Subhanalloh………

Sedekah Rumah Tinggal

Sedekah Rumah Tinggal

Kisah ini terjadi dan dialami oleh seseorang yang bernama Mahmud, awalnya dia membeli rumah RSS (Ruma Sangat Sederhana) seluas 92 meter persegi. Setelah penyerahan kunci dari pengembangnya dia ingin segera menempatinya. Akan tetapi kamar tidur hanya satu ruang. Sedangkan anak-anaknya sudah besar dan lebih dari dua.Karena kondisi demikian, dia harus bersabar. Dia mengumpulkan dana untuk membangun tanah yang tersisa sekedar untuk tambahan ruangan kamar.
Dengan gaji yang pas-pasan dan juga harus membayar cicilan rumah di bank, keinginan itu hanya sebatas rencana.Setiap kali Mahmud menengok rumah RSSnya, hatinya menjadi risau. Dia melihat rumah tetangga kiri dan kanannya sudah mulai ditempati dan sudah terlihat anak-anak kecil ramai bermain dijalanan perumahan. Pada saat-saat risau hatinya itu, tiba-tiba ada seorang yang datang menyapa.”Kapan mau ditempati Pak?”"Entahlah. Menunggu setelah saya menambah ruangan di tanah yang masih tersisa. Kebetulan anak saya banyak, Pak” Jawab Mahmud.Orang itu yang tidak lain adalah seorang guru, berkata lagi.”Jika memang masih lama Bapak Menempatinya sebaiknya dimanfaatkan saja pak.”"Dimanfaatkan untuk apa?” Tanya Mahmud.”Dikontrakkan saja.

Saya juga mau kok untuk menyewannya.”"Bukankah Bapak sudah punya rumah, lagi pula untuk Pak?”Orang tersebut kemudian menceritakan keinginannya menyewa rumah Mahmud. Tujuannya untuk menampung anak-anak di sekitar perumahan untuk di ajari mengaji.Mendengar uraian tersebut, dengan senang hati Mahmud menyetujui. Bahkan untuk keperluan itu tidak perlu disewa. “Dipakai saja Pak Guru. Tidak perlu disewa. Tapi jika nanti saya punya dana untuk merenovasi dan saya tempati, tentunya anak-anak harus dcarikan tempat lain.”Akhirnya rumah Mahmud itu dipakai untuk kegiatan mengaji. Bahkan untuk shalat berjamaah warga disekitar tempat itu. Suatu ketika Mahmud menyambangi rumahnya kembali.

Ia bertemu dengan beberapa orang, para guru ngaji. Dia berkata.”Doakan saya dapat membeli rumah Pak. Insya Alloh rumah ini nantinya akan saya sedekahkan untuk keperluan mengaji dan musholla.” Ujar Mahmud.Rupanya ucapan itu dikabulkan oleh Alloh SWT. Dalam waktu tiga bulan, mahmud mampu membeli rumah di tempat lain yang ukurannya dua kali rumah RSS dan lebih mewah. Dia kemudia mendatangi para guru dan seketika itu juga dia mewakafkan rumah RSSnya.Orang-orang disekitar rumahnya kemudia membentuk takmir musholla. Dari tahun ke tahun kapling di kanan dan kiri musholla berhasil dibeli pengurus Musholla dan sekarang musholla tersebut sudah menjadi masjid yang berdiri megah.

Takmir di masjid sepakat untuk memberi nama mesjid itu dengan nama Baitul Mahmud.Kondisi perekonomian Mahmud semakin maju, Dia semakin kaya, Akan-anaknya sukses menjalani karir di tempat kerjanya, Anak pertama menjadi pejabat penting di Amerika Serikat.

Sekelumit kisah sedekah yang dilakukan Mahmud, orang sederhana yang mempunyai hati bersih dan berani mengambil keputusan yang tepat yaitu mengikhlaskan rumahnya sebagai tempat beramal dan jarang sekali orang yang sedang susah berani mengamil keputusan seperti itu.

Subhanalloh…………..

Sedekah Segelas Susu

Segelas Susu

Segelas susu yang pernah diberikan seorang Ibu muda puluhan tahun yang lalu, dikemudian hari menyelamatkan jiwanya., dimudahkan kesulitannya. Suatu pemberian yang tulus kepada seseorang yang dalam kesulitan.
Seorang anak muda yang sangat miskin bekerja sebagai wiraniaga untuk membiayai biaya kuliahnya. Pada suatu hari, dia sangat bingung karena disakunya dia hanya mengantongi uang sepuluh sen saja, padahal pada saat itu dia sangat kelaparan.
Kemudian, dia memberanikan dirinya untuk meminta makanan pada tetangganya, tapi ia gugup katika seorang nyonya perlente membuka pintu. Akhirnya dia tidak jadi minta makanan tapi hanya minta segelas air saja. Perempuan tersebut merasa bahwa anak muda didepannya sedang berada dalam kesusahan. Maka dia berikan kepadanya segelas susu yang kemudian dia minum dengan perlahan-lahan.

Selang beberapa saat, si anak muda bertanya,"berapa,", "oh, anda tidak perlu bayar apapun?" kata perempuan itu, "Ibuku mengajarkan kepadaku untuk tidak menerima apapun dari perbuatan baik." Kalau begitu saya ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya." ucapnya.
Bertahun-tahun kemudian, nyonya yang baik hati itu jatuh sakit. Para dokter tidak tahu persis apa penyakit yang dideritanya. Lalu dia dikirim ke rumah sakit dan diserakan kepada anak muda dulu yang kini sudah menjadi dokter. Ketika dia mendengar nama kota asal pasienya, matanya bersinar dan mulai menduga-duga siapakah dia?. Dia mulai merawatnya dan segera mengenal si nyonya. Diapun terus berupaya keras untuk menyelamatkan nyawanya. dan akhirnya, setelah melewati perjuangan yang berat, perempuan itupun sembuh. Dokter itu meminta administrasi rumah sakit untuk menyampaikan kepadanya tagihan yang perlu dia setujui. Setelah menyelesaikan tagihan tersebut dan menandatanganinya, selanjutnya dia kirimkan kembali kepada pasienya.

Perempuan itupun tahu bahwa dia harus membayar tagihan tersebut selama sisa usianya. Walaupun bahagia karena telah disembuhkan, dia juga memendam kekhawatiran akan biaya pembayaran yang pastinya sangat mahal dan takut tidak bisa membayarnya. Dengan hati dag-dig-dug, diapun membuka amplop tersbut. Namun, tiba-tiba dia sungguh terkejut ketika membuka tulisan diatas surat tagihan itu ." Tagihan ini sudah dibayar bertahun-tahun yang lalu dengan segelas susu,,,, Dari dr "Howard." Perempuan itupun menangis,,tangisan kebahagiaan yang terus membasahi mukanya.

Dia bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada dokter itu akan balasan kebaikanya.Dia tidak tahu makna kata segelas susu yang tertera di dalam secarik kertas dalam amplop. Setelah mulai sembuh benar, perempuan tadi mencoba mencari nama dr Howard, dan akhirnya dr Howard menceritakan makna kata 'segelas susu' tadi. Dengan tercenung perempuan itu akhirnya mencoba mengingat kembali kejadian berpuluh tahun yang lalu, rupanya petuah ibundanya dulu yaitu kata-kata "Ibuku mengajarkan kepadaku untuk tidak menerima apapun dari perbuatan baik." makna yang sangat dalam dari segelas susu.

Subhanalloh....